PETUGAS menata surat suara pemilu presiden dan wakil presiden yang baru datang di Gudang KPU Banyumas,Selasa (26/3/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH
PETUGAS menata surat suara pemilu presiden dan wakil presiden yang baru datang di Gudang KPU Banyumas,Selasa (26/3/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

Pelaksanaan pesta demokrasi yang dilakukan secara serentak dari lima jenis pemilihan dirasakan sangat menguras energi para penyelenggara pemilu.

 

“Dari kacamata penyelenggara, memang dalam pemilu serentak ini stamina benar-benar terkuras. KPU juga kelelahan, tetapi untuk hal ini kami hanya menjadi pelaksana kebijakan secara nasional,” kata Komisioner KPU Banyumas Divisi Teknis, Hanan Wiyoko, Senin (22/4).

 

Dia mengatakan, penyelenggara pemilu harus dalam kondisi prima di masa persiapan, pemungutan, dan penghitungan suara. Konsentrasi penuh terjadi dalam proses penghitungan agar tidak terjadi kesalahan.

 

Dia mengatakan, dari sisi teknis dalam pemilihan umum lima jenis surat suara ini membutuhkan berkas administrasi yang sangat banyak. Para penyelenggara, katanya, dituntut untuk bisa membereskan dengan baik dalam waktu yang cepat.

 

Terkait dengan adanya penyelenggara yang meninggal, ia menyampaikan terima kasihnya dan turut berbelasungkawa bagi keluarga yang ditinggalkan. Untuk saat ini, lanjutnya, KPU belum memberikan tali asih kepada keluarga. “Saat ini belum, tetapi untuk upah para penyelenggara sudah disalurkan pada saat hari H pelaksanaan pemungutan suara,” katanya.

 

Ia mengakui, meski dalam pelaksanaan berjalan dengan aman, masih ada banyak hal yang harus dievaluasi untuk menjadi perbaikan dalam penyelenggaraan pemilu selanjutnya. Untuk sementara ini, Hanan menjelaskan, pihaknya menilai keterbatasan SDM dan mepetnya pembentukan penyelenggara di tingkatan bawah menjadi bahan evaluasi.

 

“Kita mengalami keterbatasan SDM karena rata-rata yang sudah pernah menjadi penyelenggara sudah dua periode. Akhirnya banyak di antaranya yang baru pertama dan masih muda ada juga yang sudah tua,” katanya.

 

Ia mencontohkan, seperti yang terjadi di TPS 13 Rejasari yang kesemua penyelenggara pemungutan suara sudah berumur. Hal ini sempat menjadikan KPU dan PPK turun tangan ke TPS tersebut karena sampai pada batas waktu dan sudah sampai perpanjangan 12 jam prosesnya belum rampung.

 

Kemudian, dengan waktu bimbingan teknis yang terbatas juga menjadikan para penyelenggara ini tidak memahami secara menyeluruh peraturan yang ada. “Waktu bimtek terbatas, dari dilantik 27 Maret sedangkan materi banyak dan rumit. Sehingga ada kasus ketidaktahuan penyelenggara seperti yang terjadi di Patikraja,” katanya.

 

Sementara itu, Ketua KPU Banyumas, Imam Arif Setiadi membenarkan, jika dalam pemilu kali ini, rata-rata banyak penyelenggara yang sudah berumur. “Hingga saat ini, penyelenggara pemilu baik itu dari KPPS dan Linmas yang meninggal ada tiga. Sedangkan yang harus dilarikan ke rumah sakit juga ada tiga,” katanya. (nns)