Saat ini kita sedang gelar perkara (terkait status dari oknum Satpol PP, red), setelah gelar perkara mekanismenya ada penetapan tersangka. Kemudian tersangka kita panggil.

AKP Djunaedi SH
Kasat Reskrim Polres Banyumas

PURWOKERTO, SATELITPOST-Polres Banyumas fokus mengusut oknum Satpol PP terduga pelaku penganiayaan terhadap wartawan Metro TV Darbe Tyas. Darbe diketahui dianiaya saat meliput demo aksi penolakan proyek Pembangkit Listrik Tanaga Panas Bumi (PLTPB), Sanin (9/10) malam di depan Kompleks Pendapa Sipanji.

Sebelumnya, kepolisian sudah menetapkan empat tersangka oknum kepolisian terkait kasus penganiayaan pada Darbe. Empat tersangka dari pihak kepolisian adalah Aiptu AS, Bripda GP, Bripda HD, dan Bripda Aya.

“Saat ini kita sedang gelar perkara (terkait status dari oknum Satpol PP, red), setelah gelar perkara mekanismenya ada penetapan tersangka. Kemudian tersangka kita panggil. Mungkin hari Jumat paling cepat, paling lambat ya Senin. Kalau polisi hari kerjanya sesuai kalender,” kata Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIK, melalui Kasat Reskrim, AKP Djunaedi SH, Kamis (12/10).

Djunaedi menambahkan Kamis kemarin pihaknya terus melakukan gelar perkara, ada tiga orang yang dimungkinkan menjadi tersangka dari pihak Satpol PP. “Sekarang ini masih kita gelar, pasti kita tuntaskan, yang sudah diperiksa dari Satpol PP sudah tujuh orang,” ujarnya.

Selain Satpol PP, polisi juga memeriksa warga sipil yang terlibat dalam aksi pembubaran di depan Kantor Bupati Banyumas, Senin (9/10) malam. “Untuk Polri kita juga memeriksa tiga orang saksi lagi, sementara yang empat (oknum polisi yang ditetapkan sebagai tersangka, red) sudah dibawa ke Polda, jadi belum kita periksa,” kata dia.

Seperti diberitakan, kekerasan terjadi dalam aksi penolakan PLTPB di depan Pandapa Sipanji Purwokerto, Senin (9/10) malam. Kekerasan fisik dialami Darbe Tyas, wartawan Metro TV saat dia meliput aksi demonstrasi tersebut.

Tak hanya Darbe, sedikitnya ada empat wartawan lain yang mengalami intimidasi hingga disusul perampasan atribut dokumentasi. Keempat wartawan tersebut yakni Agus Wahyudi (Suara Merdeka), Aulia El Hakim (SatelitPost), Maulidin Wahyu (Radar Banyumas) dan Dian Aprilianingrum (Suara Merdeka). Selain wartawan, kekerasan juga dialami oleh peserta aksi.

Sebelumnya, terkait adanya anggota yang dinilai menyalahi prosedur, Kepala Satpol PP Pemkab Banyumas, Imam Pamungkas mengakuinya. Dia mengatakan, ada tindak kekerasan dan penganiayaan dari Satpol PP. Dia menyatakan tidak akan melindungi anak buahnya yang sedang diperiksa oleh Polres Banyumas akibat melakukan penganiayaan terhadap wartawan saat meliput demonstrasi penolakan PLTPB Gunung Slamet.

“Saya tidak akan melindungi anak buah saya karena saya sebelumnya sudah ngomongi jangan sampai ada yang nyentuh dan mukul ke demonstran, apalagi ke wartawan. Perintah polisi waktu itu hanya diminta membongkar tenda, setelah itu mereka saya perintahkan masuk,” kata Imam Pamungkas, Rabu (11/10).

Sementara itu, seorang mahasiswa yang ikut menjadi korban kekerasan aparat masih ditangani di ruang Anyelir Nomor 416 RS Margono Soekarjo Paviliun Geriatri, Kamis (12/10). Dia adalah Anjar Setiarma mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah IAIN Purwokerto.

Anjar masih berbaring sembari memainkan gadgetnya mengurangi rasa bosan. Anjar yang ditemani pamannya, menceritakan kisahnya di malam nahas itu. Senin (9/10) malam, ia tengah mengunjungi Gramedia di Rita Supermall bersama kawannya. Meskipun ia mengetahui di hari yang sama ada aksi penolakan PLTPB Baturraden, namun ia mengaku tidak menyangka aksi masih berlangsung sampai malam. “Sudah tahu ada aksi, tapi saya kira sudah selesai. Karena biasanya kan sampai jam 6 sore sudah selesai,” kata dia.

Malam itu, ia tidak hanya mengunjungi toko buku yang ada di Rita Supermall saja. Tapi ia juga sesekali menyaksikan ‎grand final Kakang Mbekayu Banyumas yang digelar di hall Rita Supermall. Hingga, grand final berakhir, ia mencoba menghangatkan diri sembari menikmati malam Kota Purwokerto.

Ia pun berjalan di Alun-alun Purwokerto mencari wedang ronde untuk menghangatkan badan. ‎Tempatnya menikmati wedang ronde bersama kawannya memang tidak terlalu jauh lokasi aksi. “Awalnya asyik ngeronde sama teman. Tapi pas ribut saya ke sebelah barat. Niatnya mau pulang cari temen saya lagi, eh di situ ada Dalmas, ngomongnya kasar. Waktu itu saya minta supaya sopan. Tapi Dalmasnya tidak terima lalu mukul saya. Saya diseret sampai pendapa,” kata dia.

‎Ia mengaku sudah berteriak-teriak jika ia bukan termasuk peserta aksi. Bahkan, gadgetnya pun dirampas, entah diambil siapa. “Dari pihak kepolisian katanya belum menemukan HP-nya,” katanya.

Ia pun turut digiring ke Mapolres bersama puluhan peserta aksi lainnya. Ia harus jalan jongkok, KTP-nya diambil, bajunya disuruh dibuka bertelanjang dada. Untuk diperiksa.‎

Bahkan, kepalanya sempat ditendang, meskipun ia tidak merasa sakit. Namun, saat perutnya dipukul menggunakan tangan kosong, ia merasa sangat kesakitan, hingga beberapa hari. “Sudah bilang ke Polisi kalau saya bukan peserta. Pemeriksaan sampai jam 4 pagi. Baru boleh pulang jam 12 bersama peserta aksi,” katanya.

Merasa perutnya masih sakit, ia menghubungi keluarga dan memilih melakukan visum ke RSMS sekitar pukul 14.00. Di RSMS, sampel darahnya diambil dan di rontgen, selesai pukul 17.00.  “Tapi pihak kepolisian kemarin sudah menyampaikan tanggung jawab dan mau mengusutnya. Kapolres juga sudah ke sini mengaku menyesal,” kata dia.

Anjar yang awalnya dirawat di RSMS di kelas I. Menurutnya, setelah Kapolres Banyumas menjenguk memintanya dipindah ke kamar yang lebih privat supaya intensif. “Akhirnya dipindah ke sini. Terima kasih Pak Kapolres sudah mau tanggung jawab. Cuma disayangkan sekali pemukulan dan penganiayaannya,” kata mahasiswa asal Bukateja, Purbalingga ini.‎ Kapolres menurut dia juga sudah meminta supaya Anjar segera melaporkan kejadian tersebut setelah ia sembuh.

Sementara itu, dari pihak keluarga, Sunarto sang Paman mengatakan berharap hasil pemeriksaannya segera keluar. Karena sampai sekarang masih menunggu hasilnya.

Kapolres pun sudah menemui Anjar pada Rabu (11/10). Saat mendatangi Anjar, Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIk didampingi oleh KBO Reskrim Iptu Beny Timor dan Kanit Reskrim Iptu Mufti.

Dalam kedatangannya Kapolres langsung bertemu dengan pihak keluarga. Dalam pertemuan tersebut juga sempat hadir pula Wawkil Rektor 3 Kampus IAIN serta para mahasiswa IAIN yang merupakan rekan- rekan kuliah dari korban, Anjar.

“Kami turut prihatin tas kejadian yang menimpa Anjar, kami juga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas peristiwa tersebut. Kami benar-benar tidak menginginkan hal ini terjadi,” ujar Kapolres, Rabu (11/10).

Selain menjenguk korban, Kapolres juga memberikan dukungan serta menanggung seluruh biaya pengobatan selama di rumah sakit hingga Anjar bisa sembuh kembali.

Orangtua Anjar, Jupri menyampaikan terima kasih sekaligus permintaan maaf kepada pihak Kepolisian serta memaklumi atas kejadian yang melibatkan anaknya tersebut. “Terima kasih Bapak Kapolres, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas kunjungannya dan kami memaklumi kejadian ini. Karena anak kami berada di area tersebut saat peristiwa terjadi. Atas kejadian ini semoga kita bisa mengambil hikmahnya,” kata dia. ([email protected]/[email protected])


Penanganan di Banyumas Bisa Jadi Stadar Nasional

Dalam persoalan kasus penganiayaan dan pengeroyokan terhadap wartawan Metro TV Darbe Tyas, Polres Banyumas bertindak cukup cepat. Polisi langsung melakukan penyelidikan setelah adanya pelaporan dari Darbe. Bahkan polisi juga sudah menetapkan empat orang tersangka dari oknum Kepolisian, dan tiga orang berpotensi sebagai tersangka dari oknum Satpol PP.

Atas kinerja Polres Banyumas Darbe sangat mengapresiasi proses tersebut. Namun, demikian dirinya tidak bisa mengungkapkan keinginan dari proses tersebut secara pribadi. Dirinya hanya berharap kasus yang dialaminya bisa menjadi contoh bahwa profesi wartawan itu sangat serius dan harus dianggap serius juga oleh semua orang.

“Saya berterima kasih, urusan pribadi saya sudah diurus dengan baik. Tetapi jangan sampai urusan profesi saya menjadi selesai, karena ini bisa jadi preseden buruk terhadap profesi saya. Penanganan yang ada di Banyumas bisa menjadi standar di Indonesia. Saya berharap profesi kita bisa dianggap serius,” kata dia kepada SatelitPost, Kamis (12/10).

Dalam kesempatan tersebut, Darbe yang baru mau buka mulut soal kasus ini mengaku diperiksa sejak hari Selasa (10/10). Pemeriksaan berlangsung cukup serius dan profesional, hingga kemudian polisi menetapkan tersangka. Kemudian pada hari Rabu (11/10), Darbe juga kembali diperiksa oleh penyidik. Pemeriksaan berlangsung dari pukul 13.30-18.00 WIB.

“Saya diminta menceritakan secara detail, sampai disuruh menggambar posisi awal hingga saya dijatuhkan,” kata dia. (san)

Komentar

komentar