WARGA dan aparat kepolisian saat mengambil tulang manusia di hutan Ponjen, Purbalingga, Kamis (21/6). ISTIMEWA

PURBALINGGA, SATELITPOST-Misteri pemenuan tulang belulang di kawasan hutan Gunung Plana, Desa Ponjen, mulai terkuak. Tulang tersebut merupakan jasad dari Hyandayanto Supendi, yang berdomisili di Jl Malaka Biru VII/18 RT 11 RW 10 Kelurahan Pondok Kopi Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur. Kamis (21/6) malam, pihak keluarga korban mendatangi RSUD Goeteng Tarunadibrata Purbalingga.

Berdasarkan keterangan keluarga korban, Hyandayanto memang berdomisili di Jakarta sesuai dengan identitas yang ditemukan. Namun, dia sering datang ke keluarga besarnya di Sumpiuh. Diketahui, korban meninggalkan rumah di Sumpiuh sudah sekitar dua bulan. Terakhir diketahui memang berpamitan ke Purbalingga. Dia sudah sering melakukan terapi anaknya di tempat pengobatan alternatif di Purbalingga.

“Sekitar dua bulanan yang lalu, pamitnya memang mengobati anaknya ke tempat pengobatan alternatif di Purbalingga, dia dianter oleh saudara,” kata Adi Tyo, keponakan korban, Jumat(22/6).

Tyo menjelaskan, berdasarkan keterangan dari klinik pengobatan alternatif, hari itu setelah mengantar anaknya, korban pamit turun ke pasar. Sejumlah barang seperti HP, dompet dan sejumlah uang ditinggal di tempat pengobatan. Namun, sampai sekitar satu pekan tidak juga kembali. Sehingga pihak klinik pengobatan menghubungi pihak keluarga.

“Belum sampai menginap, lalu pamit turun mau ke pasar, tapi tidak kunjung balik. Lalu oleh keluarga lain anak korban dijemput. Dia sudah sering terapi di situ, jadi bukan yang pertama,” ujarnya.

Karena lama tidak kunjung pulang dan tidak ada kabar, keluarga pun mencari keberadaanya. Keluarga menyakini bahwa hilangnya Supendi bukan karena tersesat. Tidak juga karena terserang penyakit mendadak.

“Kami sih yakinnya tidak hilang tersesat, karena sudah beberapa kali ke sana, selain itu dia fisiknya juga sehat, dia mantan altet,” ujarnya.

Adi menambahkan, KTP atas nama Ratinah bukan identitas istri korban, melaikan saudara korban. Ratinah sendiri tidak mengetahui kalau KTP-nya ada pada korban, bahkan dia sempat laporan kehilangan.

“Dia (korban, red) domisili di Jakarta, bersama istrinya, keluarga besar ada di Sumpiuh, dan sering balik Sumpiuh, istri masih di Jakarta, dan Ratinah itu bukan istrinya,” katanya.

Sementara itu, polisi menyampaikan identitas korban memang sudah bisa dipastikan. Namun untuk motif meninggalnya korban yang masih dalam penyelidikan. Sampai saat ini, polisi masih mendalami peristiwa tersebut. “Diprediksi bukan pembunuhan, kalau jatuh bisa saja, dan digunung kan masih banyak binatang buas,” kata Kasat Reskrim Purbalingga AKP Poniman, Jumat (22/6).

Di sisi lain, salah satu famili Hyandayanto, bernama Umadi mengungkapkan bahwa Hyandayanto sudah hilang selama 40 hari. “Jadi yang bersangkutan adalah asli Sumpiuh yang memiliki keluarga di Sokaraja. Tapi hidupnya di Jakarta,” kata Umadi yang warga Sokaraja ini. (min/lil)