KETUA Tim Konsultan Pertanian Unsoed, Prof Totok Agung Dwi Haryanto (kedua kiri) bersama anggota tim, Suprayogi Ph D (kiri) memberikan keterangan kepada awak media terkait hasil studi kelayakan pertanian di Negeria, Senin (13/11).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

PURWOKERTO, SATELITPOST-Tim konsultan pertanian dari Unsoed yang dipimpin Prof Totok Agung Dwi Haryanto serta anggota Suprayogi PhD dan Dr Purwanto telah melaksanakan studi kelayakan pengembangan lahan pertanian di Nigeria pada tanggal 30 Oktober sampai 9 November 2017.

Selain tim konsultan pertanian dari Unsoed, mereka bersama tiga personel studi kelayakan dari Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tiga personel dari PT Poultrindo Lestari.‎ Mereka tengah melakukan penelitian hasil MoU dengan PT Poultrindo Lestari mengembangkan pertanian di Negeria, tepatnya Niger State.

Prof Totok mengatakan, di Niger State, kondisinya sangat memprihatinkan. Negara konflik ini menurut dia tampak seperti Indonesia pada era 1970-an. Di mana ‎suhu yang tidak terlalu tinggi dengan kualitas SDM masih kurang.

Warga Niger State masih hidup dengan sederhana. Di desanya, rumah masih dibangun dari tanah liat, kadang ada yang dibangun dari rumbia. Sementara di kotanya, memang sudah ada hotel tapi seperti Jakarta saat tahun 1970-an. Sepeda motor banyak tapi pengendara belum memakai helm.

Dengan tingkat laju kelahiran sebanyak 25 persen, penduduknya pun hanya 28 juta. Sementara luasnya, sama dengan daratan Indonesia. Namun, sepanjang perjalanan ia mengaku lebih banyak menemui ternak daripada manusia. Sebab, di sana ternaknya ada sebanyak 118 juta.

Pertanian di Niger State menurut dia sebenarnya sudah ada sebelum mereka datang. Namun, pola pertaniannya masih dilakukan secara sangat sederhana.‎ “Di sana belum memakai varietas unggul, belum memakai sistem irigasi dan belum memakai pupuk. Tapi sudah ada pertanian jagung, sorgum, kedelai, tebu, cabai, dan beberapa jenis buah juga ada. Tapi masih sangat sederhana,” kata dia dalam press conference di gedung IRO Unsoed, Senin (13/11).

Ia berharap, dengan kerja sama tersebut, teknologi pengetahuan dapat diadopsi pihak industri untuk diimplementasikan di Afrika. Sehingga nanti bisa membangun semacam integrated food.

Menurutnya, ia sudah ada gambaran dalam pengembangan pertanian di 50 ribu hektare lahan di Niger State tersebut. Masyarakat akan memanfaatkan Sungai Nil yang dibendung untuk membuat sumber irigasi besar. Sebab, di sana ada gurun, tapi gurun tanah. Karena tidak ada air. “Mudah-mudahan kita bisa membantu,” katanya.

Lebih lanjut, menurutnya pihaknya akan mempersiapkan SDM terlebih dulu. Karena ia mengaku sadar, untuk mengembangkan pertanian membutuhkan SDM tertentu.

‎”Kita sudah mempunyai gambaran, kemarin kita studi kelayakan, dan ajukan potensi. Di Niger State, potensinya bisa ditanami jagung, kacang tanah, sorgum (karena sangat tahan pertanian). Kita rekomendasikan untuk dikombinasi dengan peternakan,” kata dia.

Sementara, menurut dia, mereka memulai dari tata guna lahan. Karena diharapkan akan sampai sekian tahun. Dengan sistem yang dipakai‎ yakni sistem yang bisa memberikan produk yang kontinu dan baik. “Kesesuaian lahan yang ada, kita akan rencanakan tanaman yang akan diproduksi di situ. Dengan kesesuaian lahan dan iklim,” kata dia.‎

Sementara itu, Suprayogi PhD mengatakan, kegiatan MoU tersebut merupakan inisiasi Prof Totok sejak tahun 2009 tapi resmi mulai tahun 2015. “MoU kita awali di Pulau Bintan, PT Poultrindo meminta Unsoed untuk mengembangkan,” katanya. (alf)

Komentar

komentar