PURBALINGGA, SATELITPOST-Yayasan Pilar Purbalingga usulkan pembentukan Desa Inklusi. Ketua Yayasan Pilar, Sri Wahyuni mengatakan, inti dari program itu adalah pemenuhan hak yang sama dengan layanan setara kepada masyarakat.

“Masyarakat kurang mampu, kelompok lanjut usia (lansia), anak-anak, dan kalangan disabilitas harus mendapatkan pelayanan yang sama,” ujarnya saat workshop pemberdayaan masyarakat kurang mampu, belum lama ini.

Selain mendapatkan pelayanan setara, pemerintah desa juga dapat menciptakan lingkungan yang ramah dan aksesibel bagi penyandang disabilitas maupun lansia. Selain itu, desa juga bisa melibatkan kaum disabilitas pada berbagai kegiatan desa termasuk dalam musyawarah desa.

Melalui desa inklusi itu juga, kata dia, diharapkan bisa menjadi pembelajaran adanya kemajemukan masyarakat. Sehingga, semua orang dididik bisa menerima beragam perbedaan.

Mulai dari agama, suku, ras, kelas sosial, gender, sampai perbedaan fisik/mental atau disabilitas. Berangkat dari situ juga, nantinya bisa mengentaskan kemiskinan yang ada dengan kebersamaan.

“Penyandang disabilitas kalau tidak dilakukan pendekatan dan pendampingan, bisa mengakibatkan bertambahnya jumlah masyarakat miskin. Sejauh ini penyandang disabilitas masih banyak di desa-desa,” ujarnya.

Berdasarkan data di Bapelitbangda, ada 7.885 penyandang disabilitas di Purbalingga. Pada usia 0-14 tahun, tercatat sebanyak 662 orang, 15-64 ada 5.071 dan di atas 65 tahun ada 2.152 orang.

Menurut Sri Wahyuni, ada empat langkah untuk mewujudkan Desa Inklusi. Langkah pertama harus memastikan sistem informasi dan data-data desa yang akurat. Selanjutnya, memberikan pengumuman secara terbuka, melakukan pelayanan langsung ke rumah bagi warga yang tidak mampu keluar rumah. Entah karena faktor usia, atau penyakit seperti lumpuh dan lainnya.

Kemudian, menjamin partisipasi aktif golongan yang sangat miskin maupun penyandang disabilitas pada berbagai kegiatan.

“Terakhir, memberikan insentif kepada guru PAUD yang bersedia menerima anak penyandang disabilitas, anak terjangkit HIV/AID, serta kaum minoritas lainnya. Intinya kaum minoritas jangan sampai dikucilkan, tapi harus dipandang keberadaanya,” ujarnya. ([email protected])

Komentar

komentar

BAGIKAN