KOORDINATOR TKSK Dinas Sosial Kabupaten Cilacap didampingi Kadus Margadana saat mengunjungi keluarga Sa yang menempati gubuk di bantaran sungai Desa Salebu Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Rabu (17/7).SATELITPOST/TASLIM INDRA
KOORDINATOR TKSK Dinas Sosial Kabupaten Cilacap didampingi Kadus Margadana saat mengunjungi keluarga Sa yang menempati gubuk di bantaran sungai Desa Salebu Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Rabu (17/7).SATELITPOST/TASLIM INDRA

MAJENANG, SATELITPOST-Fenomena yang terjadi pada lelaki berinisial Sa dan keluarganya di Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Sa dan keluarganya menghuni gubuk berukuran kecil di tepi sungai.

Fenomena ini menyedot perhatian warga media sosial. Beragam komentar dilontarkan.  Ada yang merasa iba dan empati. Selain itu, ada juga yang mengkritisi pemerintahan desa maupun pemerintah kabupaten, yang seolah tidak ada kepedulian terhadap keluarga Sa.

Bahkan keluarga Sa kini ramai didatangi sejumlah warga dan organisasi sosial. Mereka  memberikan bantuan sembako, pakaian, dan uang tunai. Ternyata kondisi sebenarnya berbeda dengan apa yang ramai di media sosial. Ada faktor lain yang melatarbelakangi keluarga Sa hingga memilih tempat tinggal di tepi kali.

Untuk memperoleh informasi  yang lebih jelas SatelitPost bersama Koordinator TKSK Dinas Sosial Kabupaten Cilacap melakukan konfirmasi langsung kepada Kepala Desa Salebu. Selain itu, SatelitPost mendatangi Sa di gubuknya.

Kepala Desa Salebu Agus Fauzi didampingi Kadus Margadana Kosim mengatakan, Sa sebelumnya merupakan warga pendatang. Sa diusir dari tempat tinggal aslinya di Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Sa diusir karena diduga mengalami kelainan jiwa. Dia juga melakukan hubungan incest atau hubungan dengan anaknya yang melahirkan dua anak.

Di Salebu, Sa tinggal bersama ketiga anaknya. Di mana dua di antaranya adalah anak sekaligus cucunya. Sa bermata pencarian sebagai pengumpul batu belah dan pencari rongsokan.

Karena kasihan Pemerintah Desa Salebu sempat membangunkan rumah dengan lokasi tanah milik warga. Namun rumah itu dihancurkan dan dibakar oleh Sa. Kemudian, Sa kembali menempati gubuk tersebut.

“Kami sudah tiga kali bangunkan rumah tapi kemudian dirobohkan dan dibakar dan kembali ke gubuk. Warga warga sekitar juga memberikan bantuan pakaian dan lainnya tapi setelah itu dibuang,” kata Kepala Desa Salebu Agus Fauzi.

Tak hanya itu pemerintah desa melalui Kadus setempat memasukkan Sa sebagai warga Desa Salebu. Sa juga menjadi penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Pemegang Kartu Indonesia Sejahtera.

Setelah ramai diperbincangkan Pemerintah Desa Salebu melakukan musyawarah untuk mengirimkan Sa yang  psikotik dan keluarga yang incest ke panti sosial. Harapannya ada penanganan atas masalah yang melatarbelakanginya.  “Kami akan segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Cilacap untuk membawanya ke panti sosial di Cilacap atau Wonosobo. Tadi Mbah Sa katanya mau,” katanya.

Koordinator TKSK Dinas Sosial Kabupaten Cilacap Tindar Aji Pratama mengungkapkan, penanganan yang dilakukan pemerintah desa sudah tepat. Bahkan menurut pendamping PKH, keluarga Sa rutin mendapatkan BPNT termasuk PKH karena memiliki tanggungan sekolah anaknya.

Menurutnya, pemerintah desa sudah melaksanakan Nawacita Presiden RI yakni negara turut hadir dalam meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Caranya melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Pintar. Selain itu, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan program Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera.

Saat ditanya langsung oleh SatelitPost, Sa mengaku menerima program tersebut baik uang tunai, PKH maupun BPNT. Dia juga menunjukkan Kartu Indonesia Sejahtera.  Sa sangat berterima kasih jika akan dipindahkan,dia akan mengajak seluruh keluarganya pindah ke panti. (taslim@satelitpost.com)