PROSESI jelang pemakaman Kohar Mutalim, guru asal Cilacap yang meninggal saat arung jeram di Banjarnegara, Senin (12/3).

BANJARNEGARA, SATELITPOST-Insiden wisata arung jeram yang menewaskan 2 orang di Sungai Serayu Banjarnegara, Minggu (11/3) kemarin menyisakan duka yang sangat mendalam bagi pengelola wisata arung jeram di Banjarnegara. Untuk memberikan keamanan bagi wisata minat khusus ini, pengelola siap berbenah dan meningkatkan keamanan bagi wisatawan.

Diketahui, dua orang yang meninggal saat rafting atau arung jeram adalah Ahmad Prihantoro (25) seorang guide dan Drs Kohar Mutalim guru di SMPN 2 Kroya. Tri Haryanto, pengelola wisata arung jeram Sungai Serayu mengakui jika musibah kecelakaan air yang terjadi di Sungai Serayu kemarin masih menyisakan duka, namun kondisi tersebut sekaligus memberikan pelajaran sangat berharga bagi pengelola wisata arung jeram di Banjarnegara.

Baca Juga: 2 Meninggal Saat Arung Jeram di Banjarnegara

Menurutnya, proses keamanan sebenarnya sudah dilakukan sebaik mungkin sesuai dengan prosedur tetap mengamankan arung jeram. “Kami sangat menyesalkan insiden yang terjadi di Sungai Serayu. Kami  juga menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban,” katanya.

Dalam pelaksanaan pengarungan, pengelola arung jeram di Banjarnegara telah mengacu pada standar keselamatan dan prosedur yang berlaku. Semua personel river guide dan tim rescue yang ikut dalam pengarungan tersebut adalah  personel yang sudah terlatih dan profesional.

Kejadian ini yang menewaskan 2 orang merupakan pertama kali sejak dibukanya wisata arung jeram di Banjarnegara. Standar operasional prosedur yang dijalankan operator menempatkan keselamatan dan keamanan menjadi prioritas utama dalam setiap pengarungan. “Kejadian hari ini akan menjadi catatan penting untuk kami meningkatkan standar operasional arung jeram di Sungai Serayu, agar menjadi lebih baik dan lebih aman,” katanya.

Baca Juga: Insiden Arung Jeram Maut di Sungai Serayu, Ini Penjelasan The Pikas Banjarnegara

Sementara, jenazah Drs Kohar Mutalim (54), guru yang meninggal pada saat berwisata arung jeram di Banjarnegara, dimakamkan Senin (12/3). Prosesi pemakaman diiringi isak tangis keluarga, dan juga keluarga besar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kroya.

Pemakaman guru Bimbingan Konseling di SMP N 2 Kroya ini dimakamkan di tempat pemakaman umum Kroya. Jenazah diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Jenderal Sudirman 968 Kroya sekitar pukul 10.00 WIB, yang disalatkan terlebih dahulu di Masjid Kauman, di depan rumahnya.

Upacara pemakaman jenazah Kohar Mutalim, dipimpin oleh Kepala Bidang PPTK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap, Paiman SAg. Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji melalui sambutan yang dibacakan oleh Paiman, menyampaikan rasa bela sungkawa atas meninggalnya Kohar Mutalin. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan lahir dan batin serta petunjuk dari Allah.

“Kita mendoakan semoga amal baktinya diterima dan diampuni dosa, serta diberi jalan yang terang serta mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya,” ujar Paimin.

Kepergian almarhum Kohar ini meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besar SMP N 2 Kroya. Kepala SMP N 2 Kroya, Maftukh Robani mengaku kehilangan sosok guru yang disiplin dan selalu bekerja keras ini. “Kami tidak menyangka acara wisata untuk bergembira, ternyata berakhir duka,” ujarnya di sela-sela upacara pemakaman, kepada wartawan.

Kohar, yang sudah bekerja selama 32 tahun lebih ini meninggalkan satu orang istri, bernama Masrikhah, serta dua orang anak Afrial Irfa dan Aulia Rahma N. Sebelumnya, dua orang meninggal dunia saat arung jeram di Sungai Serayu Banjarnegara, Minggu (11/3). Mereka yang meninggal dunia adalah Ahmad Prihantoro (25) seorang guide dan Drs Kohar Mutalim guru di SMPN 2 Kroya. (oel/ale)