Grup Facebook Gay Pelajar Sokaraja Diduga untuk Buru Mangsa Muda

Soal Gay Pelajar di Banyumas Diungkap Aktivis Pendamping HIV

logo satelitpost

PURWOKERTO, SATELITPOST–Grup facebook berisikan lelaki penyuka sesama jenis atau gay sebenarnya sudah lama terjadi di Banyumas. Hal itu diungkapkan seorang aktivis pendamping HIV di Banyumas.

Dia mengungkapkan pernyataan itu terkait adanya grup facebook bernama Gay SMP/SMK/SMA Sokaraja Banyumas dan telah beranggotakan 575 orang. Aktivis pendamping HIV yang enggan disebut namanya ini tak bisa memastikan apakah semua anggota grup gay itu adalah pelajar.

Namun, dia menduga bahwa tak sedikit anggota grup itu yang merupakan pria dewasa yang bukan lagi pelajar. Pria dewasa di grup gay itu biasanya ingin memburu gay yang masih remaja. “Mungkin memang ada beberapa di antara anggota grup itu merupakan pelajar, tapi perbandingannya hanya sekitar 50 persen saja. Sisanya adalah orang dewasa yang mencari penyuka sesama, tapi yang berusia remaja,” ujar pria tersebut kepada SatelitPost, Jumat (12/10).

Menurut dia, kebanyakan pelajar yang bergabung ke dalam grup maupun komunitas gay adalah mereka yang mendapatkan informasi terlebih dahulu. “Jadi bukan para pelajar yang sengaja bikin komunitas, tapi grup itu dibuat agar yang berusia lebih dewasa leluasa mencari yang lebih muda,” katanya.

Ia pun mengakui, beberapa bulan terakhir perilaku seksual lelaki suka lelaki (LSL) makin banyak ditemukan di Banyumas Raya. Bahkan angka pengidap HIV positif dari perilaku LSL ini pun cukup banyak. “Kebanyakan memang berada di usia produktif. Bahkan di bawah usia 17 tahun pun ada yang sudah positif HIV,” katanya.

Baca Juga: Ada Grup Gay Pelajar Sokaraja di Facebook, Dinas Pendidikan Banyumas Menelusuri

Sementara, terkait adanya grup gay pelajar itu, Komisi D DPRD Kabupaten Banyumas meminta pemerintah daerah untuk segera bertindak. Pasalnya, perilaku tersebut bisa menambah jumlah dan peringkat penderita HIV/AIDS di Kabupaten Banyumas.

“Ini tentu akan berdampak pada penambahan penderita HIV/AIDS. Ini perlu antisipasi pemerintah. Terlebih, grup tersebut dimungkinkan beranggotakan pelajar yang usianya masih sangat muda. Saya miris mendengar ini,” kata Ketua Komisi D DPRD Banyumas Mustofa.

Menurutnya, Pemkab Banyumas dengan melalui jajarannya bisa melakukan pembinaan dini sebagai kewajibannya dalam pemangku kebijakan. Meski, dalam menyelesaikan ini perlu adanya kerjasama dan koordinasi semua pihak, dinas pendidikan melalui sekolah-sekolahnya hasrus bisa membentengi anak didiknya agar tidak terjebak dalam perilaku menyimpang.

“Beranggota 500, sudah termasuk besar untuk wilayah seperti Banyumas. Anak SMP yang baru masuk usia puber sangat rentan untuk bisa terjangkit HIV/AIDS dengan perilaku tersebut,” katanya.

Terkait tingginya penderita HIV/AIDS, ia meminta eksekutif untuk bertindak tegas menegakkan Perda HIV dan AIDS. Sebab tingginya angka penderita HIV dan AIDS di Banyumas hingga nomor dua se Jawa Tengah tidak tergolong masalah besar harus ditangani. Dengan sudah adanya Perda, maka Pemkab seharusnya tak perlu ragu melakukan penanganan serius dalam bertindak mengurangi angka penderita HIV dan AIDS.

“Kami sudah buatkan Perdanya, tegakkan. Jangan melempem jadi eksekutor pemerintahan. Yang jadi korbannya kalau tidak segera bertindak kan warganya sendiri,” katanya.

Menurutnya, selain perilaku menyimpang, tidak bisa dipungkiri pusat hiburan dan lokalisai prostitusi menjadi satu faktor utama meningkatnya penderita HIV dan AIDS. Menurutnya, Pemkab dapat bertindak tegas menutup area tertentu yang terus menerus mengakibatkan peningkatan penderita HIV dan AIDS.

“Tempat yang sudah seperti lokalisasi prostitusi ditutup. Dikurangi terus menerus tempat seperti itu, sebab tidak bisa dipungkiri juga menjadi salah satu faktor meningkatnya penderita HIV/AIDS, ” kata dia.

Selain itu, pada Perda HIV dan AIDS tahun 2015, kata dia, disebutkan Bupati berwenang memberikan sanksi administratif kepada pengelola atau pemilik serta pengusaha tempat hiburan, yang melakukan pelanggaran. Pelanggaran yang dimaksud, di antaranya adalah tidak melaporkan secara rutin kondisi kesehatan karyawannya terkait dengan AIDS.

“Pada pasal 19, tertulis setiap pengelola dan atau pemilik tempat hiburan wajib melaporkan data karyawan secara berkala pada instansi berwenang dalam rangka perencanaan kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS oleh Pemerintah Daerah,” kata dia.

Disebutkan pula pada pasal 20, setiap pengelola tempat hiburan dan atau pemilik wajib melaksanakan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di tempat usahanya. Dan di pasal 21 tertulis, Setiap perusahaan wajib melakukan penanggulangan HIV dan AIDS di tempat kerja.

“Faktanya, pasal 19, 20 dan 21 dilakukan tidak? Ini kan meragukan, apakah merak benar benar melakukan penanggulangan atau malah jor-joran. Kalau tidak melaksanakan pasal tersubut. Sanksinya jelas di perda, tutup. Cabut izin usahanya, ” kata dia. Sebagaimana diketahui, jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan terbanyak nomor dua di Jateng, tercatat ada sebanyak 1.126 kasus HIV/AIDS di Banyumas.

Masalah gay di kalangan pelajar ini awalnya jadi pemberitaan di Garut. Bahkan satu di antara empat grup gay di Facebook dikhususkan bagi siswa SMP dan SMA. Dua di antara grup gay ini memiliki anggota lebih dari 2.500 orang.

Pertama grup dengan nama kumpulan barudak gay SMP/SMA Garut, lalu ada dua grup dengan nama gay Garut di beberapa kecamatan, dan terakhir ada akun dengan nama gay Garut. Nyatanya, kasus gay pelajar itu juga menjalar di Banyumas. Sebab, ada grup facebook yang bernama Gay SMP/SMK/SMA Sokaraja Banyumas. (sugesti@satelitpost.com/anas@satelitpost.com)