PURBALINGGA, SATELITPOST-Desa Cipaku Kecamatan Mrebet ditetapkan sebagai Kampung Cagar Budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga. Desa ini tercatat memiliki banyak cagar budaya yang masih lestari.

Kepala Seksi Cagar Budaya, Museum dan Kesejarahan Dindikbud Purbalingga, Rien Anggraeni mengatakan, jika menilik sejarah Kabupaten Purbalingga, cerita tentang Desa Cipaku memang tidak banyak memiliki kedekatan dibanding Desa Onje yang menjadi cikal bakal Kabupaten Purbalingga.

Namun, Desa Onje justru tersisih dari penyematan Kampung Cagar Budaya. Sebab,‎ penyematan Kampung Cagar Budaya lebih dititikberatkan pada seberapa banyak benda-benda peninggalan sejarah yang ada.

“Desa Cipaku punya potensi wisata cagar budaya, mengingat benda atau situs yang ada jumlahnya lebih banyak dan lebih representatif daripada desa-desa lain,” katanya, Senin (1/5).

Terhitung ada sembilan benda dan situs cagar budaya yang ada di desa Cipaku. Beberapa di antaranya seperti Lingga-Yoni dan Watu Lumpang di Dusun Bata Putih, Petirtaan Bolang Irit, seperti Situs Batu Tulis. Desa ini juga secara mandiri memiliki museum, yakni Museum Lokastithi Giribadra yang menyimpan aneka benda cagar budaya maupun replika.

“Tujuan Kampung Cagar Budaya ini ke depan agar semakin mengenalkan Desa Cipaku sebagai wisata edukasi. Paradigma baru dari UU No 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya juga tidak hanya menempatkan cagar budaya dengan pemerintah sebagai pengelolanya, akan tetapi juga menempatkan masyarakat, swasta, akademisi atau LSM sebagai pengelola dan pengambil manfaat,” katanya.

Lebih lanjut Rien mengatakan, Dindikbud Purbalingga akan mewujudkan Kampung Cagar Budaya ini secara bertahap. Pemerintah daerah bakal membangun infrastruktur untuk mendukung akses ke setiap benda cagar budaya.‎ Pada tahun 2017 ini, sudah dianggarkan  sebesar Rp 150 juta untuk pembenahan infrastruktur dengan titik prioritas yang perlu digarap adalah kompleks taman Museum Lokastithi Giribadra dan Situs Batu Tulis, yakni pengerasan jalan setapak.

“Sengaja kami prioritaskan museum, karena paling sering dikunjungi siswa. Juru pelihara juga akan kami tambah lagi dan plang nama museum juga perlu diganti dengan yang lebih besar agar semakin meyakinkan masyarakat, bahwa ini adalah museum,” ujarnya.

Sementara Kepala Desa Cipaku, Sugino mengungkapkan, bahwa konsep Kampung Cagar Budaya memang sebelumnya sudah ia nantikan. Sejauh ini tidak ada kendala yang berarti mengenai aset lahan situs cagar budaya, karena hampir semuanya masuk lahan milik pemerintah desa. Adapun Museum Lokastithi Giribadra sendiri merupakan milik perseorangan, namun telah diserahkan sepenuhnya untuk kepentingan positif masyarakat.

“Selain kampung cagar budaya, desa kami juga punya potensi sebagai desa wisata mengingat ada beberapa curug yang masih alami,” katanya.

Untuk mendukung kampung cagar budaya, pihaknya akan menyiapkan SDM sebagai pengelola. Ia juga meminta pemerintah daerah untuk membantu terkait uraian penjelasan sejarah masing-masing banda cagar budaya yang ada di kampung tersebut. (rar)

Komentar

komentar