PURWOKERTO, SATELITPOST- Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas menyesalkan adanya kekerasan yang kembali terjadi di lingkungan sekolah dan melibatkan guru sebagai pelaku kekerasan terhadap siswa. Namun, dalam penyelesaian diharapkan semua pihak harus bisa tetap objektif dan tidak sampai kontraproduktif.

Diketahui, pada Senin (6/8), oknum guru di SMPN 2 Cilongok memukul 15 siswanya dengan gagang sapu. Tindakan itu dilakukan karena guru tersinggung ketika siswa menirukan aksen cadel sang guru.

“Kita menyesalkan apa yang terjadi, tetapi kita meminta kepada semua pihak untuk memahami apa yang dilakukan guru tersebut bermaksud baik untuk membina. Cuma memang caranya melewati batas, terlalu keras karena sebenarnya kalau bisa bersikap dingin tidak akan sampai kejadian seperti ini,” kata Kadindik Kabupaten Banyumas, Purwadi Santoso ketika dihubungi SatelitPost, Rabu (8/8).

Baca Juga: Tersinggung, Guru Asal Cilongok ini Diduga Pukul Siswa dengan Sapu

Menurutnya, bahwa guru itu salah, Dinas Pendidikan yang menaungi akan tetap memberi peringatan dan sanksi. “Kalau dari pihak sekolah memang telah menyepakati untuk guru akan segera dipindah. Kepala sekolah telah datang ke Dindik, dan saya memperbolehkan,” katanya.

Asalkan, kata Purwadi, dalam penyelesaian ini yang lebih dipentingkan adalah bagaimana proses pendidikan tidak akan kontrapoduktif. “Kita akan lihat situasi, nanti kalau terlalu kontraproduktif malah seperti tidak ada perlindungan kepada guru,” katanya.

Kalau guru, kata dia, hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi guru dan nantinya akan terus dilakukan pembinaan, dan diharapkan pendidik tidak perlu keras dalam pembelajaran, tetapi lebih mengarah pada ketegasan. “Yang bagus malah lunak dan sabar, serta mengikuti seluruh dinamika siswa,” katanya.

Dalam urusan pembinaan guru, ada pembinaan yang reguler dan terus berjalan baik melalui MGMP maupun  kegiatan dari dinas pendidikan. Melihat kasus kekerasan yang sudah terjadi di Banyumas dalam waktu dekat, Purwadi mengatakan, anak atau siswa sebagai subjek dan objek dalam pembelajaran tidak bisa disalahkan. Namun, kata dia, juga jangan sampai ada pembenaran sepenuhnya kepada anak.

“Pada prinsipnya, pendidikan adalah proses bagaimana membentuk karakter siswa untuk pendewasaan diri,” katanya. Purwadi berharap, semua pihak bisa berada dalam posisi untuk bisa menyelesaikan permasalahan.

Dia pun mengatakan, tidak selalu konflik yang terjadi harus dilaporkan ke ranah hukum. “Karena punishment juga harus mendidik,” katanya.

Sebelumnya, Kepala SMPN 2 Cilongok, Hartoyo saat dihubungi melalui sambungan telepon mengatakan jika kasus yang terjadi sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan. “Itu sudah kami laporkan ke kepala dinas,” katanya singkat sembari menutup sambungan telepon, Rabu (8/8).

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Senin (6/8) sejumlah orangtua siswa mendatangi SMPN 2 Cilongok untuk melaporkan perbuatan seorang oknum guru yang diduga telah melakukan penganiayaan dengan memukul gagang sapu kepada anak mereka. Informasi yang didapat, peristiwa berawal saat salat Jumat berjamaah di sekolah pada Jumat (3/8) lalu.

Saat itu, beberapa siswa menirukan guru yang memiliki aksen cadel. Merasa tersinggung, oknum guru tersebut memanggil 15 anak yang diduga menirukan aksen cadelnya. Siswa tersebut lantas mendapatkan hukuman dengan  dipukul satu persatu menggunakan gagang sapu untuk mengakui perbuatannya.

Imbas dari hukuman itu, seorang siswa WS (14)  mendapatkan pukulan gagang sapu paling banyak mengalami memar dan sempat muntah-muntah saat pulang ke rumah. Orangtua WS dan orangtua siswa lainnya yang tidak terima dengan perbuatan oknum guru tersebut kemudian meminta pertanggungjawaban dari pihak sekolah. (anas@satelitpost.com/rare@satelitpost.com)