Ilustrasi

Tolong hormati kami semua yang di sini. Mau ada demo terus atau tidak. Kalau tidak selesaikan persoalan air bersih. Pipa air bersih yang dibuat saja kualitas buruk, memasangnya seperti anak kecil. Perusahaan besar menyelesaikan masalah seperti ini saja tidak bisa

Tafsir
Anggota BPD Desa Cikidang, Kecamatan Cilongok

PURWOKERTO, SATELITPOST-Sejumlah tokoh dan kepala desa terdampak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Gunung Slamet menyampaikan kekecewaan terhadap PT SAE. Mereka menganggap PT SAE tidak berkomitmen merealisasikan janji minimalisir dampak serta tidak mampu melakukan sosialisasi dan pendekatan masyarakat yang baik.

Tokoh dan Kepala Desa Cikidang, Karanglo, Karangtengah, Panembangan, Kalisari, Sambirata dan Pernasidi meminta PT SAE tidak hanya basa-basi menjalin komunikasi, namun juga menyelesaikan persoalan kebutuhan air bersih bagi warga desa terdampak. Kekecewaan dan permintaan tersebut disampaikan Rabu sore (11/10) di rumah dinas Bupati Banyumas saat melakukan pertemuan langsung dengan Kementrian ESDM dan jajaran direksi PT SAE.

“Tolong hormati kami semua yang di sini. Mau ada demo terus atau tidak. Kalau tidak selesaikan persoalan air bersih. Pipa air bersih yang dibuat saja kualitas buruk, memasangnya seperti anak kecil. Perusahaan besar menyelesaikan masalah seperti ini saja tidak bisa,” kata Tafsir, pengurus Badan Pengawas Desa (BPD) Desa Cikidang, Kecamatan Cilongok, kepada PT SAE, Rabu (11/10).

Begitu pula menurut Kepala Desa Kalisari, Azzi Masruri. Ia menyampaikan keresahan warganya terutama 30 produsen tahu yang terhambat produksinya karena air keruh. Ia mengatakan ada 221 KK pengguna Pamsimas yang juga ikut terdampak pembangunan PLTPB.

“Jujur, itu kemarin pemuda di desa saya kumpul, mau berangkat demo. Saya bantu kendaraan satu. Saya membawa amanah warga saya. Realisasi minimalisir dampak tidak ada, bahkan sosialisasi di desa saya saja belum pernah satu kalipun,” kata dia.

Kades Panembangan, Suparto menyampaikan lebih tegas. Ia mengatakan, sebanyak 95% warga kesulitan air bersih, karena sumber air PAM keruh. Ia meminta PT SAE untuk melakukan tindakan nyata, dan jika membuat saluran air bersih harus dengan pipa berkualitas seperti yang dijanjikan. Pipa juga semestinya dipasang secara profesional dengan ditanam di bawah tanah.

“Saya sebenarnya bingung, maju dikira menolak program pemerintah. Mundur tidak membawa aspirasi masyarakat. Meteran pengukur air PAM rusak karena lumpur, tersumbat. Ini tanggung jawab siapa,” kata dia.

Selain persoalan air bersih, tokoh masyarakat dan kades tujuh desa terdampak PLTPB juga menyampaikan, ada kekhawatiran warga akibat pembangunan PLTPB sehingga memilih menolak pembangunan. Warga takut jika terjadi longsor dan muncul lumpur seperti kasus Lapindo akibat pengeboran.

“Selain karena tidak tahu dan air butek terus, warga khawatir pembangunan PLTPB ini bisa mengakibatkan longsor, banjir dan keluar lumpur Lapindo. Jadi wajar kalau banyak yang minta dihentikan saja,” kata Suwarno, pengurus PAM Desa Panembangan.

Kadus 02 Desa Sambirata, Kusworo juga mengatakan hal serupa. Air bersih di wilayahnya tidak terjamin. Sejak awal pembangunan PLTPB, RW 3 air keruh, namun tidak ada penanganan sama sekali. “RW 03 dari awal sampai sekarang air tetap keruh, dan tidak dibuatkan saluran air bersih. Jadi memang belum tertangani, padahal sempat dijanjikan,” kata dia.

Menanggapi permintaan tujuh kepala desa dan tokoh masyarakat, Direktur PT SAE, Bregas H Rochadi menyanggupi saran tersebut dan akan segera merealisasikan secepatnya.

“Sesuai dengan yang disampaikan bupati, kami akan menanggulangi terkait konsumsi setiap hari di luar air minum. Sifatnya permanen, meski memakan waktu lebih panjang. Kami juga menambahkan tenaga untuk menyelesaikan apa yang terjadi di Cilongok saat ini,” kata dia.

Terkait penanganan air bersih untuk minum, kata dia, PT SAE akan mengerjakan terlebih dahulu. Ia berencana dalam minggu ini sudah bergerak menyelesaikan kebutuhan air bersih untuk minum. “Dalam minggu ini ada pergerakan menangani air bersih untuk minum. Seperti pembuatan jalur air bersih, dan sumur. Ganti rugi juga akan kami lakukan,” kata dia.  ([email protected])


Bupati: Segera Tangani Air Bersih

IR ACHMAD HUSEIN
Bupati Banyumas

BUPATI Banyumas, Ir Achmad Husein, meminta PT SAE tidak berdalih terus menerus kepada warga desa terdampak, dan diminta segera bertindak meminimalisir dampak pembangunan PLTPB Gunung Slamet. Di hadapan Kementrian ESDM, PT SAE serta kades tujuh desa dan tokoh masyarakat, ia akan membentuk tim agar dampak PLTPB dapat segera teratasi.

“Terkait pemenuhan air bersih, membuat saluran suplai air serta pengeboran sumur air tidak perlu menunggu tim terbentuk. Tidak perlu kamuflase lagi, segera lakukan besok,” kata Ir Achmad Husein kepada jajaran Direksi PT SAE.

Ia mendesak PT SAE segera membuat sumur air untuk suplai air bersih warga terdampak sebagai solusi jangka pendek. Sedangkan untuk penanganan permanen, ia meminta PT SAE membuat reservoir, penampungan air yang besar agar bisa tetap menyuplai air bersih baik musim hujan maupun kemarau.

Ia menegaskan untuk segera merealisasikan semua pembuatan jalur air bersih yang masih dinantikan warga. Realisasi juga harus sesuai yang dijanjikan, terutama kualitas pipa serta pemasangan pipa yang aman.

Ganti rugi akibat air keruh dampak pembangunan PLTPB juga harus segera direalisasikan. Kerusakan meteran air, perikanan, peternakan, produsen tahu dan kerugian warga lainnya.

Selain penanganan air bersih, bupati juga akan membentuk grup atau tim yang beranggotakan dari masing-masing warga terdampak dan pihak PT SAE selaku pengembang proyek PLTPB Baturraden. Pembentukan tim tersebut, kata dia, untuk menyerap aspirasi warga yang terdampak adanya mega proyek tersebut, sehingga ke depan persoalan bisa langsung diketahui dan diselesaikan dengan cepat.

“Kita akan bentuk badan perwakilan desa terdampak, bisa memakai SK bupati. Perwakilan ini harus bertemu secara reguler minimal seminggu sekali untuk mengatasi problem sekarang ini. Termasuk camat masuk sebagai perwakilan dan satu desa satu orang. Progresnya dilaporkan ke saya,” kata dia.

Direktur Panas Bumi Ditjen ESDM Kementerian ESDM, Yunus Saiful Haq juga menyatakan serupa. Sejak muncul demonstrasi langsung memonitor sendiri proses pembangunan PLTPB Gunung Slamet. “Waktu ada demonstrasi itu saya langsung memonitor sendiri apa yang terjadi. Saya turut prihatin terhadap warga terdampak, airnya keruh,” kata dia.

Kepada PT SAE ia mengatakan agar segera melakukan tindakan nyata, sesuai yang dijanjikan. Ia juga menekankan dua jenis penanganan, pertama pembuatan sumur air bersih dan reservoir untuk langkah jangka panjang yang sifatnya permanen.

“PT SAE jangan komunikasi terus, tapi aktion. Komunikasi terus ya bosen. Saya minta juga sosialisasi dilakukan secepatnya dan lebih masif,” kata dia. (aulia el hakim)

Komentar

komentar