ilustrasi

PURWOKERTO, SATELITPOST- Setelah penangkapan tersangka mucikari prostitusi online berinisial APP (28), warga Kelurahan Jatipadang, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, hingga kemarin pihak Sat Reskrim Polres Banyumas belum menentapkan tersangka lainnya. Simak lima fakta baru yang telah dirangkum Satelitpost berikut ini:

  1. PSK ‘Online’ Tak Jadi Tersangka

Di sisi lain pekerja seks komersial (PSK) yang dijajakan oleh APP juga tidak ditetapkan sebagai tersangka.

“Belum ada tersangka lain, karena itu mainnya sendiri (pelaku, red). Untuk perempuannya pun tidak kita kenakan (tersangka, red) karena mereka tidak terlibat secara aktif, ataupun memberikan foto (seronok, red) ataupun chatting yang menjurus ke sana,” kata Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIk melalui Kasat Reskrim Polres Banyumas, AKP Gede Yoga Sanjaya kepada SatelitPost, Kamis (7/2).

2. Ada Penipuan Berkedok Prostitusi Online

Perihal prostitusi online di Kabupaten Banyumas, menurut Yoga juga belum terlalu marak, hanya beberapa saja yang sudah terpantau oleh pihaknya. “Sebenarnya baru ini saja yang terpantau. Kalau untuk melalui aplikasi, itu memang ada, tetapi sebagian besar itu biasanya penipuan. Namun, kami masih dalami kalau memang ada ya kita tindak,” ujarnya.

3. Jajakan Jasa Esek-Esek Bisa Terjerat UU

Terkait penawaran jasa esek-esek melalui aplikasi tertentu, orang yang menjajakan jasa tersebut bisa saja terjerat undang-undang, jika memang memenuhi beberapa unsur pidana. “Kita lihat, unsur asusilanya sejauh mana, kalau kata-kata yang disampaikan (di chatting, red) ada unsur asusilanya bisa kita jerat menggunakan undang-undang ITE,” kata dia.

Baca Juga:

Fakta Mengejutkan Prostitusi Online Purwokerto, Mahasiswi S2 Pun Terlibat

Pengakuan Pelanggan Prostitusi Online Purwokerto: Bukan Hanya Rp 2 Juta, Tarifnya Bervariasi

4. Mucikari Prostitusi Online Terancam Penjara 6 Tahun

Diketahui, seorang mucikari prostitusi online yang menjajankan wanitanya kepada pria hidung belang melalui media sosial twitter berhasil dibekuk oleh Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Banyumas. Lebih dari 15 orang yang dijajakan olehnya, satu di antaranya bahkan mengenyam pendidikan Program Pendidikan Magister (S2).

Penangkapan tersangka dilakukan setelah pihak Tim Cyber Crime Polres Banyumas melakukan penelusuran di sejumlah media sosial. Hingga kemudian mendapati seorang berinisial APP (28), warga Kelurahan Jatipadang, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang menyediakan jasa perempuan pekerja seks komersial kepada laki-laki hidung belang.

“Tersangka APP memublikasikan jasa tersebut di media sosial twitter berikut dengan foto-foto perempuan yang ditawarkan kepada para pemesan hingga kemudian terjadi transaksi jasa seks komersial, tarifnya Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta,” kata AKP Gede Yoga, Rabu (6/2).

APP terjerat pasal Pasal 45 ayat 1 UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal tersebut berbunyi,  ‘Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)’.

5. ‘Mahasiswi’ Banderol Tarif Rp 1 Juta

Satu diantara pelanggan prostitusi online di Purwokerto mengatakan harga jasa pasaran prostitusi online bervariasi, dari mulai Rp 300 ribu hingga Rp 2 juta. “Kalau semisalnya dia buka harga Rp 450 ribu saya tawar Rp 250 ribu, nanti biasanya dia ngomong kalau mau Rp 300 ribu. Itu tanpa mucikari ya,” ujarnya.

Jika menggunakan mucikari, harganya terbilang lebih mahal, lantaran ada potongan tersendiri. “Itu kalau pake mucikari, rata-rata sampai Rp 1 juta ke atas, nggak bisa ditawar. Memang banyak yang mahasiswa sampai segitu sih Rp 1 juta ke atas bahkan sampai Rp 2 juta itu mungkin. Tergantung mucikari dan grade wanita itu,” kata dia.(sandi@satelitpost.com)