Grafis Boodie Sipon

Cilacap saat ini menduduki ranking 3 di Jawa tengah, itu menunjukkan bahwa semakin banyak ditemukan kasus, maka kinerja layanan dari antar lintas sektoral, dan LSM semakin baik.

Bachtiar Achmad SE MKes
Kabid di Dinkes Cilacap

CILACAP, SATELITPOST-Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cilacap sampai saat ini mencapai 983 kasus. Kasus itu adalah jumlah akumulatif sejak tahun 2007. Dari jumlah tersebut ada sebanyak 53 orang dengan HIV/AIDS (Odha) sudah meninggal dunia.

Jumlah penderita terbanyak di Kecamatan Cilacap Selatan, dengan jumlah sekitar 240 kasus. Mereka di antaranya wanita pekerja seks (WPS), ibu rumah tangga, dan juga penghuni lapas di Nusakambangan.  Selain itu penderita lainnya, di antaranya laki-laki suka laki-laki (LSL).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Bachtiar Achmad SE MKes mengatakan pada tahun ini pihaknya menargetkan banyak kasus HIV/AIDS yang bisa ditemukan. Karena, jika semakin cepat ditemukan, maka penanganannya akan semaki cepat.

“Cilacap saat ini menduduki ranking 3 di Jawa tengah, itu menunjukkan bahwa semakin banyak ditemukan kasus, maka kinerja layanan dari antar lintas sektoral, dan LSM semakin baik,” ujar Bachtiar, Kamis (7/12).

Semakin tingginya jumlah penderita ini, satu di antaranya juga karena semakin dekatnya pelayanan pemeriksaan kepada masyarakat. Saat ini sudah ada 34 puskesmas yang sudah memberikan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB). Ditargetkan pada tahun 2018, seluruh puskesmas sejumlah 38 akan memberikan layanan tersebut.

Selain itu juga sudah ada empat puskesmas yang bisa memberikan pengobatan langsung kepada para penderita HIV/AIDS, di antaranya Puskesmas Sidareja, Cilacap Selatan 2, Adipala 1, dan Kroya 1. Sehingga tidak perlu lagi, mereka yang terindikasi positif HIV/AIDS ini menuju ke RSUD Cilacap untuk melakukan pengobatan.

“Harapannya jika nanti ada yang positif tidak usah jauh-jauh ke rumah sakit, langsung ke puskesmas yang ada di masing-masing distrik. Ini juga untuk lebih mendekatkan kepada masyarakat,” katanya.

Upaya yang dilakukan untuk pencegahan penularan HIV/AIDS ini, dengan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Selain itu juga meminta kepada penderita untuk terus melakukan pengobatan secara aktif.

Aktivis Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lingkungan Hidup (LPPSLH), Nawa Nugrahasiwi mengatakan, beberapa saat lalu, pihaknya bersama dengan lintas sektoral penanganan HIV/AIDS di Cilacap melakukan pemeriksaan secara mendadak kepada sekitar 248 orang. Hasilnya, 25 orang di antaranya terindikasi positif HIV/AIDS.

“Kita melakukan pemeriksaan kepada WPS dan orang yang berisiko sepanjang Cilacap Kota sampai Adipala, dan sebelumnya kita sudah melakukan maping untuk pemeriksaan ini,” katanya.

Menurutnya, dari yang positif ini, mereka adalah WPS yang ada di jalanan atau terselubung. Artinya, bukan berada di eks lokalisasi Slarang. Padahal, kata dia, WPS tidak langsung (WPS TL) ini yang sulit dijangkau.

“Mereka tidak bisa terpantau, karena mereka ‘mobile’ dan ganti-ganti pasangan, ini yang tidak terpantau. Berbeda dengan yang ada di eks lokalisasi, mereka masih dapat sosialisasi,” ujarnya. (ale_rafter@yahoo.com)

 

 

Komentar

komentar