Ilustrasi

Kami sudah menganggarkan Rp 3,6 miliar untuk membeli jasa bus BRT dari pengusaha. Beroprasi mulai Juli sampai Desember tahun 2018

Ginaryo
Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah

PURWOKERTO, SATELITPOST-Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan nggaran sebesar Rp 3,6 miliar untuk semester pertama operasi Bus Rapid Transit (BRT) koridor 1, Purwokerto-Purbalingga. Anggaran tersebut digunakan untuk membeli jasa setiap kilometer bus BRT yang beroperasi.

“Kami sudah menganggarkan Rp 3,6 miliar untuk membeli jasa bus BRT dari pengusaha. Beroprasi mulai Juli sampai Desember tahun 2018,” kata Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Ginaryo.

Dana sebesar Rp 3,6 miliar tersebut dianggarkan setelah menghitung jumlah kilometer jarak tempuh BRT Koridor I, Purbalingga-Purwokerto dari terminal Purbalingga sampai ke Terminal Bulupitu Purwokerto. Sebab, setiap satu kilo meter, Dishub Provinsi Jawa Tengah membayar Rp 7 ribu untuk setiap bus yang beroperasi.

“Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, setiap kilometer Pemprov Jateng membayar Rp 7 ribu membeli layanan bus BRT. Agar ada penumpang atau tidak mereka tetap jalan,” kata dia.

Adapun pembayaran dari penumpang BRT, kata dia, memang tidak masuk ke Pemprov Jateng melainkan menjadi pendapatan bagi pengusaha pemilik bus BRT. Sebelumnya juga sudah disampaikan, tarif untuk BRT jauh dan dekat sama saja. “Tarif jauh dekat sama saja. Pelajar dan buruh membayar Rp 1.000 sedangkan tarif umum hanya Rp 3.500,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, BRT Koridor I, oleh Dishub Jateng terus disosialisasikan, satu di antaranya adalah kepada calon pengguna, yakni kalangan pelajar. Dalam sosialisasi tersebut beberapa pelajar mengungkapkan pemikirannya mengenai operasional BRT. Pelajar menginginkan BRT memasuki wilayah Kota Purwokerto dan masuk ke area pelajar di Jl Gatot Subroto.

Menurut pengamat transportasi dari Unsoed, Dr Gito Sugiyanto sosialisasi sudah tepat sasaran karena Purwokerto kota pelajar. Namun BRT terancam tidak berhasil dan sepi penumpang jika tidak masuk area pelajar di perkotaan.

“Tentunya BRT beroperasi di jalur yang sesuai dengan demand (permintaan) jika ingin berhasil. Jika hanya dari terminal Purbalingga ke Terminal Purwokerto sangat disayangkan. Karena demand pasti di Purwokerto justru pelajar,” kata dia.

Menurutnya, Dishub Provinsi Jawa Tengah harus bisa mengomunikasikan dengan pelaku transportasi yang sudah berjalan di perkotaan, yakni pengusaha angkutan kota. Ia mengakui kebutuhan pelajar terhadap transportasi seharusnya menjadi prioritas. (auliaelhakim01@gmail.com)

Komentar

komentar