PERAJIN menunjukan wayang suket didesa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. SATELITPOST/CR

KONON wayang suket buatan Mbah Gepuk adalah wayang khas Purbalingga. Ia tidak serupa dengan wayang rumput yang sering dibuat dan dimainkan anak-anak pada zaman dahulu. Wayang suket buatan almarhum Mbah Gepuk bentuknya persis wayang pada umumnya. Hanya saja setiap lekuk bagian tubuh wayang dibentuk melalui rajutan rumput yang dikeringkan. Rajutan itu dirajut dengan sangat detail.

 

Mbah Gepuk dikenal banyak orang ketika seorang wartawan Kompas melihatnya berjualan wayang berkeliling di sekitar Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga. Wartawan itu menulis kisah Mbah Gepuk dan wayang suketnya.

 

Karena keunikannya, pada tahun 1995 Mbah Gepuk diberi kesempatan untuk pameran wayang suket miliknya di Bentara Budaya Yogyakarta. Dari sana, nama Mbah Gepuk semakin dikenal dan banyak orang yang tertarik dengan wayang suket karya Mbah Gepuk.

 

Tahun 1997, Mbah Gepuk meninggal. Beruntung, cucu Mbah Gepuk yang bernama Bodrianto sempat mempelajari dan mengikuti apa yang kakeknya itu lakukan. Ketika kelas 2 Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP), Bodrianto megikuti apa yang kakeknya lakukan saat menganyam rumput-rumput.

 

Ia melakukan itu atas dasar ingin mengikuti apa yang kakeknya lakukan saja, tidak ada maksud lain. “Waktu mbah bikin wayang, saya lihat dan mengikuti,” kata Bodrianto.

 

Ketika sudah menjadi wayang, Bodrianto baru meminta pendapat kakeknya. Selepas Mbah Gepuk berpulang, Bodrianto mengulik sendiri motif dan tekhnik membuat wayang. Karena ketika kakeknya meninggal, ia belum menguasai banyak motif dan tekhnik dalam membuat wayang suket.

 

Selain Bodrianto, sekitar tahun 90-an, tidak jauh dari kediaman Mbah Gepuk di Desa Bantarbarang, diam-diam ada seorang anak lelaki yang memperhatikan karya mbah Gepuk. Ia pikir, wayang buatan Mbah Gepuk begitu menarik.

 

Ia adalah Ikhsanudin yang lebih dikenal sebagai Ikhsan Yoso oleh orang-orang di sekitarnya. Ikhsan ingin memiliki wayang itu, namun ikhsan kecil tidak memiliki uang untuk membelinya. “Waktu itu harganya Rp 15 ribu,” katanya.

 

Pada tahun 90-an, harga itu cukup tinggi. “Daripada beli, aku kayaknya bisa buat,” kata Ikhsan mengenang apa yang ia pikirkan dulu. Ikhsan mulai mendapat kesempatan belajar membuat wayang suket seperti yang Mbah Gepuk buat setelah mendapatkan buku pameran Mbah Gepuk yang diterbitkan atas kerja sama Karta Pustaka dan Bentara Budaya Yogyakarta.

 

Ikhsan bilang, sepulang pameran dari Yogyakarta, buku pameran Mbah Gepuk dibagi-bagikan ke banyak orang di Desa Bantarbarang. “Saya dapat buku ini. Saya belajar motifnya dari (foto-foto) di sini,” kata Ikhsan.

 

Padahal, di dalam buku itu tidak ada cara membuat wayang suket. Ikhsan benar-benar mempelajarinya dari foto yang ada di dalam buku itu dan ia kembangkan sendiri.

 

Ikhsan pernah mengunggah karyanya itu ke Facebook. Dari sana, ia berkenalan dengan Geoffrey Cormier, seorang puppeteer (dalang) di South Carolina, Amerika Serikat. Geoffrey tertarik dengan wayang buatan Ikhsan karena Geoffrey belum pernah melihat wayang yang dibuat dengan rumput dengan sangat detail seperti itu.

 

Beberapa kali Ikhsan diminta untuk mengirimkan wayang buatannya itu ke Amerika oleh Geoffrey. Akhirnya, karena benar-benar penasaran, pada tahun 2013 Geoffrey datang ke Desa Bantarbarang ke rumah Ikhsan untuk melihat proses pembuatannya. Ikhsan mengajak Geoffrey napak tilas ke rumah Mbah Gepuk dan juga berkunjung ke Bodrianto, cucu Mbah Gepuk yang juga seniman pembuat wayang suket.

 

Saat ini, sepengetahuan Ikhsan dan Bodrianto, hanya mereka berdua yang masih menekuni pembuatan wayang suket. Atas dasar itu, mereka punya harapan masing-masing. “Harapannya saya bisa punya pameran dan galeri sendiri,” kata Bodrianto. Ia ingin karyanya terkoleksi dengan baik di galerinya sebagai sumber sejarah wayang suket.

 

Jika Ikhsan, ia memang berharap ada dalang yang mau memainkan wayang suket dan dipertunjukkan. Karena, setelah Mbah Gepuk meninggal tidak ada yang pernah mementaskannya lagi. Karena Ikhsan tidak mengerti seni pementasan wayang, yang ia bisa lakukan adalah terus fokus membuat wayang suket. “Sebagai pembuat, saya berharap diri saya bisa bikin terus wayang suket,” katanya. (cr)

 

Komentar

komentar

LEAVE A REPLY