PURBALINGGA, SATELITPOST-Keramik merah pada trotoar di Jalan MT Haryono-Jalan Jenderal Soedirman Purbalingga kembali memakan korban. Muzaimah, ibu berusia 44 tahun asal Sambong Wetan, RT 6 RW 2 Banyumas terpeleset saat berjalan di trotoar tersebut. Akibatnya Muzaimah dilarikan ke rumah sakit karena mengalami patah tulang pada bagian tangannya.

Muzaimah menyampaikan, saat itu dia sedang mengajak dua anaknya main ke Purbalingga. Saat itu dia baru keluar dari pertokoan di kawasan Jalan Jenderal Soedirman. Saat berjalan di trotoar depan pertokoan, dia terpeleset. Hingga akhirnya dia jatuh dan mengalami cedera tulang.  “Lagi jalan saja terus kepleset, kan jatuh, nah tangan saya nahan, jadi tangannya sakit banget. Saya jatuh di depan Toko Central,” ujarnya Selasa (5/12).

Menurut Muzaimah, kondisi keramik memang licin. Meskipun dalam kondisi kering. Terlebih, pada bagian yang miring. Sehingga harus sangat hati-hati saat melintas. “Dikhawatirkan jika pengguna trotoar adalah seorang ibu yang sedang mengandung,” katanya.

Paska terpeleset, Muzaimah dilarikan ke Rumah Sakit Goetheng Purbalingga. Hasil pemeriksaan Muzaimah mengalami patah tulang pada bagian pergelangan, sebelah kanan. Namun korban tidak mau untuk dilakukan operasi.

“Ibunya kan nyeri di pergelangan, terus saya coba ronsen, Karena saat digerakkan katanya sakit banget. Saya curiga ke patah tulang, tapi ibu menolak dirawat. Nah saya ronsen ada patah pergelangan di sebelah kanan. Tapinya mau saya konsultan untuk dokter spesialis bedah tulang, tapi ibunya menolak. Mau operasi atau pasang gip, ibu menolak,” kata dr Kinan, dokter di RS Goetheng.

Sementara itu, sorotan pada trotoar keramik itu juga disampaikan Usmiatun. Perempuan warga Sambong Wetan ini juga mengakui kalau kondisi keramik licin. Baik menggunakan sepatu maupun sandal, keramik tetap licin. “Kondisi kering, malah lagi panas banget, tetap licin. Saya jalan juga merasakan licin,” ujarnya.

Bukan kali ini saja trotoar keramik memakan korban. Seorang pedagang di satu kawasan tersebut, Sugeng (53) mengatakan bahwa dirinya sekali melihat orang terpeleset di trotoar tersebut. Bukan hanya saat trotoar basah karena hujan. Saat kering pun orang bisa terpeleset.  “Pernah, tidak satu dua kali, tapi sering. Tidak hanya di bagian yang miring, pada yang rata juga licin, lha ini keramik halus,” ujarnya.

Pada trotoar tersebut memang tidak hanya dipasang keramik halus berwarna merah. Ada satu ruas garis yang dipasang keramik warna kuning, dengan tekstur kasar. Hanya saja, itu tidak menjadikan trotoar aman. Padahal di kawasan tersebut, termasuk ramai dilalui orang. Karena di dekat sekolah, baik SD maupun SMA.

Masalah trotoar itu juga disorot anggota DPRD Purbalingga Adi Yuwono. “Itu memang harus segera direnovasi, harus itu, karena memakan korban dan pengguna tidak nyaman, pemerintah daerah sudah harus tanggung jawab,” katanya beberapa waktu lalu.

Hanya saja, meski sudah membuat banyak orang terjatuh, dinas terkait tetap enggan melakukan penggantian keramik. Mereka beralasan, trotoar tersebut merupakan proyek yang baru selesai dan tidak mungkin diganti.  “Tidak mungkin diganti, itu barang baru dan masih dalam masa pemeliharaan,” kata Kepala DPU-PR Purbalingga, Setiyadi, Senin (4/12).

Meski memunculkan kesan bahwa pemkab tak peduli dengan masyarakat, Setiyadi tetap menampik anggapan tersebut. Ia berkilah, tidak direnovasi tidak berarti pemerintah tak mendengar suara masyarakat.

“Aspirasi itu kan tidak langsung ditanggapi. Kalau setiap ada keluhan kita bongkar, nanti setelah dibongkar ada yang komplain, masa kita bongkar lagi. Pembangunan itu pasti ada plus minus,” kata dia.

Lebih lanjut Setyadi menyampaikan, di antara keramik trotoar yang licin. Terdapat satu lajur keramik dengan tekstur kasar. Tujuan tersebut adalah diperuntukkan sebagai jalur bagi difabel. Sehingga dibuat pembeda. Namun, jika pun penggantian keramik tidak sepenuhnya, namun diganti satu keramik dengan tekstur sama seperti jalur difabel, itu pun tidak bisa dilakukan dalam dekat ini. (aminbellet@gmail.com)

Komentar

komentar