WARGA terlihat di Jalan Grumbul Gempalan Desa Sumpinghayu, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap. Konon di sekitar area itu ada potensi minyak bumi dan terdapat makam keramat Astana Ngunggul, Jumat (12/7).SATELITPOST/TASLIM INDRA
WARGA terlihat di Jalan Grumbul Gempalan Desa Sumpinghayu, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap. Konon di sekitar area itu ada potensi minyak bumi dan terdapat makam keramat Astana Ngunggul, Jumat (12/7).SATELITPOST/TASLIM INDRA

Ternyata nama-nama tempat yang ada di Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap tidak hanya sekadar nama. Ada memiliki catatan sejarah yang membuat munculnya nama. Hal itu seperti nama wilayah Gempalan dan Cigebeg di Desa Sumpinghayu, Kecamatan Dayeuhluhur.

Di Desa Sumpinghayu Kecamatan Dayeuhluhur terdapat sebuah grumbul yang bernama Gempalan. Berdasarkan penuturan dari juru kunci Gunung Cupu dan Gunung Sembung bernama Carman, dahulu wilayah Gempalan dan Cigebeg bernama daerah Ciingan.

Konon di masa era awal Hindia Belanda ada seorang yang berasal dari Desa Sumpinghayu yang menjadi pegawai administrasi di afdeling Daya Luhur yang baru terbentuk. Hal itu terjadi sekitar era 1840-an atau 1850-an. Pada saat itu era ekplorasi potensi minyak tanah (minyak bumi) di Cilacap sedang dalam tahap penelitian oleh para insinyur dari Hindia Belanda.

Minyak bumi pada era itu adalah sesuatu hal yang baru dan langka serta mahal. Konon penelitian dan ekplorasi minyak bumi tersebut atas izin Bupati Cilacap era itu. Bahkan sampai juga ke wilayah Sumpinghayu. Kepala Afdeling Daya Luhur waktu itu menyuruh pegawainya yang berasal dari Desa Sumpinghayu tersebut sebagai penunjuk jalan pada kegiatan ekplorasi minyak tersebut bersama para insinyur Belanda.

Masih keterangan yang diperoleh dari Juru Kunci Carman, pegawai tersebut dimungkinkan adalah bergelar Buyut Madi oleh anak cucunya sekarang. Beliau diangkat jadi pegawai pemerintah konon atas jasa-jasanya ikut dalam suatu peperangan di daerah Madiun.

Maka datanglah rombongan ekplorasi minyak tersebut ke daerah Sumpinghayu dengan menunggangi kuda. Rombongan melewati alur jalan dari arah Wanareja lurus ke daerah Jambu lalu ke daerah Sumpinghayu dengan melewati alur Cidobos-Astana Ngunggul-Gunung Cupu.

Anehnya rombongan tersebut konon pada era itu, termasuk para insinyur Belanda tetap mengetahui betapa “sanget” nya atau keramatnya tanah pegunungan di daerah Daya Luhur. Bahkan dalam perjalanannya mereka selalu turun dari kuda ketika melewati tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral oleh masyarakat seperti yang ditunjukkan Buyut Madi. Hingga era berikutnya ada tradisi setiap pengendara kuda selalu turun dari kuda ketika melewati Astana (makam) Ngunggul sampe Gunung Cupu.

Konon tersebutlah cerita bahwa tim ekplorasi itu berhasil mendapatkan satu kaleng minyak tanah untuk menjadi sampling. Saking gembiranya karena di daerah tersebut ditemukan minyak, maka kepala Afdeling bermaksud untuk mengambil hati sang bupati memberikan/membawa sendiri sampling minyak tersebut kepada sang bupati.

Maka pulanglah rombongan tersebut. Sementara rombongan tim insinyur Belanda telah pulang terlebih dahulu. Di sisi lain rombongan tim akomodasi dan perbekalan yang membawa sampling yang dipimpin kepala afdeling (setingkat camat sekarang) berjalan belakangan.

Sampailah rombongan pembawa sampling minyak tersebut ke daerah yang disebut Ciingan. Saking gembiranya mereka lupa dengan tradisi turun dari kuda ketika di daerah tersebut. Maka terjadilah kecelakaan bahwa kuda yang mengangkut minyak tersebut terjatuh dan minyak yang dieksploitasi oleh para Insinyur Belanda tersebut tumpah seluruhnya ke tanah.

Tentu saja dengan kecelakaan tersebut sang kepala afdeling merasa “Ngagebeg” atau tekejut dan sangat kebingungan tiada tara. Sebab, rombongan insinyur Belanda tersebut pasti sudah melaporkan bahwa ekplorasi tersebut sudah mendapatkan sampling minyak yang diinginkan kepada asisten residen atau kepada bupati.

Sementara rombongan yang dibelakang sama sekali tidak memiliki kemampuan teknik mengambil sampling seperti para insinyur Belanda. Sang kepala Afdeling tentu merasa ketakutan dengan ancaman pemecatan. Bahkan bisa dihukum karena dianggap telah lalai bahkan melakukan sabotase atas pekerjaan tim insinyur Belanda yang susah payah mendapatkannya.

Dalam catatan sejarah pasca keterlibatan Kabupaten Daya Luhur dalam perang Diponegoro, pengawasan dan seleksi atas “kesetiaan” para pegawai di Daya Luhur oleh pemerintah Hindia Belanda sangat ketat. Sampai saking bingungnya sang kepala afdeling berjanji akan membagi sebagian penghasilannya jika  ada yang bisa memberi solusi.

Untungnya ada Buyut Madi pewaris Cupu Manik milik leluhur Sumpinghayu yang menyertainya. Konon Buyut Madi merupakan orang pintar, sehingga demi menjaga martabat dan jabatan stasannya maka Buyut Madi mengeluarkan “kemampuannya”.

Maka diperahnya tanah tempat tumpahnya minyak tersebut ke dalam wadah yang sama. Tapi sayang isinya tidak bisa penuh seperti ukuran semula. Maka dengan kemampuannya Buyut Madi mengambil sedikit tanah lumpur yang berupa air lumpur kemerahan yang mengandung zat besi dibukit dekat Awi Ngambang.

“Di puncak Ciingan ada sebuah tempat bernama Awi Ngambang yang dari bawahnya keluar mata air kemerahan untuk dicampurkan dengan sampling sehingga ukurannya bisa penuh semula,” kata Carman.

Setelah semua sepakat menutup rahasia tentang minyak yang sudah dicampur air maka dengan was-was rombongan tersebut kembali melanjutkan perjalanannya menuju Cilacap. Untuk menjaga keselamatan maka muatan minyak tersebut baru diangkut kuda setelah melewati Sungai Citengah dan Astana Mumbul tersebut.

Sampailah rombongan tersebut ke Cilacap dan menyampaikan barang yang berupa sampling minyak tersebut. Tidak ada seorang pun yang tahu dan sadar bahwa benda tersebut telah agak berbeda dan sampling itu  langsung dikirim ke Batavia.

Konon hasil tesnya samplingnya tidak cocok dengan keinginan Pemerintah Hindia Belanda dan ekplorasi minyak ke Sumpinghayu dilupakan. Tapi sekitar seratus lima puluh tahun kamudian, Daerah Sumpinghayu termasuk daerah sentra Minyak daun Serai, sama-sama menghasilkan minyak.

Hingga akhirnya kepala afdeling tersebut dari terungkap memalsukan sampling minyak dan dianggap telah lalai menjalankan tugas mengawal tim ekplorasi. Kemudian, kepala afdeling tidak mengingkari janjinya untuk memberikan sebagian penghasilannya pada Buyut Madi atas jasanya menjaga kehormatannya juga jabatannya.

Akan tetapi Buyut Madi hanya meminta sang kepala afdeling agar memberinya sedikit cukup “Sempalan“ tanah di Sumpinghayu untuk anak cucunya bermukim kelak. Sang kepala afdeling mengabulkannya.

Menurut Keterangan dari Pegiat Situs Sejarah dan Ketua adat Dayeuluhur Ceceng Rusmana sekarang sempalan wilayah Ciingan sekarang disebut daerah Gempalan. Tanah itu adalah yang dahulu menjadi lokasi tumpahnya minyak tanah. Tanah tersebut agak tandus dan sulit ditanami.

Lebih lanjut disampaikan tidak diketahui apakah Blok Cigebeg berasal dari perasaan terkejut dari kepala afdelig tersebut atau dari kejadian lain. Yang jelas di daerah Ciingan tersebut ada Gerumbul Cigebeg. “Buyut Madi diketahui dikubur di area Keramat Gunung Cupu Sumpinghayu dan menjadi tokoh yang dihormati Penduduk Sumpinghayu hingga sekarang,”kata Ceceng. (lim)