SUMIRAH soetardjo, anggota LVRI, pejuang perempuan selama perang kemerdekaan

Pada 21 April lalu diperingati sebagai hari Kartini. Peringatan itu kembali menegaskan bahwa peran perempuan di Indonesia cukup penting. Bahkan, di masa kemerdeaan. Di balik perang kemerdekaan, terdapat banyak perempuan bekerja di balik layar. Mereka bekerja dari satu pintu rumah ke pintu rumah lainnya untuk mengumpulkan logistik dan dari satu camp militer ke basis perlawanan menyalurkan informasi sebagai telik sandi.

Pemerhati sejarah Purbalingga, Anita W Raharjo pernah mengambil saripati kisah dari salah satu veteran perempuan, namanya Sumirah Soetardjo. Warga Desa Kalimanah Wetan yang hampir kepala 7 itu merupakan anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). “Mayoritas perempuan yang berjuang di balik layar merupakan istri atau keluarga pejuang, seperti Mbah Sum,” kata Anita, Minggu (21/4).

Pendorong kekuatan Sumirah ialah kenangan masa kecilnya saat digendong sang kakek berlari mengungsi, menghindari patroli militer tentara Belanda. Karena itulah, dengan ketetapan hati, dia berani dekat dengan kematian memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Putri seorang Kepala Desa itu sudah mengabdi untuk negara sejak belia. Dia bertugas mengumpulkan dana, menjadi mata-mata, hingga memasak di dapur persembunyian. Jejak aksinya terekam sejak bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau sekolah Belanda untuk bumiputera yang sekarang menjadi SMPN 1 Purbalingga. “Mbah Sum berjuang dengan tiga temannya, mereka merupakan penghubung orang-orang Belanda yang pro Indonesia dengan para pejuang kemerdekaan,” ujarnya.

Di kantong-kantong militer Belanda dan kantor pemerintahan, mereka mengambil jatah uang, sabun, makanan, atau rokok kemudian diberikan ke basis perlawanan. Selain itu, Mbah Sumirah juga mengambil surat rahasia yang berisi kapan operasi militer di desa-desa dilakukan oleh Belanda.

Surat rahasia diberikan oleh tentara Belanda yang berkulit hitam. Mereka sepakat, surat bocoran ditaruh di sudut markas Belanda yang kini menjadi Markas Kodim 0702/Purbalingga. Beberapa kali, surat gagal diterima karena situasinya tidak memungkinkan.

“Jika kepergok tentara lain, Mbah Sum lari, sungai jadi pilihannya untuk menghilangkan jejak. Warga lain juga telah siap menyembunyikan Mbah Sum jika tentara Belanda masih mengejar,” katanya.

Baca Juga:

Cerita Pejuang Veteran RI Asal Purwokerto, Keturunan Tionghoa yang Rela Mati Demi Kemerdekaan

800 Butir Amunisi Masa Perang Ditemukan di Kemranjen

Kisah Perjuangan RA Wirjaatmadja, Berawal dari Keresahan Aksi Rentenir 

Wajahnya yang mulai dihafal tentara Belanda memaksanya pindah ke sekolah lain di Desa Kalimanah Wetan. Jika pergi ke kota untuk mencari informasi, dia berpura-pura menjadi pedagang dengan membawa bakul.

Peran telik sandi terus dilakoninya hingga dewasa. Dari perang kemerdekaan, agresi militer Belanda, hingga pengakuan kemerdekaan pada Konferensi Meja Bundar. “Kini Mba Sumirah menikmati masa senjanya sebagai veteran dan istri veteran. Dia mendapat tunjangan dan dana kehormatan sebagai anggota LVRI,” kata Anita.

Jejak kiprah perempuan pada perang kemerdekaan juga tercatat di tempat lain. Ahli Sejarah pada Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Ganda Kurniawan mengungkapkan, basis perlawanan yang terkenal ialah Joglo Arsawikrama, Desa Karangklesem, Kecamatan Kutasari.

Setelah Pemerintah Hindia Belanda menghianati perjanjian dan melancarkan agresi militer Belanda ke-2 ke penjuru Jawa, rumah Kepala Desa Arsa Wikrama dijadikan tempat persembunyian sekaligus gudang logistik. Arsa Wikrama tercatat menjabat sekitar tahun 1948.

Siapakah yang berperan besar dalam pengumpulan logistik? Tentu saja istrinya dan perempuan lain di desa yang bersusah payah memanggul bakul berisi makanan dari pelosok desa ke joglo. “Jika mereka berpapasan dengan tentara Belanda, mereka mengaku akan dijual ke pasar. Padahal, isi bakul itu dikumpulkan untuk logistik perang,” ujarnya.

Dua kompi perang perang pernah menjadikan joglo tersebut sebagai basis perlawanan, yakni Kompi Pujadi dan Kompi Kusworo. Kegiatan di joglo pun sempat tercium Belanda hingga pernah dibombardir Belanda dengan pesawat. Bekas ledakan masih terlihat di sudut-sudut rumah. “Banyak yang luput dicatat sejarah, padahal bagi kita, perempuan-perempuan yang mendukung perjuangan merupakan salah satu pahlawan yang sangat berarti pada perang kedaulatan,” ujarnya. (cr3)