NOMOR punggung peserta audisi beasiswa bulutangkis yang masih dipermasalahkan KPAI karena terdapat logo Djarum saat proses audisi hari kedua di GOR Satria Purwokerto, Senin (9/9/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH
NOMOR punggung peserta audisi beasiswa bulutangkis yang masih dipermasalahkan KPAI karena terdapat logo Djarum saat proses audisi hari kedua di GOR Satria Purwokerto, Senin (9/9/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

PURWOKERTO, SATELITPOST-Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kembali mempermasalahkan audisi bulutangkis yang dilakukan Persaturan Bulutangkis (PB) Djarum di Purwokerto, Minggu (8/9/2019). KPAI menilai audisi tersebut masih memunculkan eksploitasi anak untuk promosi rokok Djarum.

 

‘Serangan’ yang dilakukan KPAI pada audisi bulutangkis PB Djarum ini bukan kali pertama. Sebelumnya, KPAI mempersoalkan audisi bulutangkis tersebut karena dinilai bertentangan dengan UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012. KPAI menilai bahwa dua regulasi itu melarang perusahaan rokok menyelenggarakan kegiatan yang menampilkan logo, merek, atau brand image produk tembakau.

 

Karena ‘serangan’ pertama dari KPAI itu, PB Djarum memutuskan tak akan melakukan audisi bulutangkis pada tahun 2020. Audisi bulutangkis yang sudah dilakukan selama beberapa tahun belakanganini adalah untuk mencari bibit unggul atlet bulutangkis.

 

Setelah ‘serangan’ pertama, KPAI tetap melakukan pemantauan audisi bulutangkis PB Djarum di Purwokerto. Hasilnya, KPAI masih menemukan adanya eksplotasi anak untuk promosi rokok Djarum.

 

Komisioner KPAI, Sitti Himawatty menekankan masih ada dua unsur yang wajib menjadi perhatian PB Djarum proses audisi tersebut. Pihaknya beranggapan tidak ingin menghentikan sebuah audisi selama audisi itu tidak mengandung dua unsur.

 

“Unsur yang pertama adalah unsur eksploitasi yang sifatnya terselubung. Yaitu pemanfaatan anak untuk promosi secara tidak langsung dengan menggunakan badan mereka sebagai media promosi. Kalau sudah dipakai mereka kan tidak ada unsur pajaknya, tidak ada batas waktu sampai kapan dipakai,” kata Sitti usai audiensi dengan Pemkab Banyumas di Pendapa Sipanji Purwokerto, Senin (9/9/2019).

 

Menurut Sitti, dengan adanya brand rokok yang menempel di berbagai media saat audisi merupakan bentuk denormalisasi produk-produk yang berbahaya. “Rokok di dalam Undang-Undang Kesehatan No 39 Tahun 2009, dikatakan sebagai produk yang berbahaya. Maka dari itu, mulai dari peredaran promosinya, dan interaksi dengan pihak-pihak tertentu, harus dibatasi terutama anak-anak,” katanya.

 

Selain itu di dalam PP No 109 Tahun 2012 dikatakan untuk event-event yang disponsori oleh rokok tidak boleh disiarkan secara langsung oleh media. Atas dasar itu, audisi Djarum yang dalam bentuk sekarang memang akan diakhiri. Siti mengungkapkan jika PB Djarum didalam pertemuan terkahir pada 4 September 2019 mengatakan siap untuk menurunkan titlenya atau embel-embel Djarum, dalam Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis

 

“Hal itu sudah tidak ada dan diganti dengan nama Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis. Kemudian Jersey, juga sudah bisa diganti meskipun masih ada tulisan Djarum yang disematkan di bagian belakang. Prinsipnya kami dari KPAI bukanlah seperti Satpol PP, ada suatu masalah langsung suruh bubar-bubar,” katanya.

 

Lalu unsur kedua menurut Sitti dampaknya pada denormalisasi produk, seolah rokok bukan merupakan merupakan barang berbahaya. Menurutnya, memang bukan dalam jangka waktu dekat dampaknya.

 

“Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, tingkat keterpaparan rokok pada anak pemula untuk merokok tahun 2013 sebesar 7,2%, dan pada 2018 tingkat keterpaparan menjadi 9,1%. Salah satunya karena promosi ini. Kenapa baru sekarang? Karena kami menunggu hasil riset kesehatan. Setiap promosi yang melibatkan anak akan berdampak,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu Pelaksana Teknis PB Djarum, Fung Permadi menegaskan akan bergerak pada garis arahan yang ditentukan. Selama ini arahannya seperti apa, tidak akan menghilangkan komitmen turut andil dalam menyumbangkan atlet bulutangkis.

“Intinya, tidak akan menghilangkan komitmen dari kami tim pembinaan PB Djarum untuk selalu membina atlet dan menyumbangkan atlet dipelatnas dan nantinya akan siap kalau nanti kita hanya boleh membina U-15 kami akan lakukan itu,” ujar Fung di sela proses audisi bulutangkis di GOR Satria Purwokerto berlangsung. (anang@satelitpost.com)