Polisi Diminta Lebih Tegas

PURWOKERTO, SATELITPOST-Ahli hukum Universitas Wijayakusuma (Unwiku) Dr Esti Ningrum SH MHum memberi pandangannya soal kasus prostitusi online yang mengemuka dalam beberapa hari belakangan ini. Dia mengatakan, ketegasan pihak kepolisian diperlukan karena prostitusi online di Banyumas sudah marak.

 

“Memang ini harus tegas untuk segera ditindak, karena sebenarnya di Kabupaten Banyumas sudah terbuka (prostitusi online, red). Sebenarnya banyak, cuman belum ada ketegasan. Saya kepengin dari aparat untuk menindak tegas, jangan dibiarkan karena Surabaya ada seperti ini, di sini jadi latah seperti itu. Sebenernya mereka (polisi, red) juga sudah tahu kok bahwa prostitusi online sudah ada di tempat kita dan bergerak secara terbuka,” kata dia ketika dihubungi SatelitPost, Jumat (8/2).

 

Berdasarkan penelusuran SatelitPost, terungkap juga bahwa prostitusi online marak di Banyumas. Bahkan, tidak hanya tersangka APP yang menggerakkan prostitusi online sebagai mucikari. Dari sumber yang enggan disebutkan namanya, beberapa orang bergerak menjadi mucikari untuk prostitusi online. “Saya kira banyak yang jadi mucikari, cuma saya tahu ada tiga, satu orang pegang lebih dari 10 PSK (penjaja seks komersial, red),” kata sumber SatelitPost.

 

Diketahui, seorang mucikari prostitusi online yang menjajankan wanitanya kepada pria hidung belang melalui media sosial twitter berhasil dibekuk oleh Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Banyumas. Lebih dari 15 orang yang dijajakan olehnya, satu di antaranya bahkan mengenyam pendidikan Program Pendidikan Magister (S2).

 

Penangkapan tersangka dilakukan setelah pihak Tim Cyber Crime Polres Banyumas melakukan penelusuran di sejumlah media sosial. Hingga kemudian mendapati seorang berinisial APP (28), warga Kelurahan Jatipadang, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang menyediakan jasa perempuan pekerja seks komersial kepada laki-laki hidung belang.

 

“Tersangka APP memublikasikan jasa tersebut di media sosial twitter berikut dengan foto-foto perempuan yang ditawarkan kepada para pemesan hingga kemudian terjadi transaksi jasa seks komersial, tarifnya Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta,” kata AKP Gede Yoga, Rabu (6/2).

 

APP terjerat pasal Pasal 45 ayat 1 UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal tersebut berbunyi,  ‘Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)’.

 

Adapun pasal 27 (1) berbunyi, ‘Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan’.

 

Pasal 27 ayat 2 berbunyi, ‘Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian’.

Pasal 27 ayat 3, ‘Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik’.

Pasal 27 ayat 4 berbunyi, ‘Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman’.

 

Jika Aktif Bisa Kena

Dr Esti Ningrum SH MHum mengatakan, jadi artinya, PSK yang sengaja menawarkan diri melalui aplikasi secara pribadi bisa terjerat UU ITE. “Karena memang itu kan mereka aktif kalau menggunakan aplikasi online sendiri dan menawarkan sendiri, itu bisa terjerat UU ITE,” ujarnya.

 

Namun, karena dalam kasus dengan tersangka APP, tak ada keaktifan dari PSK, maka PSK tersebut tak jadi tersangka. “Saya memberikan apresiasi langkah hati-hati Polres Banyumas, langkahnya memang bagus, tetapi memang itu masih dalam pengembangan. Sebenarnya kasus semacam itu banyak di Banyumas hanya perlu ketegasan lagi,” kata dia.

 

Kasus prostitusi online ini marak jadi pemberitaan setelah ada kasus yang terungkap di Surabaya. Dari kasus prostitusi online di Surabaya tersebut, artis Vanessa Angel dan beberapa mucikari ditetapkan sebagai tersangka. (sandi@satelitpost.com)

 

 

SIDEBAR

Ada yang Tertipu Mucikari Palsu

 

Seorang lelaki dengan inisial UL (30) mengaku sering menjajal bisnis esek-esek online memberikan cerita bahwa ada juga mucikari palsu yang gentayangan di dunia maya.

 

Dia mengatakan, dari beberapa kawannya ada penipuan berkedok mucikari online. “Jadi biasanya melalui aplikasi tertentu itu ada orang yang mengaku sebagai mucikari, terus menawarkan wanita-wanita beserta fotonya, informasi teman saya si biasanya mereka minta DP (down payment, red) dulu, terus katanya nanti baru dikasih tahu hotel dan katanya wanitanya sudah siap,” kata dia, Jumat (8/2).

 

Dari cerita teman-temannya, UL mengatakan, besaran penipuannya pun bervariasi.  “Macam-macam penipuannya, besarannya ada yang dari Rp 350 ribu sampai Rp 1 juta. Tergantung perempuan yang ditawarkan itu harga berapa,” kata dia.

 

Dia mengatakan, mucikari palsu itu meminta DP 50 persen dari harga PSK. UL, mengutip keterangan teman-teman wanitanya yang bergelut di bisnis esek-esek online, menjelaskan kasus penipuan memang cukup marak di kalangan prostitusi online. “Katanya yang ketipu itu ya mau laporan gimana, orang dia malu lah kalau mau laporan,” kata dia. (san)