BANYUMAS, SATELITPOST- Fisik yang sudah melemah di usia 90 tahun membuat sang maestro lengger lanang mengembuskan napas terakhirnya. ‎Sirwan, cucu tertua Dariah mengatakan, dalam pekan ini Dariah kerap mengeluh pusing dan lemas. Ia lebih banyak tiduran di kamar.

“Beliau tidak mau makan sehingga kondisinya semakin memburuk. Tadi malam (Senin dinihari) pukul 00.30 mengembuskan napas terakhir,” katanya usai pemakaman sang maestro lengger lanang ini.

DARIAH lengger lanang Banyumas. Dok Satelitpost

Ia mengaku tidak menerima firasat apapun dengan kepulangan Dariah. Hanya saja beberapa hari sebelumnya, Dariah meminta ketiga cucunya untuk kumpul. Ia meminta jika dirinya meninggal dunia nanti semua perangkat tari dan barang-barangnya agar disimpan baik-baik. “Permintaan terakhirnya minta es dawet dan bubur sumsum. Sekali makan bisa sampai dua bungkus,” katanya.

Baca Juga : Menjaga Tradisi Lengger Lanang Banyumas

‎Kepergian Dariah menjadi kedukaan sendiri bagi Sirwan sebagai cucu tertua dari tiga bersaudara. Meski Sirwan tidak lagi serumah dengan kakeknya namun hampir setiap hari menunggui sang kakek saat sakit.

‎”Waktu masih sehat betah di rumah saya. Kata beliau enak nggak enak tapi kalau makan di rumah saya selalu senang. Beliau bahkan punya gelas sendiri di rumah saya,” ‎kata Sirwan mengenang mendiang Dariah.

Yusmanto, budayawan lokal Banyumas mengaku sangat kehilangan atas kematian Dariah.‎ Menurutnya, ini adalah hilangnya legenda hidup dari tradisi lengger lanang di Banyumas. Dariah telah menorehkan sejarah tentang kontinuitas dan perkembangan lengger lanang. Dariah yang di masa kecilnya bernama Sadam secara nyata telah menyerahkan hidupnya secara total bagi keberlanjutan tradisi lengger lanang.

“Hingga di saat tutup usianya pun beliau masih berada di puncak eksistensinya. Ketokohannya tidak diragukan lagi. Bukan sekadar pada pemikirannya. Tetapi pada sosok Dariah itu sendiri yang telah begitu total menyerahkan dirinya demi keberlangsungan sebuah tradisi,” katanya.

Baca Juga: Dariah Dengar Lagu yang Disukai Langsung Joget

Lewat Yusmanto pula Dariah mendapat gelar Maestro dari Kemenbudpar pada tahun 2011 silam. Kekaguman pada sosok Mbok Dariah membuat Yusmanto mengusulkan penghargaan tersebut.

PELAYAT mengantar jenazah sang maestro lengger lanang, Dariah ke pemakaman, Senin
(12/2).SATELITPOST/TRIONO

‎”Memang saya yang mengusulkan Mbok Dariah untuk dapat penghargaan Maestro dari Pak Jero Wacik (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, red). Pada waktu itu posisi saya sebagai pembina di Padepokan Seni Banyu Biru Plana Kecamatan Somagede,” katanya.

‎Dariah lahir di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Banyumas tahun 1928 dengan nama asli Sadam. Perjalanannya di dunia seni tari dimulainya selepas akil baliq. Hobi menari dan menyanyi tembang jawa semasa kecil telah mengubahnya menjadi tokoh yang legendaris.

Baca Juga : Dariah, Maestro Lengger Lanang Banyumas Berpulang..

Masa kejayaan Dariah tercatat pada pertengahan tahun 1940 hingga 1965. Kejayaan Dariah mulai menurun saat meletusnya peristiwa 1965. Pasalnya, saat itu banyak kesenian tradisional yang dilarang karena dicurigai menjadi bagian penyebaran paham komunisme.

‎‎Bagi masyarakat seni di Banyumas dan sekitarnya, nama Dariah bukanlah nama asing. Dia dikenal sebagai lengger lanang yang mengalami tiga generasi penanda era perubahan dalam negara Indonesia. ‎Di akhir usianya Dariah meninggalkan satu anak angkat dan tiga orang cucu. Kini, seniman legendaris tersebut sudah tiada. Selamat jalan Mbok Dariah. (rar)‎