PURWOKERTO, SATELITPOST-Bencana datang bertubi-tubi di tahun 2017. Musibah itu menerpa di seputaran Banyumas Raya. Ada banjir, longsor, puting beliung, dan efek dari gempa di Tasikmalaya tengah bulan ini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas membeberkan pada 2017 tercatat ada 338 bencana. Data tersebut merupakan rekapitulasi dari Januari sampai per tanggal 17 Desember 2017.

Berdasarkan data dari BPBD Banyumas, pada Januari lalu, terjadi 66 bencana. Tanah longsor,  banjir, kebakaran, angin puting beliung, bangunan ambruk, dan  tanah bergerak jadi potret bencana yang terjadi. Dengan kejadian bencana tersebut total kerugian ditaksir mencapai Rp. 900 juta lebih.

Untuk lokasi kejadian pada bulan Januari tahun 2017 berada di Kecamatan Gumelar, Lumbir, Kedungbanteng, Patikraja, Sumpiuh, Purwojati, dan Cilongok. Selain itu juga ada lokasi kejadian di Kecamatan Ajibarang, Kebasen, Jatilawang, Sumbang, Somagede, Kemranjen, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Selatan.

Sementara, pada Mei 2017 terjadi sejumlah 14 kejadian bencana seperti  kebakaran, longsor dan bangunan ambruk. Dengan kejadian bencana tersebut total kerugian ditaksir sebesar Rp. 180 juta lebih. Data Juni tahun 2017, terjadi sejumlah 11 kejadian bencana. Pada bulan ini terjadi bencana seperti longsor, kebakaran, angin kencang, dan pohon tumbang. Dengan kejadian bencana tersebut total kerugian ditaksir sebesar Rp. 250 juta lebih

Untuk lokasi kejadian pada bulan Mei dan Juni tahun 2017 berada di Kecamatan Pekuncen, Ajibarang, Kemranjen, Tambak, dan Kedungbanteng. Selain itu juga ada lokasi kejadian di Kecamatan Banyumas, Kemranjen, Sumbang, Patikraja, Kedungbanteng, Baturraden, dan Gumelar.

Sementara itu khusus pada Desember 2017 kerugian ditaksir mencapai Rp 5 miliar lebih. Kerugian tersebut akibat dampak gempa bumi di RSUD Banyumas dan longsor di Desa Cihonje Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas. Seperti diketahui, pada pertengahan Desember 2017, gempa bumi terjadi di selatan Tasikmalaya, Jawa Barat. Gempa tersebut dirasakan di Banyumas dan Cilacap.

Kasi Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Banyumas Catur Hari Susito menyampaikan, kepada seluruh masyarakat Kabupaten Banyumas agar tetap waspada dengan berbagai bencana. Bencana yang dimulai dengan kekeringan, banjir dan puting beliung. Serta yang kita tidak menduga yaitu adanya gempa bumi dan longsor.

Satu bencana yang juga menyolok perhatian adalah adanya banjir bandang pada Oktober lalu. Banjir bandang terjadi di beberapa sungai di Banyumas. Warga menuding bahwa bencana itu tak lepas dari adanya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di lereng Gunung Slamet. Seperti diketahui, pembangunan PLTPB menuai pro dan kontra. Sekalipun pembangunan tersebut diharapkan bermanfaat di masa yang akan datang, di masa kini kerugian warga begitu kentara terlihat. Selain banjir bandang, ada juga air keruh yang melanda sebagian sungai di Banyumas.

Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap mencatat ada sebanyak 230 kejadian banjir, longsor, dan angin puting beliung yang terjadi sejak Januari sampai November 2017. Pada Desember ini ada kejadian gempa bumi Tasikmalaya dengan kekuatan 6,9 SR yang menyebabkan ribuan rumah dan infrastruktur terdampak.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy secara rinci mengatakan, bencana dari banjir ada sebanyak 66, kejadian longsor sebanyak 93, dan angin kencang terjadi sebanyak 71 kali dengan kerugian mencapai Rp 11.835.155.000. Sedangkan untuk gempa bumi data yang tercatat sampai pada 27 Desember kemarin terdampak pada 1.220 bangunan yang tersebar di 88 desa dan kelurahan di 21 kecamatan dengan kerugian mencapai Rp 9.923.482.000.

Dari jumlah tersebut, di antaranya ada sebanyak 93 rumah roboh, rumah rusak berat sebanyak 193 unit, rumah rusak sedang sebanyak 153, rusak ringan sebanyak  758 unit, sekolah rusak tiga unit, pasar rusak dua unit, musala dua unit, dan infrastruktur lainnya sebanyak 16 unit.

Dampak gempa terbanyak berada di Kecamatan Kampung Laut, dengan sebanyak 521 bangunan yang terdampak. Sejumlah 28 rumah di antaranya mengalami roboh. Dilanjut pada Kecamatan Bantarsari dengan 180 rumah terdampak, Patimuan dengan sebanyak 76 rumah terdampak, dan Cilacap selatan dengan 75 rumah dan infrastruktur yang terdampak. Hanya tiga kecamatan yang tidak terdampak gempa bumi kemarin, yakni Karangpucung, Binangun dan Sampang.

“Total kerugian mencapai Rp 21,758 miliar lebih. Perinciannya dari kerugian untuk bencana banjir, longsor, dan angin puting beliung sebesar Rp 11,8 miliar lebih dan untuk gempa bumi mencapai Rp 9,923 miliar,” kata Tri Komara Sidhy, Kamis (28/12).

Tri Komara mengatakan, untuk kejadian banjir memang sudah hampir setiap musim penghujan melanda beberapa kecamatan, baik di Sidareja. Bahkan, di tahun ini melanda daerah perkotaan. Bencana ini menjadi siklus yang tidak bisa dihindari.

Untuk longsor, banyak terjadi di wilayah barat Cilacap, serta untuk angin puting beliung hampir terjadi di setiap kecamatan. Terakhir yang terbesar adanya dampak gempa bumi. “Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena seperti kita ketahui, Cilacap menjadi peringkat pertama potensi kerawanan bencana di Jawa Tengah, yang sering disebut sebagai supermarketnya bencana,” katanya.

Bencana yang menimpa masyarakat Cilacap ini, kata dia, bukan hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah saja, terutama BPBD. Selain itu juga tanggung jawab masyarakat dan didukung dunia usaha.

Penanganan yang diberikan oleh BPBD kepada masyarakat terdampak, kata dia, dengan melakukan evakuasi, dan saat ini masih terus mendistribusikan bantuan terutama terdampak gempa bumi. Bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak ini, kata dia, juga mendapat dukungan dari dunia usaha karena anggaran dari APBD belum maksimal.

“Maka kita libatkan  dunia usaha dan alhamdulillah yang mendukung dari Pertamina, Semen Holcim, Pelindo III, PLN, gabungan perusda dan perbankan,  sudah didistribusikan logistik bahan bangunan ringan (BBR) maupun logistik permakanan,” ujarnya.

Bantuan ini diberikan kepada masyarakat yang rumahnya mengalami roboh dan rusak berat. Menurutnya, bantuan ini diberikan untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak, meskipun bantuan yang diberikan jumlahnya tidak banyak.

Selain dari dunia usaha, BPBD juga akan segera mengajukan Bantuan Sosial dari Gubernur Jawa Tengah untuk perbaikan rumah roboh dan rusak berat. Tri Komara mengatakan, bansos ini bisa keluar dengan syarat minimal ada lima rumah yang mengalami roboh dalam satu kejadian.

“Ini ada 93 rumah yang mengalami roboh. Jadi kita akan ajukan bansos kepada Gubernur Jateng, diupayakan Januari besok akan dikirim, untuk anggaran tahun 2018,” katanya.

Meski tahun 2017 akan selesai, BPBD masih terus meminta masyarakat tetap waspada dengan masih adanya bencana alam yang terjadi. Terutama, karena  sampai Januari masih diprediksi terjadi musim penghujan. Relawan, masyarakat untuk tetap waspada.

Tri Komara juga meminta masyarakat tidak mempercayai adanya prediksi akan adanya gempa lagi yang terjadi di akhir tahun ini. Karena saat ini, kata dia, belum ada alat yang bisa memprediksi akan adanya gempa bumi.

“Itu berita palsu karena gempa tidak bisa diprediksi. Namun jika hujan, masih bisa diprediksi oleh BMKG, juga longsor yang bisa diprediksi. Masyarakat diharap tetap siaga waspada,” katanya. (ale)

1. Kerugian di Purbalingga Lebih dari Rp 6 M

Lebih dari seratus kali wilayah Purbalingga dihantam bencana, sepanjang tahun 2017.  Baik bencana alam berupa banjir, longsor, angin puting beliung, sampai bencana yang disebabkan kelalaian manusia seperti kebakaran. Beruntung, tidak korban jiwa selama bencana di tahun ini. Sampai pertengahan Desember, tercatat kerugian materi mencapai lebih dari enam miliar rupiah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Satya Giri Podo melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Muhsoni menyampaikan, bencana alam longsor paling sering terjadi. Data yang tercatat sampai pertengahan Desember, mencapai 39 peristiwa. Sedangkan kebakaran menempati posisi kedua, yakni mencapai 38 peristiwa.

“Peristiwa bencana angin sebanyak 20 kali, banjir 11 kali, dan gempa 1 kali. Longsor sering terjadi di Purbalingga, karena memang di wilayah utara Kabupaten Purbalingga reliefnya berupa dataran tinggi, didukung dengan kontur tanahnya,” kata dia, Jumat (29/12).

Selama satu tahun ini, lanjut Muksoni, bencana yang terjadi tidak sampai menjatuhkan korban jiwa. Namun sampai 19 Desember 2017, tercatat kerugian materi sudah mencapai Rp 6.296.174.000. Sedangkan bangunan atau rumah yang mengalami kerusakan terhitung ada 267 unit.

“Tidak ada korban jiwa karena bencana di tahun ini, sedangkan luka ringan ada, satu orang anak kecil sewaktu kejadian angin puting beliung yang mengakibatkan pohon roboh menimpa rumah. Sementara ini sampai 19 Desember kerugian mencapai Rp 256.500.000,” kata dia.

Muksoni menceritakan, pada kejadian hujan deras pekan lalu, yang mengakibatkan terjadinya banjir di beberapa kecamatan, dan tanah longsor, ada dua rumah terdampak, Diketahui kerugian mencapai Rp 54 juta karena satu rumah di Kaliori mengalami rusak berat.

“Rumah terdampak di Desa Kaliori, RT 12/3, Kecamatan Karanganyar ialah milik Sulemi. Setelah hujan mulai reda sekitar pukul 18.00, tebing landai di samping rumah longsor,” ujarnya.

Bangunan rumahnya hanya mengalami keretakan. Namun pada keesokan paginya sebagian bangunan ikut amblas bersama tanah yang longsor. “Saat dilakukan pengecakan dan assessment Selasa pukul 20.00 tanah masih bergerak. Rabu pagi dilakukan pengecekan ulang, sebagian bangunan sudah longsor,” katanya. (min)

2. Satu Warga Banyumas Positif Difteri

PURWOKERTO, SATELITPOST-‎Sebanyak dua kasus difteri ditemukan di Kabupaten Banyumas. Dengan satu di antaranya sudah dinyatakan positif terinveksi difteri.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Sadiyanto mengatakan keduanya sudah ditangani pihak rumah sakit. “Satu orang sudah terkonfirmasi positif difteri. Tapi keadaannya sudah membaik dan stabil. Hanya tinggal menunggu masa pemantauan selama 14 hari,” kata Sadiyanto pada SatelitPost, Jumat (29/12).

Sedangkan satu kasus lainnya masih dalam observasi menunggu hasil laboratorium. “Memang benar suspect dan harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kami masih menunggu hasilnya dalam beberapa hari,” kata dia.

Kendati demikian, menurut dia, masyarakat Banyumas tidak perlu khawatir karena Dinas Kesehatan telah melakukan ORI (outbreak response immunization). Yakni imunisasi yang diberikan karena munculnya kasus difteri di suatu wilayah dengan kajian epidemiologi. Dengan rentang-rentang pemberian bisa untuk 2 bulan sampai 19 tahun, tapi tergantung kajian epidemiologi untuk usia sasarannya. “Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas sudah memberikan ORI kepada anak usia 2 bulan sampai 19 tahun di kecamatan pasien positif difteri,” katanya.

Selain ORI, ia mengungkapkan, penanganan yang akan dilakukan adalah memperkuat imunisasi dasar lengkap dengan cakupan 90 persen. Pihaknya juga sudah melakukan surveilans (pengamatan penyakit). “Kalau ada satu suspect, kita lakukan pengamatan epidemiologi dengan memeriksa kontak terdekat dari kasus itu. Yaitu dengan memeriksa tenggorokannya,” bebernya.

Bukan hanya itu, dua kasus difteri tersebut, menurut dia juga sudah diberikan ADS (anti difteri serum). “Sudah diberikan ADS juga, satu pasien sudah membaik dan stabil tapi belum dipulangkan. Masih pemantauan selama 14 hari,” kata dia.

Kasus positif difteri di Banyumas‎ menjadi satu langkah awal untuk bersama-sama menyukseskan imunisasi. Hal tersebut diungkapkan Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, dr Arif Sugiono‎. Menurut dia, adanya kasus tersebut masyarakat tidak perlu khawatir. Yang terpenting menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS).‎

“Selain PHBS, juga jangan lupa mengikuti semua program imunisasi, untuk menjaga diri dan keluarga dari penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi,” kata dr Arif.

Sehingga, ia mengimbau masyarakat supaya cek kembali status imunisasi, apakah sudah lengkap atau belum. Dari DPT 1, DPT 2, dan DPT 3. Serta saat kelas 1, 2, dan, 3, atau 5. S‎ementara jika belum lengkap, ia mengimbau masyarakat supaya segera melengkapi.

Sebab, menurutnya difteri merupakan penyakit yang sangat cepat penyebarannya. Seperti halnya influenza yang menularkan melalui udara dari percikan dahak saat penderita batuk. Penyakit tersebut menurut dia menyerang selaput lendir pada hidung atau tenggorokan.

Selain itu juga bisa menyerang kulit. Dengan gejala awalnya, penderita akan mengalami demam bisa disertai batuk pilek, nyeri tenggorokan, pembengkakan limfe di leher. “Ciri khasnya muncul selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan,” kata dia.

Selaput putih keabu-abuan ini yang kata dia dapat menyebabkan kematian. Karena akan mengeluarkan toksin atau racun. Yang kalau masuk ke dalam darah bisa menyebabkan kerusakan otot jantung dan bisa juga ke ginjal. “Yang jelas jika selaput menutup jalan napas, maka tidak bisa bernapas,” katanya.

Namun, katanya, jika penanganannya cepat, penderita segera bisa tertolong asalkan kondisi umumnya segera tertangani. “Karena yang dicegah penyebaran toksinnya ke seluruh tubuh,” katanya. (alf)