Elina adalah murid paling pandai di kelasnya. Di setiap ujian kenaikan kelas, ia selalu meraih ranking satu. Tak heran, banyak guru dan teman-teman yang menyukai serta sering memujinya.

“Kamu pintar sekali Elina, pasti setiap hari orangtuamu memberimu makanan yang bergizi tinggi ya?” tanya Dito, teman sebangku Elina.

“Pasti kamu selalu belajar dengan giat dari siang sampai malam ya?” tambah Tina, sahabatnya. Elina tersenyum bangga mendengar rentetan pertanyaan dari kawan-kawannya.

“Ah, tidak juga. Ya mungkin karena memang takdirku adalah terlahir sebagai orang pintar. Hehehe”, jawab Elina. Dari jawaban yang ia lontarkan, sedikit terlihat bahwa kesombongannya mulai keluar. Dito dan Tina hanya saling berpandangan.

“Anak-anak, minggu depan ujian kelulusan di sekolah dasar kita akan dimulai. Untuk itu, bersiaplah. Belajar dengan sungguh-sungguh demi masa depan dan cita-cita kalian,” ucap Bu Rini mengumumkan.

“Siaaaapp, Bu Guru.” jawab semua murid dengan serentak.

Kemudian bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring. Semua murid bergegas pulang menuju rumah masing-masing, termasuk Elina.

Sesampainya di rumah, Elina memberitahu ibunya tentang informasi yang tadi disampaikan oleh gurunya di sekolah.

“Wah, kalau begitu kau harus lebih giat belajar dalam waktu seminggu ini, nak”, ujar Ibu Elina setelah mendengarkan cerita anaknya.

“Untuk apa belajar, Bu? Elina kan sudah pintar. Lihat saja nanti, pasti Elina akan mendapat ranking satu lagi tanpa harus belajar,” ucap Elina dengan sombongnya. Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ujian kelulusan telah berlalu. Dan hari ini adalah hari penerimaan rapor di sekolah. Elina berangkat menuju sekolah bersama ibunya dengan riang. Dalam pikirannya, ia telah membayangkan bahwa namanya akan tercantum lagi di papan tulis pada urutan pertama.

Namun, Elina salah. Matanya terbelalak ketika melihat papan tulis di kelasnya. Namanya memang benar tercantum lagi di sana, tapi bukan pada urutan pertama, melainkan kelima. Seketika ia menangis sambil memeluk ibunya.

“Sudah, nak. Jangan menangis. Anggaplah ini sebagai pembelajaran bagimu, bahwa kau tak boleh sombong ketika sedang berada di atas. Karena kesombongan akan membuatmu lalai dalam berusaha dan akhirnya kalah dengan teman-temanmu yang terus berjuang untuk menang”, ucap Ibu Elina sembari mengusap rambut Elina.

Elina mengangguk tanda paham. Kemudian ia berjanji dalam hati tak akan pernah sombong lagi ketika dirinya berhasil mencapai keinginan.(*)

Oleh

Lianna Putri SM

Komentar

komentar

BAGIKAN