MASYARAKAT berhamburan dan panik keluar gedung menuju titik evakuasi. Hal itu dilakukan dalam rangka simulasi gempa berpotensi tsunami di Cilacap, Kamis (26/4).SATELITPOST/CR2

Pagi, Kamis (26/4/2018) daerah Cilacap kota cuaca cukup cerah. Masyarakat melaksanakan kegiatan seperti biasa. Para pegawai maupun karyawan swasta dan masyarakat yang ada di rumah melaksanakan pekerjaan masing-masing. Tidak ketinggalan siswa siswi dengan wajah ceria dan semangat untuk menuntut ilmu di sekolah.

Namun, siapa sangka di tengah aktivitas rutin itu, warga dibuat panik dan berhamburan keluar menjauhi gedung. Tepat pukul 10.00 WIB sebuah guncangan yang terasa sangat kuat, menggoyangkan tanah dan bangunan yang berdiri kokoh. Warga meneriakkan ‘gempa… gempa… ada gempa’ kepada warga lain sembari menundukkan badan melindungi kepalanya dengan tangan.

Saking paniknya, mereka tidak menghiraukan barang bawaan maupun harta bendanya yang tertinggal di dalam gedung. Mereka menuju titik kumpul yang aman. Lima menit berlalu, setelah dilakukan konfirmasi dan koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa telah terjadi gempa dengan kekuatan 8,8 SR. Gempa tersebut pada posisi 10.23 LS (Lintang Selatan), 108.39 BT (Bujur Timur) sebelah Timur Cilacap dengan kedalaman 17 KM berpotensi tsunami.

Suasana semakin mencekam dan membuat panik masyarakat setelah sebanyak 25 early warning system (EWS) atau peringatan dini tsunami yang terletak di spanjang pesisir pantai Cilacap maraung keras. Serta jeritan ‘tsunami’ oleh warga semakin menjadi.

Merespons hal tersebut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap bersama organisasi relawan. Seperti RAPI, MDMC, PMI, SENKOM, Cilacap Rescue, BAGANA, TAGANA, FPRB Gumregah, FPRB Girikelana dan Pembela, bergerak membantu dan mengimbau masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri menuju tempat evakuasi vertikal. Beberapa korban gempa pun ikut di evakuasi menggunakan tandu.

Kendati demikian kegiatan tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) yang saat itu berlangsung untuk tingkat SMP/sederajat. Namun, jangan panik dulu, karena kejadian di atas adalah simulasi jika skenario gempa berpotensi tsunami terjadi di Cilacap. Simulasi dilaksanakan BPBD Cilacap dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2018, Kamis (26/4).

Simulasi diikuti jajaran OPD, BUMN/BUMD, instansi, dan warga masyarakat dengan target peserta 15.000 orang. “Ada kurang lebih 90 titik kegiatan simulasi evakuasi mandiri dan untuk mempersiapkan masyarakat secara umum baik yang berada di kantor maupun perumahan. Begitu ada gempa berpotensi tsunami untuk segera melakukan evakuasi mandiri,” kata Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy.

Diharapkan, dengan adanya simulasi tersebut, masyarakat terlatih. Sehingga tidak lagi melakukan hal-hal yang justru membuat bahaya. “Karena masyarakat Cilacap selama ini terdoktrin atau mensetnya melarikan diri ke arah Jeruklegi atau di simpang lima yang justru membuat titik kemacetan di sana. Itu bukan solusi yang baik, malah justru membahayakan masyarakat secara umum,” kata dia.

Karena saat ini BPBD Cilacap telah melakukan MoU dengan pemilik atau pengelola gedung-gedung bertingkat untuk digunakan evakuasi apa bila terjadi tsunami. Saat ini sudah ada 45 MoU, seperti shelter evakuasi gedung BPBD, SMPN 1 Cilacap, Pokiteknik Cilacap, RSUD, Akbid Graha Mandiri, Asrama Putri Stikes Al-Irsyad, SD Al Irsyad, Rusunawa, BPC Gapensi, Masjid Al Jihad, AMN Cilacap, RSI Fatimah, DPRD dan gedung-gedung bertingkat lainnya.

“Secara umum simulasi mengharapkan keseriusan, kecekatan atau respons cepat masyarakat diri sendiri untuk bisa diselamatkan, baru keluarga dan lingkungan. Untuk simulasi dampak korban masih dalam pendataan nanti harus sudah ada laporan,” kata dia.(cr2)