OBAT Paracetamol Caffein Carisoprodol (PCC).

PURWOKERTO, SATELITPOST-Penyalahgunaan obat Paracetamol Caffein Carisoprodol (PCC) bisa berakibat fatal. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, anak yang menyalahgunakan PCC mengalami halusinasi, masuk rumah sakit jiwa, dan bahkan ada yang meninggal dunia.

Di Banyumas sementara ini belum ada informasi peredaran obat PCC. Namun, kita mewaspadai walaupun belum ada laporan yang mengarah ke sana.

AKP Sambas Budi Waluyo
Kasat Narkoba Polres Banyumas

Diketahui, PCC harus dikonsumsi sesuai resep dokter untuk mengatasi sakit pinggang, kejang otot, hingga penghilang rasa nyeri. Karena efek penyalahgunaan obat PCC bisa sangat berbahaya, Polres Banyumas meminta masyarakat waspada agar tak menyalahgunakan obat PCC.

“Di Banyumas sementara ini belum ada informasi peredaran obat PCC. Namun, kita mewaspadai walaupun belum ada laporan yang mengarah ke sana,” ujar Kapolres Banyumas, AKBP Azis Andriansyah SH SIK MHum melalui Kasat Narkoba, AKP Sambas Budi Waluyo kepada SatelitPost, Jumat (15/9).

Sambas menerangkan sedikit gambaran soal obat PCC itu sendiri. Obat PCC memiliki bentuk yang hampir mirip dengan Tramadol. Warnanya putih berbentuk bundar dan ada tulisan PCC pada tubuh obat tersebut.

Dirinya juga mengimbau agar masyarakat Banyumas selalu waspada dengan peredaran obat-obatan tersebut, karena jika disalahgunakan efeknya sangat berbahaya bagi kesehatan. “Intinya harus selalu waspada, kalau adanya penawaran-penawaran yang mencurigakan jangan pernah mau menerima. Ataupun penawaran obat-obatan yang sifatnya gratis. Di daerah Kendari kan juga seperti itu, mereka ditawari hingga kemudian mau dan menggunakan obat itu,” ujarnya.

Diketahui, di Kendari, Sulawesi Tenggara sedikitnya ada 60 orang yang menjadi korban obat PCC. Akibat efek penyalahgunaan obat ini, korban bisa mengalami gangguan kepribadian hingga disorientasi.

Bahkan dari mengonsumsi obat-obatan tersebut, seorang siswa SD meninggal akibat overdosis PCC, Somadril, dan Tramadol. Kemudian ada seorang remaja berusia 20 tahun yang tewas tenggelam akibat berhalusinasi setelah mengonsumsi PCC, hingga kemudian dirinya lari ke laut dan tewas tenggelam.

Beberapa orang lainnya juga sempat mengalami gangguan jiwa akibat mengonsumsi obat-obatan tersebut. Mereka berhalusinasi hingga kejang-kejang ketika mengonsumsi obat keras yang seharusnya menggunakan resep dokter. (shandiyanuar@yahoo.com)

 

1. Dijual dengan Resep Dokter

Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Banyumas, Drs Budi Raharjo Apt SpFRS, PCC merupakan obat kombinasi dari Paracetamol, Caffein, dan Carisoprodol.

“PCC atau biasa dikenal dengan Somadril merupakan obat kombinasi. Obat ini memang obat flu, juga untuk penghilang rasa nyeri dan relaksasi otot,” kata Budi, Jumat (15/9).

Somadril tersebut menurut dia juga tersedia di beberapa apotek, tapi tidak semua apotek menyediakan. Meskipun di beberapa apotek menyediakan obat tersebut. Namun, tidak sembarang orang bisa membeli obat tersebut. Sebab, Somadril menurut dia merupakan satu jenis obat keras, sehingga untuk membelinya harus mendapat resep dari dokter.

“Pemakainya pun dilaporkan ke Dinas Kesehatan, melalui online. ‎Tapi di Banyumas penggunaan Somadril ini masih aman, insyaallah,” katanya.

Bahkan, menurut Budi, Somadril yang mempunyai nama generik Carisoprodol ini sudah masuk dalam kategori prekursor dalam UU Narkotika yang baru. “Prekursor ini merupakan satu zat yang nantinya bisa dibuat untuk dijadikan narkotika,” kata dia.

Obat yang digolongkan sebagai obat pelemas otot ini bekerja secara sentral dan digunakan untuk mengatasi nyeri otot, misalnya pada nyeri punggung bawah (low back pain). Somadril menurut dia tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang, paling lama penggunaan hanya 2-3. Karena belum ada bukti kuat mengenai efektivitasnya dalam jangka panjang.

Selain Somadril, obat berisi PCC ini juga dikenal dengan nama Carnophen. Penggunaan obat ini menurut dia akan memberikan efek samping meliputi beberapa bagian tubuh, antara lain sistem saraf pusat, saluran cerna, dan kardiovaskuler, meliputi : tremor, nervous, pusing, mengantuk, kegelisahan, depresi, mual, muntah, dan jantung berdebar (takikardi).

“Mekanisme aksi obat ini tidak begitu jelas, tetapi nampaknya mempengaruhi aktivitas saraf di medula spinalis. Metabolitnya yaitu meprobamat memiliki efek penenang dan penghilang kecemasan,” katanya.

‎Bahkan, menurut dia, seorang sahabatnya dari Universitas Gadjah Mada mengatakan, Somadril sudah disalahgunakan sejak tahun 2013 di Bali. Somadril tahun 2013 di Bali sudah digunakan sebagai obat kuat para PSK. “Mungkin efek penenang dari metabolitnya yang diharapkan,” kata dia.

Meprobamat menurutnya termasuk obat penenang yang berpotensi untuk disalahgunakan. Sehingga termasuk obat yang perlu mendapat pengawasan ketat.

Padahal, penggunaan Somadril dalam jangka panjang dan melebihi dosis sangat berisiko tinggi. Seperti yang dilansir www.rxlist.com/soma-drug.htm, ‎penggunaan Somadril melebihi dosis dapat membawa kematian. Selain itu juga bisa menyebabkan tekanan darah rendah, depresi pernafasan, kehilangan kesadaran sesaat. Bahkan, terlalu sering menggunakannya akan membuat pasien justru melakukan penyalahgunaan obat. (alfiatin)

2. 9 Orang Tersangka

Dari kasus peredaran obat PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara, pihak kepolisian telah menetapkan sembilan tersangka.

“Ini dua (tersangka) di Polda, empat di Polresta Kendari, dua di Polres Kolakka, dan satu di Polres Konawe,” ujar Martinus kepada wartawan di Mabes Polri, Jln Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (15/9) seperti diberitakan Tribunnews.

Seluruhnya diduga mengedarkan pil PCC secara ilegal kepada masyarakat. Padahal, PCC tidak boleh didapatkan tanpa resep dokter. “Dalam hal ini tersangka selaku penjual atau pengedar. Sembilan tersangka ini melakukan praktik mengedarkan di tengah-tengah masyarakat di mana tidak memiliki izin mengedarkan,” kata Martinus.

Polisi menyita 5.227 butir obat dari sembilan tersangka. Dari para tersangka, pelaku masih menggali motif mereka. “Nanti kita gali di situ motif-motifnya apakah yang bersangkutan dengan sengaja untuk meracuni anak-anak,” kata Martinus.

Sembilan orang tersebut dijerat dengan Pasal 197 juncto Pasal 106 ayat 1 Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam undang-undang tersebut ada daftar obat-obatan yang dilarang beredar tanpa resep dokter termasuk PCC.

Diketahui, jumlah korban penyalahgunaan obat yang diketahui juga terus bertambah. Hingga kemarin, lebih dari 60 orang dirawat di rumah sakit jiwa dan ada juga korban meninggal. (lil)