Santri menyiram tanamam anggrek secara bergiliran, yang tidak jauh dari komplek SATELITPOST/ALFIATIN

Matahari sudah mulai memancarkan sinar hangatnya yang memberikan semangat ratusan santri di Pondok Pesantren Mahasiswa An Najah Kutasari Kecamatan Baturraden. Usai ngaji pagi, Alip (21) yang masih mengenakan sarung lengkap dengan peci hitamnya menyiapkan adonan. Adonan itu merupakan campuran pakan ikan, vitamin dan maggot.

Begitu adonan dirasa cukup, ia dan santri putra lainnya langsung menebar pakan ikan itu ke kolam biflok yang ada di depan komplek santri putra. Sebanyak 12 kolam ini berisi ikan lele, dengan masing-masing kolam berisi 1.500 lele.  Setiap pukul 08.00 pagi mereka akan memberi makan dengan komposisi yang sama serta mengecek kebersihan kolam dan kesehatan ikan. Aktivitasnya, selain ngaji dan kuliah, juga mengelola 12 kolam bioflok program bantuan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto ini.

Santri Ponpes Mahasiswa An Najah memberi pakan ikan di kolam bioflok setiap pagi.SATELITPOST/ALFIATIN

Ponpes Mahasiswa An Najah memang sedikit berbeda dengan ponpes lainnya. Sebab, di ponpes dengan 301 santri yang semuanya mahasiswa ini tidak hanya belajar ngaji dengan kyai dan ustad/ustadzah saja. Tapi mereka juga belajar soft skill dan life skill.

Seperti aktivitas Alip dan santri putra lainnya, di An Najah ada berbagai unit usaha yang dikelola santri. Seperti bank sampah dan maggot, kolam biflok lele, ternak Mujaer, Bawal dan Melem. Selain itu juga ada koperasi santri, percetakan, book store, serta pertanian labu kuning dan tanaman anggrek.

Alip yang mendapat amanah dalam program bioflok ini mengatakan program bantuan biflok dari KPw BI Purwokerto ini memang belum menghasilkan karena belum masa panen. Tapi, sebelumnya, Pesma An Najah sudah berhasil ternak ikan Mujaer dan Bawal di kolam untuk kebutuhan konsumsi santri.Untuk biflok ini, kata dia, setelah 60 hari pembesaran akan panen. Dengan estimasi panen 1.500 ekor lele setiap kolamnya, keuntungan sebanyak Rp 500 ribu per kolam. Untuk pemasaran, pihaknya sudah bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banyumas.

“Tapi karena semua santrinya mahasiswa, jadi kendalanya pada waktu santri, kesulitan membagi waktu jadwal mengelola ikan ini.” katanya.

Kompleks Ponpes An Najah juga sangat terbuka. Karena komplek tempat tinggal santri ada di tengah-tengah pemukiman warga. Ada bangunan utama untuk santri putri dan untuk aktivitas mengaji, serta ada bangunan-bangunan rumah yang tersebar di antara pemukiman warga untuk santri putra juga untuk santri putri. Membuat para santri bisa saling berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Aziz (21) santri putra lainnya mengatakan, biasanya setiap akan mengaji seluruh santri yang tinggal di rumah selain gedung utama akan berjalan kaki menuju tempat ngaji. Yang membuat interaksi antara santri dan masyarakat sekitar juga semakin dekat. Selain bertegur sapa dengan masyarakat di  dekat kompleks masing-masing. Ngaji kata dia sudah menjadi aktivitas wajib setiap harinya.

Setiap pagi, sore, dan malam hari semua santri wajib ngaji berbagai ilmu agama. “Ngajinya kita bersama ustad/ustadzah dan abah (pengasuh ponpes, red). Tapi karena mahasiswa, ngaji sore setiap setelah shalat Ashar tidak sebagian tidak ikut karena masih kuliah,” ujarnya.

Pengasuh Ponpes Mahasiswa An Najah, Dr Moh Roqib mengatakan tradisi pesantren selain ngaji mempunyai tradisi hidup mandiri. Setiap upaya kemandirian bagi santri sama saja mengembalikan jati diri santri pada tradisi pesantren. Yang didukung tradisi kesederhanaan dalam bepikir dan bekerja.

“Bekerja dalam kehidupan santri adalah bagian dari kewajiban mensyukuri akal, kesehatan, kenikmatan dan lainnya.  Jiwa santri yang sebenarnya tidak bergantung pada posisi tertentu, maka disediakan media berlatih. Secara tradisional media berlatihnya menggarap sawah, ternak dan lainnya. Di An Najah kami sediakan beberapa kebun, kolam, juga ada bantuan kolam biflok dari BI untuk berlatih santri,” kata dia.

Ia berharap dengan media berlatih ini bisa belajar tentang bagaimana caranya bertani, berkebun, berternak dan lainnya. Supaya saat santri kembali ke rumah masing-masing di lingkungan tempat tinggalnya bisa mengembangkannya lagi. “Kami sangat berterimakasih karena dengan dukungan dari BI Purwokerto, santri semakin yakin yang dilakukan bagian dari program bersama untuk berlatih wirausaha, untuk mengembangkan agrobisnis dan usaha untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak,” katanya.

Program serupa kata dia juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena jumlah santri yang banyak dan tersebar di berbagai daerah. “Apalagi santri ini juga mahasiswa, mereka bisa ngaji tahu ilmu agama, punya pengetahuan umum hasil belajarnya di kampus dan kalau memiliki life skill tambahan yang cukup, apa yang disampaikan dan dilakukan mereka di masyarakat saat pulang ke lingkungan tempat tinggalnya akan menjadi lebih kuat, masyarakat lebih percaya dan bisa meningkatkan kemandirian perekonomian masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Deputi KPw BI Purwokerto Lukman Hakim mengatakan keberadaan pesantren potensinya sangat besar, sebagai instituai maupun dilihat dari jumkah santrinya. “Makanya, BI bersama Pemda masuk pesantren memberikan penguatan yang ada, membekali dengan softskill dari unit usaha yang ada, bantuan sarana prasarana produksi, dan menjalin kerjasama. Tapi tetap kita pantau perkembangannya,” kata dia. (alfi@satelitpost.com)