PETUGAS dari Dinas Kesehatan Purbalingga menguji sampel makanan yang beredar bebas di pasar, beberapa waktu lalu. Petugas menemukan makanan berformalin di Pasar Bantarbarang dan Kutawis. HUMAS PEMKAB

PURBALINGGA, SATELITPOST-Dari hasil pemantauan pengawasan makanan di pasar Bantarbarang Kecamatan Rembang dan pasar Kutawis Kecamatan Bukateja, petugas menemukan peredaran makanan berformalin dan boraks semakin marak. Dari sembilan sampel di pasar Bantarbarang terdapat lima sampel yang dinyatakan positif mengandung formalin.

 

Kemudian untuk pasar Kutawis dari 17 sampel terdapat lima yang positif mengandung formalin. Lima sampel yang positif mengandung formalin antara lain pada makanan baso super, otak-otak, empek-empek, ikan bandeng segar dan ikan teri. Sementara dua sampel yang positif menggunakan zat pewarna tekstil terdapat pada kerupuk canthir.

 

Satu di antara​ penguji makanan, Samsul Arifin, mengatakan makanan berformalin bisa dilihat secara kasat mata, yakni apabila makanan basah seperti baso, mi basah, atau otak-otak ditekan akan terasa sangat kenyal. Kemudian untuk makanan yang mengandung boraks bisa dengan tusuk gigi yang telah di lumuri  kunyit, kemudian di jemur sampai kering.

 

“Pakai tusuk gigi untuk menusuk makan yang mengandung formalin, kemudian didiamkan beberapa detik sampai basah. Setelah itu dicabut, jika ada perubahan warna kuning kecoklatan maka bahan makanan tersebut mengandung boraks,” katanya.

 

Kemudian secara visual lanjut Samsul juga bisa dilihat dengan melihat kerumunan lalat. Apabila makanan basah seperti daging, ayam tidak di kerumunan lalat maka perlu dicurigai makanan tersebut bisa mengandung boraks atau formalin atau bahan pengawet lainnya. “Kalau sudah ada tanda-tanda tersebut diharapkan masyarakat untuk tidak membelinya​,” katanya.

 

Samsul juga mengatakan pencucian khususnya menggunakan dengan air panas tidak menghilangkan formalin atau boraks, karena keduanya bersifat sistemik, yakni menyatu ke dalam makanan. Selain itu untuk mengecek kandungan formalin, borax dan zat pewarna makanan bisa juga menggunakan alat pendeteksi uang yakni dengan lampu ultraviolet. Caranya sama dengan mengetes uang, yakni dengan mendekatkan makanan​ ke lampu maka akan terlihat warnanya menyala. “Sekarang malah ada modus baru, yakni boraks dicampur di kuah bakso atau mi sehingga makanan akan kenyal,” katanya.

 

Seorang pedagang pasar Kutawis, Yati (42) warga Desa Kutawis mengatakan makanan seperti otak-otak dibeli dari Pasar Segamas di blok E dan F. Yati mengaku makanan yang dijualnya tidak mengandung formalin dikarenakan sudah dikemas dalam kemasan plastik dan telah berlabel dari dari Dinkes dan sudah ada nomor P.IRT.

 

Setelah mengetahui mengandung formalin, Yati mengaku tidak akan menjualnya karena sadar akan membahayakan para pembeli. “Barang nanti akan dikembalikan dan biasanya diganti dengan uang oleh agennya,” ujar dia. (cr)

 

Komentar

komentar