Prestasi Benediktus Benny, Warga Purwokerto yang Sabet Juara Dunia Kompetisi Tato

Warga Purwokerto kembali mengharumkan nama di kancah dunia. Benny terpilih menjadi juara 1 top score kompetisi tato internasional di Sabah, Malaysia, November lalu.

Hasil memang tak pernah mengkhianati proses, konsisten mengedepankan kualitas semakin mantapkan Benny menjadi pekerja seni tato profesional. “Juara 1 top score di Sabah, Malaysia. Pesertanya ada 50-an orang dari lintas negara. Dari Indonesia ada berasal dari Bali, Jakarta, dan Purwokerto,” kata Benediktus Benny, pemilik studio tatto BB Ink Tattoo di Kebondalem, Purwokerto ketika dihubungi SatelitPost, Rabu (6/12).

Ada tiga kategori juara, pertama adalah best of the best, kemudian favorit, dan selanjutnya top score. Penilaian tato yang dikompetisikan melihat kualitas desain, detail, penempatan gambar pada tubuh dan pewernaan. Kompetisi diselenggarakan di mall Palm Square Centre Point, Sabah, Malaysia pada 19 November 2017.

“Penempatan gambar di tubuh ini penting, semisal membuat gambar keci di paha, dan gambar tidak sesuai karakternya. Itu malah merusak bidang namanya,” kata dia.

Ia mengatakan, sudah 7 tahun menggeluti dunia seni tato. Berbeda dengan kebanyakan ahli tato komersial, Benny memilih serius memperbanyak portofolio karya dibandingkan mengejar omzet pendapatan. Meskipun pada akhirnya, portofolio karya akan berdampak pada besaran harga karya tato.

“Memang saya fokus memperbanyak dan memperkuat portofolio. Konsekuensinya harus menjaga kualitas dan terus menerus meningkatkan kemampuan, menambah wawasan,” kata dia.

Ia mengatakan, mengikuti kompetisi tingkat internasional merupakan cara agar Benny terpicu meningkatkan kemampuannya dalam membuat tato. Sejumlah standar kedisiplinan ia ikuti, seperti orisinalitas tinta dan alat serta waktu yang panjang dalam membuat satu tato saja.

“Order dari luar negeri banyak, memang pelanggannya kebanyakan dari luar Indonesia. Pelanggan dari luar itu sabar, mereka rela berhari-hari hanya untuk membuat satu tato. Jelas honornya lumayan,” kata dia

Di internasional, kualitas alat dan bahan menjadi standar utama. Alat tiruan, kata Benny, yang biasanya di produksi di Cina sering mengakibatkan kualitas tato menjadi buruk, termasuk juga kualitas tintanya. Warna dan detail serta aplikasi di tubuh membuat kualitas tato tidak maksimal.

“Kalau alat dan bahannya kualitasnya jelek, di tubuh gambar tidak halus. Karena ada bengkak, meski sedikit itu membuat tubuh malah jadi timbul,” kata dia. (kim)

Komentar

komentar

BAGIKAN