ilustrasi

CILACAP, SATELITPOST – Basis sistem zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2019 ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

 

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Cilacap Hendro Setiyono mengatakan, bahwa sistem zonasi sudah dilakukan sejak tahun lalu, hanya saat ini berbeda. Kalau dulu menggunakan basis zona kecamatan, kalau sekarang per desa atau kelurahan.

 

“Tahun ini kita tetap gunakan sistem zonasi, namun masih 90 persen dari daya tampung sekolah. Sedangkan sisanya 5 persen jalur prestasi dan 5 persen lagi jalur perpindahan tugas atau pekerjaan orangtua,” katanya.

 

Zonasi berbasis desa atau kelurahan yakni lokasi yang berdekatan langsung dengan sekolah. Hal tersebut sudah di musyawarahkan dan diusulkan MKKS ke tingkat provinsi. Baru selanjutnya di putusan oleh provinsi.

 

“Menurutnya semua sekolah sama, karena sama-sama memberikan pelayanan yang baik. Prinsipnya pemerintah hadir dimanapun melalui sekolah-sekolah yang ada tersebut,” katanya.

 

Selain itu, misalkan di suatu sekolah kelebihan kuota karena jumlah anaknya cukup banyak. Maka akan dilimpahkan ke sekolah terdekat lainya. Semua juga sudah diatur melalui aplikasi.

 

“Pendaftaran sudah dimulai tanggal 13-17 Mei untuk inklusi atau yang berkebutuhan khusus. Kemudian untuk verifikasi berkas dan pengajuan akun tanggal 24-28 Juni, mulai pendaftaran online mulai 1 Juli sampai 5 Juli 2019 pukul 23.59 WIB. Pengumuman hasil tanggal 9 Juli, pendaftaran ulang 10 – 11 Juli, kemudian masuk sekolah tanggal 15 juli 2019,” ujar dia.

 

Lebih lanjut, kata Hendro, bahwa sistem zonasi sangat bagus, pemerintah membuktikan kehadirannya dengan mendekat kepada masyarakat. Kemudian pemerintah telah memikirkan risiko transportasi. Yang pasti bukan hanya terkait ekonomi saja, tetapi mengurangi angka kecelakaan dan lainya.

 

“Sehingga nanti anak-anak pintar pun akan merata di seluruh sekolah. Maka dari itu semua sekolah harus siap, katakanlah yang dulu tidak menerima anak yang pintar dan sebaliknya. Karena perlakuan dalam mengajar akan berbeda dan itu menjadi tantangan bagi kita, guru harus berkreasi, berinovasi dan lain sebagainya,” katanya. (andrian@satelitpost.com)