TULISAN peringatan menggunakan cat semprot di keramik trotoar Jalan MT Haryono Purbalingga karena licin, Selasa (28/11).SATELITPOST/AMIN WAHYUDI

PURBALINGGA, SATELITPOST-Pemerintah merupakan pemegang kunci kebijakan yang menentukan maju atau mundurnya sebuah daerah. Namun, tak jarang pemerintah kabupaten di bawah pimpinan bupati masing-masing gagal menjalankan fungsi sebagai eksekutor yang baik.

Apa yang terjadi di Purbalingga dapat dijadikan contoh. Pemkab belakangan mengambil tindakan yang memicu protes warga. Padahal, kebijakan tersebut terbilang sangat sepele, yakni terkait pemilihan material bangunan untuk trotoar di Jl MT Haryono dan Jl Jenderal Soedirman.

Pemerintah setempat memiliki keinginan untuk mempercantik kota. Jadi, mereka memilih untuk menggunakan keramik sebagai material pelapis trotoar. Namun, pemilihan material ini malah membuat jalur yang sejatinya digunakan oleh pejalan kaki tersebut gagal fungsi.

Warga bahkan memprotes keras pemilihan material ini. Sebab, keramik di trotoar membuat jalur tersebut licin dan sering membuat penggunanya terpeleset. Saking kesalnya dengan keputusan pemerintah tersebut, sejumlah warga mengambil tindakan yang frontal.

Ada beberapa pihak yang belum diketahui identitasnya memilih untuk membubuhi trotoar cantik tersebut dengan tulisan peringatan ‘Awas Lunyu’. Tulisan ini tersebar di beberapa titik di sepanjang bilangan protokol MT Haryono.

Seorang pedagang di salah satu kawasan tersebut, Sugeng (53) mengakui, keramik licin membuat banyak orang terjatuh. Tak hanya sekali ia menyaksikan kejadian miris yang mengarah ke lucu tersebut. Parahnya, trotoar tersebut licin dalam semua kondisi cuaca, baik saat basah karena hujan atau tengah kering terpanggang matahari.

“Pernah (lihat orang terpeleset, red), tidak satu dua kali, sering. Tidak hanya di bagian yang miring, pada yang rata juga licin, lha ini keramik halus,” ujarnya, kemarin.

Pada trotoar tersebut memang tidak hanya dipasang keramik halus berwarna merah. Ada satu ruas garis yang dipasang keramik warna kuning, dengan tekstur kasar. Hanya saja, itu tidak menjadikan trotoar aman. Padahal di kawasan tersebut, termasuk ramai dilalui orang. Karena di dekat sekolah, baik SD maupun SMA.

“Yang paling mengkhawatirkan kalau yang kepleset itu ibu hamil,” kata Sici (35), warga setempat.

Menurut Sugeng, kondisi trotoar yang dulu sebenarnya belum terlalu rusak. Jika dibersihkan, atau di cat ulang masih sangat pantas, baik tampilannya maupun manfaatnya. “Yang dulu sebenarnya juga belum rusak banget, tapi nggak tahu, malah diganti kaya gini,” ujar Sugeng.

Licinnya trotoar yang baru sebenarnya sudah mendapatkan protes sejak lama dari masyarakat. Awalnya, hanya protes dan disusul tulisan ‘hati-hati’ dalam ukuran kecil. Kekesalan masyarakat memuncak, sehingga mereka kembali mencorat-coret trotoar menggunakan cat semprot dengan ukuran yang lebih besar.

Setidaknya, ada sekitar lima titik sepanjang jalan Jensoed yang terdapat tulisan ‘Awas Lunyu‘ dan ‘Ati2 Lunyu’. (aminbellet@gmail.com)

Pasang Karet Ban

Selain dicoret-coret, sejumlah pengelola rumah makan dan toko di wilayah tersebut juga memperingatkan pelanggannya dengan cara berbeda-beda. Terakhir, sebuah rumah makan di wilayah tersebut memasang karet ban.

Pemasangan tersebut dilakukan agar trotoar di halaman tokonya tak licin dan membuat orang terpeleset. Hal ini dilakukan karena sudah ada beberapa pelanggan yang terpeleset di trotoar tersebut.

“Biar nggak licin, karena sudah sering terjadi orang atau sepeda motor terpeleset. Ini pagi dipasang, malam dicopot, tidak dipasang paku karena takut merusak trotoar,” ujar seorang pria muda yang enggan menyebutkan namanya ini.(Amin Wahyudi)

Jadi Bulan-bulanan di Sosmed

Trotoar licin ini sebenarnya sudah menjadi perkara panjang. Bahkan, pemilihan material trotoar ini sudah menjadi hujatan viral di media sosial.

Ahza Alkhalifi melaporkan pejalan kaki terpeleset di sebelah Bank BTPN, Jl MT Haryono pada Kamis, (16/11) lalu. Unggahannya di Info Cegatan Purbalingga ramai menuai komentar dari masyarakat hingga saat ini.

Aku wis tahu dadi korbane nang ngarep Swalayan Harum kepleset untung reflek. Ora sue wong wadon kepleset juga terus tiba. Akhire nang tukang parkir di omongi nek ana wong teka, awas licin,” kata pemilik akun Rangga di kolom komentar.

Tak jauh dari sana, sekitar 200 meter ke arah barat, keramik hancur karena digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. “Kalau perilaku itu menular ke toko lain ya sia-sia trotoar direnovasi. Harusnya dipertegas yang polahnya kaya gitu kena sanksi,” ujar siswa SMAN 1 Purbalingga, Muhammad Iqbal.

Ia berharap Pemkab bisa secepatnya menyelesaikan polemik itu. “Jika korban sampai patah tulang atau korbannya ibu hamil apa Pemkab mau bertanggung jawab?” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Binamarga dan Jembatan DPR-PR, Nugroho mengaku bahwa jajarannya sudah mengambil langkah untuk menangani polemik keramik ini. Yakni, dengan melakukan penggantian keramik di beberapa titik miring. Keramik diganti dengan tekstur yang lebih kasar. Hal itu dilakukan oleh rekanan yang mengerjakan proyek tersebut. Meski demikian, hal tersebut belum dapat dikatakan sebagai solusi polemik keramik ini.(Amin Wahyudi)

Komentar

komentar

BAGIKAN