Ilustrasi Grafis Boodie Sipon
Nety Kurniawati Pendidik di TK
Terpadu Putra Harapan, Purwokerto

Sejarawan Bonnie Triyana (2015) pernah melakukan riset mengenai sejauh mana anak muda sekarang mengenal Mohammad Hatta (Bung Hatta). Hasilnya sungguh mengejutkan. Mereka tidak tahu banyak tentang Bung Hatta. Bahkan ada yang menyangka Soekarno-Hatta adalah satu orang.

Adalah hal yang mengkhawatirkan jika kaum muda kurang mengenal sosok Hatta. Jika Hatta saja tidak kenal, besar kemungkinan seseorang juga tidak mengenal pahlawan-pahlawan lain yang pernah berjuang, berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif dengan Hatta (misalnya Bung Syahrir, Agus Salim) atau yang berbeda pandangan politik (misalnya Tan Malaka).

Negeri tercinta kita tidak akan terbentuk tanpa pengorbanan para pejuang dan pahlawan yang telah mencurahkan segenap jiwa, raga, pikiran dan harta bendanya. Di zaman kolonial, para pahlawan bisa saja hanya bekerja pada pemerintah kolonial Belanda, menjadi pegawai negeri (ambtenaar) dan hidup enak. Tapi mereka lebih memilih untuk membela masyarakatnya (pribumi) yang menderita dan bercita-cita mengubahnya, menjadi masyarakat yang merdeka dan sejahtera di negerinya sendiri. Oleh karena itu kita perlu menghargai jasa-jasa mereka. Dan satu upaya awal untuk menghargai para pahlawan adalah dengan mengenalnya.

Menambah Idola

Kaum muda umumnya mempunyai idola. Idolanya bisa berasal dari kalangan olah ragawan, pemusik, aktor atau artis film, “superhero”, dan sebagainya. Sah-sah saja. Para “kaum tua” tidak perlu menghakimi pilihan mereka. Yang diperlukan adalah memotivasi dan memberikan contoh kepada kaum muda untuk mencintai setidaknya satu idola dari tokoh pahlawan. Tugas ini bisa dilakukan oleh institusi-institusi sosial yang ada, terutama sekolah dan keluarga. Kaum muda bisa memilih sendiri dengan media apa mereka akan mengenal seorang tokoh pahlawan.

Kaum muda kini sebenarnya mempunyai banyak pilihan sarana belajar untuk  mengenal para pahlawan. Di antaranya adalah melalui: situs internet atau film, buku (sejarah) yang di masa Orde Baru dilarang terbit tapi kini bisa diakses masyarakat luas, dialog dengan orang yang mengenal dari dekat kehidupan sang tokoh atau berdialog dengan orang yang mengalami peristiwa sejarah, kunjungan ke museum sejarah, dan lain sebagainya.

Pencarian satu sosok pahlawan idola akan mendorong kaum muda membaca setidaknya dua tokoh pahlawan. Kemudian ia akan membuat perbandingan di antara tokoh-tokoh tersebut. Dan ketika ia menemukan tokoh pahlawan idola yang dianggap cocok maka efek berantainya mulai bermunculan.

Misalnya, ia mengidolakan Hatta dan telah membaca kisah hidupnya. Maka ia juga akan mengenal Syahrir karena bersamanya, Hatta diasingkan ke Digoel dan Banda Neira selama tujuh tahun. Ia juga mulai belajar: peristiwa-peristiwa yang terkait dengan Hatta, misalnya alasan mengapa Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada tahun 1956, pandangan hidup Hatta. Hatta adalah seorang pembelajar yang tekun. Meski secara formal ia belajar ekonomi, ia juga gemar belajar filsafat. Bagi Hatta (Ignas Kleden, 2004), filsafat itu penting karena bisa mempertajam pikiran. Hatta amat yakin bahwa siapa yang hidup dalam dunia pikiran, dapat melepaskan dirinya dari gangguan hidup sehari-hari.

Pepatah tak kenal maka tak sayang memang benar. Setelah mengenal dengan baik dan menjadikannya idola, maka kaum muda mulai bisa menghargai dan meneladani pahlawan pilihannya.

Keteladanan yang bisa dicontoh dari para pahlawan di antaranya adalah sebagai berikut: cita-cita mereka, yang di antaranya tertuang di Sumpah Pemuda dan Pancasila, kesederhanaan hidup. Ketika para pahlawan dulu menjadi pengelola negara, mereka tetap hidup sederhana, tidak menuntut fasilitas ini-itu dan tidak melakukan korupsi, pertemanan dan kebesaran jiwa. Mereka bisa berbeda ideologi dan berbeda pendapat dengan tajam tetapi secara pribadi pertemanan di antara mereka cukup erat.

Di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno, terdapat tulisan yang berjudul Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Di artikel tersebut, Bung Karno menekankan pentingnya pemahaman sejarah bagi kita. Sebagai anak bangsa, boleh dong kita membuat istilah atau akronim tertentu, meniru hal-hal positif dari para pendiri bangsa. Menyambut hari Pahlawan, kita bisa berujar, Jas Mewan! yang merupakan kepanjangan dari Jangan Sekali-kali Melupakan Para Pahlawan!

Hari Pahlawan diperingati tiap 10 November. Hari-hari di sekitar peringatan Hari Pahlawan merupakan satu momentum yang tepat bagi kita, khususnya kaum muda, untuk belajar mengenal para pahlawan.

Keteladanan dan cita-cita para pahlawan bisa menjadi salah satu inspirasi kaum muda untuk menghadapi tantangan zamannya.¬† Jika calon penerus republik telah mengenal, menghargai, meneladani dan meneruskan cita-cita para pahlawan, maka kita mempunyai “modal” kuat untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik.

Komentar

komentar

BAGIKAN