PURWOKERTO, SATELITPOST- Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri tahun ajaran 2019/2020 mulai dilakukan pada 24-28 Juni 2019 mendatang. Dalam PPDB SMAN tahun ini kembali diterapkan sistem zonasi.

 

Namun, zonasi tahun ini bukan lagi berdasarkan kecamatan tapi berdasarkan kelurahan/desa. Di mana jarak rumah dengan sekolah tujuan menjadi pertimbangan utama.

 

Ketua Panitia PPDB SMAN Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X, Yuniarso K Adi mengatakan PPDB tahun ini menggunakan basis desa/kelurahan terdekat dengan sekolah. “Kemendikbud mempunyai konsep sekolah yang sama dalam pelayanan mutu. Tidak ada sekolah favorit, menghilangkan esklusivisme, makanya diterapkan zonasi merata berkeadilan. Tidak ada lagi sekolah favorit, karena sekolah harus menerima 90 persen kuota siswa dari zonanya,” kata dia.

 

Sebab, zonasi kali ini, jarak rumah dengan sekolah (sesuai akses jalan, red) yang menentukan diterima tidaknya di sekolah tersebut. Jarak tersebut dapat dilihat di GPS antara sekolah dengan rumahnya. “Pendaftar bisa melihat di GPS (global positioning system yang dapat dilihat di HP, red)terlebih dulu jarak rumah dan sekolahnya,” katanya.

 

Sebab, dalam sistem PPDB otomatis akan menyeleksi mulai dari jarak rumah dan sekolah berdasarkan GPS. Jika kuota pendaftar dari zona tersebut dengan jarak dekat, melebihi pendaftar jarak terdekat akan diseleksi melalui nilai dan kemudian baru umur.

 

Untuk zona di empat kecamatan kota pendaftat bisa memilih kelima SMAN di Purwokerto. Sementara desa/kelurahan di kecamatan lainnya hanya bisa memilih satu sekolah di kecamatan tersebut. Kecuali untuk desa/kelurahan di daerah pinggiran atau perbatasan yang bisa memilih 1-3 sekolah. “Yang diuntungkan memang yang di kota dan yang ada di wilayah berbatasan. Yang tahun sebelumnya mendapat kesempatan kecil dan ekonominya tidak selalu baik,” kata dia.

 

Menurutnya, siswa dapat mengetahui dia masuk zona berapa dan bisa mendaftar di berapa sekolah begitu membuka akun dalam sistem PPDB. Dengan data lokasi rumah siswa akan tahu di sekolah mana saja dia bisa mendaftar dan berapa jaraknya dengan sekolah.

 

Sementara untuk kecamatan yang tidak memiliki SMAN sama sekali, siswanya akan mengikuti zonasi sekolah terdekat. Kelurahan/desa di kecamatan tersebut akan dibag dalam zonasi SMAN terdekat dari kecamatan tersebut. “Calon siswa bisa melihat di online sistem PPDB sudsh otomatis masuk zona mana,” katanya.

 

Lebih lanjut, menurutnya jika ada  siswa tidak masuk diterima di SMAN yang dituju. Makanya sistem secara otomatis akan memasukan nama siswa tersebut ke SMAN terdekat yang belum memenuhi kuota.

 

Kalau pun tidak ada, kata dia, calon siswa masih bisa mendaftat di sekolah swasta. Sebab, MKKS SMA di Banyumas kata dia sudah ada kerjasama kemitraan melakukan koordinasi antara SMAN dan SMA swasta. “Ini langkah baru yang inovatif, ada kerjasama yang baik,” katanya.

 

Lebih lanjut pihaknya mengklaim tidak akan ada kecurangan dalam sistem tersebut. Karena semuanya sudab transparan, mulai dari jarak, nilai dan usia terlihat jelas di sistemnya. Untuk jarak yang menjadi pertimbangan utama sangat jelas bisa dilihat di GPS. Sehingga tidak akan ada kecurangan apapun.

 

Eni (42), satu orangtua siswa mengaku sempet bingung anaknya akan sekolah di mana. Karena rumahnya yang ada di Kedungbanteng tidak ada SMAN. “Di sini tidak ada SMAN, kalau pun sudah ada pilihan di sistemnya tapi kalau tidak diterima bagaimana? Padahal anak saya ingin sekolah di SMAN 5 Purwokerto,” katanya. (alf)