UMAT Hindu dari Desa Klinting, menjalani rangkaian prosesi Melasti untuk menyambut Hari Raya Nyepi di Curug Gemawang, Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Minggu (24/2). SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH
UMAT Hindu dari Desa Klinting, menjalani rangkaian prosesi Melasti untuk menyambut Hari Raya Nyepi di Curug Gemawang, Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Minggu (24/2). SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

BANYUMAS, SATELITPOST-Menyambut Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka 1941, ratusan umat Hindu Kabupaten Banyumas‎ menggelar upacara Melasti di kawasan Curug Gemawang Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Minggu (24/2). Prosesi penyucian atau pembersihan diri ini diharap menjadi momen untuk menjaga kerukunan menjelang pesta demokrasi.

 

Prosesi diawali dengan manggala upacara atau sembahyangan yang dipimpin oleh Pinandita Budi Santoso. Selanjutnya, dilakukan pengambilan tirta suci dari sumber mata air Curug Gemawang yang kemudian didoakan dan dipercikan kepada umat yang datang. Air suci tersebut juga digunakan untuk membersihkan Pratima (benda yang disakralkan, red) dalam pelaksanaan catur brata mendatang.

 

“Melasti berasal dari kata mala yang artinya kotoran dan asti yang bermakan memusnahkan. Jadi Melasati ini bermakna melepaskan jiwa kita yang kotor menjadi bersih menjelang masuk tahun baru,” kata Pinandita Budi Santoso.

 

Upacara Melasati, lanjut dia, selalu diadakan di sumber mata air terdekat seperti mata air pegunungan maupun pantai. Air, kata dia, merupakan simbol dari kehidupan, karena setiap makhluk hidup di dunia ini membutuhkan air.

 

‎Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyumas Minoto Darmo mengatakan,berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pelaksanaan upacara Melasti kali ini tidak dilaksanakan di Pantai Sodong Cilacap, namun dilaksanakan di kawasan Curug Gemawang yang tak jauh dari Pura Giri Kendheng.

 

“Dilaksanakan di sumber mata air terdekat karena untuk ke depannya tengah dicanangkan pengembangan potensi wisata religi yang bekerjasama antara pemerintah daerah dengan tiga desa pendukung di Kecamatan  Somagede,” katanya.

 

Potensi wisata religi tersebut, lanjut dia, termasuk membangun dusun adat bertema”Little Bali” yang nantinya terintegrasi dengan desa lainnya. Mulai dari membangun sarana pendukung seperti di Bali namun dengan menyuguhkan kultur budaya setempat (kearifan lokal).

 

“Seperti upacara Melasti saat ini dan prosesi menyambut Nyepi lainnya, kami tetap  menyuguhkan seni dan budaya Jawa. Kami juga mengajak seluruh masyarakat tanpa terkecuali  untuk membangun harmoni di bumi Indonesia ini,” katanya.

 

‎Minoto juga mengimbau, menjelang pesta demokrasi yang tinggal beberapa bulan mendatang, umat Hindu agar menyambutnya secara damai dan gembira. ” Tetap jaga  kedamaian umat. Damai di hati dan damai di akhirat nanti,” katanya.

 

Dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi, prosesi selanjutnya akan dilaksanakan upacara Tawur Agung di ruas jalan Sokawera- Sumpiuh sehari menjelang Nyepi, Catur Brata Penyepian (Saat Nyepi) serta Prosesi Ngembak Geni pada tanggal 16 Maret mendatang. ‎(rar)