Juru Pelihara membuka tutup Sendang Mas, Senin (11/5).SATELITPOST/RARE

Wilayah kota lama Banyumas dulunya masih berupa hutan belantara dengan rawa-rawa berlumpur. Sementara, awal berdirinya pemerintahan kadipaten ini masih berlokasi di sebelah barat kota lama.

“Daerah selatan Alun-alun Banyumas dulu masih rawa berlumpur, makanya dulu setelah menjadi pusat pemerintahan dinamakan daerah Tembelang, artinya lumpur yang hilang,” kata Trijono Indra (38) juru pelihara Sendang Mas penerus juru kunci sepuh sebelumnya, Senin (11/3).

 

Awal pemindahan Kadipaten Banyumas ke kota lama (lokasi saat ini, red), lanjut dia, tak lepas dari keberadaan Sendang Mas atau lebih dikenal dengan nama Sumur Mas yang sampai sekarang ini masih ada keberadaannya di belakang gedung kantor Kecamatan Banyumas.

Baca Juga:

Sejarah Pasar Wage Purwokerto yang Jadi Saksi Bisu Toleransi Saudagar Islam dan Tionghoa

Kisah Tugu Kota Purwokerto, Ternyata Hadiah dari Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Rusia

Sulitnya Bikin Sumur di Ajibarang, Ternyata Berawal dari Sebuah Kutukan Kuno

Jauh sebelum pemindahan Kadipaten Banyumas, seorang Panglima Keraton Kertasura  bernama Raden Malik Gandakusuma pulang ke tanah kelahirannya di Banyumas. Pergolakan politik yang terjadi kala itu membuat Raden Malik Gandakusuma yang kelak dikenal sebagai Adipati Yudanegara II ( Bupati Banyumas ke-7) serta kesohor dengan julukan Tumenggung Yudanegara Seda Pendapa ini resah. Semedi atau bertapa menjadi penenang pikirannya sembari mencari petunjuk mengatasi kekisruhan yang terjadi. “Beliau melakukan semedi di perbukitan Wanasepi wilayah Desa Binangun,” kata Trijono.

 

Di suatu sore setelah Asar, dari ketinggian tempatnya bertapa, Raden Malik Gandakusuma melihat kilauan cahaya dari kejauhan. Kilau cahaya tersebut tegak lurus dari  langit yang saat itu berwarna keemasan menuju satu titik di antara hutan belantara.

 

Meyakini sebagai sebuah petunjuk dari yang Maha Pencipta, ia pun bergegas turun mendatangi sumber cahaya tersebut. Setelah menembus belantara hutan, didapatinya cahaya keemasan tersebut berasal dari sebuah tuk (sumber mata air, red) yang memantulkan cahaya langit senja. Ia pun mengambil air tersebut untuk berwudu dan melaksanakan salat Magrib.

 

“Dari sumber mata air berwarna keemasan itulah akhirnya dikenal dengan nama Sendang Mas atau Sumur Mas. Sedangkan tempat beliau salat Magrib dan melanjutkan bertapanya dinamakan Tunggak Jati,” ujar Trijono.

 

Setelah diangkat menjadi adipati menggantikan Tumenggung Suradipura, Raden Malik Gandakusuma kemudian memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas yang sebelumnya berada di kawasan Hutan Mangli  (barat kota lama Banyumas) ke lokasi dimana Sendang Mas berada. Air dari Sendang Mas tersebut kemudian menjadi sumber kesejahteraan masyarakat Banyumas kala itu.

 

Raden Malik Gandakusuma berjuluk Adipati Yudanegara II menjabat dari tahun 1707-1743. Ia wafat di Pendapa Kadipaten hingga akhirnya dikenal sebagai Tumenggung Yudanegara Seda Pendapa

 

Seiring berjalannya waktu, Sendang Mas menjadi sumur yang dikeramatkan oleh masyarakat Banyumas. Air sumur digunakan sebagai media untuk mencari keberkahan untuk kepentingan duniawi. Tak sedikit masyarakat yang menjadikan air sumur tersebut sebagai sarana spriritual hingga sekarang ini. Namun di balik semua itu kekuasaan dan keridaan Allah SWT lah yang menjadikan keberhasilannya.

 

Terlepas dari keyakinan spiritual sebagian orang, keberadaan Sendang Mas kini menjadi literasi sejarah keberadaan Kabupaten Banyumas. Sumur mas tetap terawat karena menjadi satu kesatuan dari cagar budaya bangunan pendapa kota lama Banyumas.

 

Kejernihan airnya perlambang perlunya pikiran yang jernih dan  bersih bagi warga Banyumas. Terutama saat situasi politik negeri ini yang tengah memanas menjelang Pemilu 17 April mendatang. Dengan pikiran yang jernih, masyarakat Banyumas dapat memilih calon pemimpin negeri dengan nyaman tanpa bersinggungan antar golongan. (rar)