PERAJIN menunjukankerajinan dari anyaman bambu buatannya di Desa Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Rabu (3/5). SATELITPOST/ALFIATIN

Di bawah terik matahari di Desa Klapasawit, Kalimanah, Purbalingga, Rabu (3/5) siang. Arif Purnomo (44) atau yang akrab disapa Ipung duduk di atas dingklik mungilnya sembari menyelesaikan nampan dari bambu di halaman rumahnya.

 

Canda anak-anak dan beberapa ayam yang mondar mandir di depannya, menjadi hiburan tersendiri untuk Ipung yang bekerja hanya seorang diri. Dengam telaten, ia bentuk dan susun bambu dengan tangannya hingga menjadi beberapa barang kebutuhan rumah tangga. Seperti nampan, tatakan gelas, box koran, vas bunga dan lainnya.

 

Ipung mengaku mulai menekuni dunia kerajinan bambu sejak tahun 2007 silam. Bermula dari kerja sama dengan satu temannya, menjadi pengepul kerajinan bambu. Ia mengumpulkan beberapa pengrajin bambu di Kota Perwira. Ia kumpulkan berbagai kerajinan dari para pengrajin. Sesekali, ia desain beberapa bentuk kerajinan yang belum pernah dibuat.

“Saya gambar bentuknya, kaya kendi, dan lainnya. Nanti saya minta pengrajin coba membuatnya, dan ternyata bisa,” kata Ipung sembari terus merapikan anyaman bambunya.

Ia dan temannya menjadi pengepul dan marketing. Mencari tempat-tempat yang bisa menerima kerajinan bambu buatan pengrajin asal Purbalingga itu. Tidak tanggung-tanggung, kerja keras Ipung, membuahkam hasil, kerajinan bambunya masuk ke perusahaan-perusahaan dari luar daerah, seperti Yogyakarta. Bahkan, dulu Yogyakarta menjadi tempat paling banyak menerima kerajinannya.

 

Hingga saat terjadi gempa di Yogyakarta beberapa tahun silam, kerajinan bambu mulai lesu, tidak ada permintaan lagi dari Yogyakarta. “Mungkin karena wisatawan sudah mulai berkurang sejak kejadian itu,” kata dia.

 

Kerajinannya dulu bukan hanya konsumsi daerah di Jawa saja, tapi sudah sampai ke Eropa. Dari jaringan yang dibuat rekannya, kerajinannya akhirnya sampai di negeri Eropa. Bahkan, seorang dari Jepang sempat meminta produknya dikirim ke negeri Matahari Terbit itu.

 

Namun, permintaan tersebut, terpaksa gagal, lagi-lagi karena SDM yang masih terbatas. Seorang dari Jepang meminta kerajinan sebanyak satu kontainer, sekitar 5 ribu set (satu set isi 4, red) dalam waktu satu bulan. Keterbatasan jumlah SDM, membuat Ipung merelakan permintaan tersebut tidak terealisasi.

 

“Satu kontainer dalam waktu sebulan itu susah. Tenaga masih belum mampu, karena kita masih manual memakai tangan yang hanya ada beberapa pengrajin. Padahal kalau permintaan dari Jepang, mereka suka yang masih alami, jadi cuma sampai pengamplasan saja, proses lebih cepat. Tapi tenaga belum mampu,” katanya.

 

Seiring berjalannya waktu, permintaan akan kerajinan bambunya mulai berkurang. Pengrajin yang awalnya mengepul barangnya di tempat Ipung. Mulai berhenti, dan memilih bekerja sendiri-sendiri. “Kebanyakan nggak sabar, pinginnya kerja langsung, nggak mau menunggu. Padahal kalau kaya ini kan menunggu pesanan,” kata ayah dua anak ini.

 

Pengrajin mulai meninggalkannya, tapi justru membuat Ipung tertarik mendalami dunia kerajinan itu. Mungkin, bakat seni sudah mengalir dalam darahnya. Tanpa belajar lama, ia bisa menghasilkan karya sempurna. Kerajinan bambu nan eksotis, dengan warna kecoklatan khasnya. Warna yang berasal dari cat hitam yang diamplas hingga berubah warna nan menarik.

 

Kini, ia hanya mengerjakan kerajinannya seorang diri di rumahnya. Ia tidak lagi menyisir perusahaan besar di luar Purbalingga. “Sekarang main di lokal saja, lebih nyaman. Karena sistemnya ada barang ada uang. Kalau vas bunga ya di toko bunga, masih daerah Barlingmascakeb, karena tenaga juga,” katanya.

 

Ia mengungkapkan, penghasilannya dari kerajinan bambu dulu sangat besar,berbeda dengan sekarang. Dulu, setiap dua pekan sekali ia mengirim barang sebanyak satu truk. Sementara sekarang, ia hanya bisa membuat sekitar 10 pcs per item setiap pekannya.

 

Persaingan akan barang sejenis dari plastik menurutnya juga turut menjadi pemicu menurunnya permintaan. Pasalnya, barang sejenis dari plastik harganya bisa setengah harga. “Kalau vas bunga Rp 35 ribu, nampan anyaman Rp 45 ribu. Sementara yang dari plastik bisa setengahnya. Mungkin banyak yang cari lebih murah,” kata dia. (alfi)

 

 

Komentar

komentar