PURWOKERTO, SATELITPOST-Angka lost follow up pada Orang Dengan HIV Aids (ODHA) di Kabupaten Banyumas masih cukup tinggi. Data Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Daerah Banyumas, dari sekitar seribuan ODHA yang telah tercatat mengakses obat antiretroviral (ARV), baru 33 persen yang rutin mengonsumsi obat HIV Aids.

“Sisanya, yakni sekitar 76 persen dari ODHA ini memilih untuk tidak melanjutkan konsumsi ARV,” kata Neto Andriyanto dari KPAD Banyumas.

Dijelaskan, ketidakdisiplinan para ODHA mengonsumi obat ARV ini lebih dikarenakan oleh efek samping dari pengonsumsian ARV itu sendiri. Seperti rasa mual, pusing, menggigil, dan tidak nyaman di tubuh yang sebenarnya tergantung dari sensitivitas masing-masing kondisi tubuh ODHA.

“Tiap tubuh memiliki reaksi yang berbeda. Mungkin ada yang waktu kali pertama konsumsi lalu merasa mual atau lemas. Sehingga terkadang mereka tanpa berkonsultasi dengan dokter lalu memutuskan untuk berhenti berobat,” kata Neto.

Kondisi ini, kata Neto, menjadi PR bersama. Terlebih ketika lingkungan sekitar ODHA tidak memberikan dukungan kepada mereka (ODHA, red) untuk rutin mengonsumsi ARV.

Terkait target temuan ODHA, Neto menyebut tahun ini terjadi peningkatan temuan yang signifikan dibandingkan tahun lalu. Jika tahun lalu temuan ODHA hanya berkisar 150 orang. Tahun ini, hingga November 2019, pihaknya telah menemukan 240 orang. “Ini tidak terlepas dari kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV Aids dan kesadaran akan risiko perilaku aktivitas seks yang pernah dilakukan,” kata dia. (tha)