BUPATI Banjarnegara Budhi Sarwono (ketiga dari kiri) berfoto di dekat tugu Dukuh Legetang, Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. SATELITPOST/MAULA

KISAH hilangnya pemukiman di kawasan Dieng, masih saja menjadi cerita. Wilayah tersebut berada di Dukuh Legetang, Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Daerah tersebut hilang akibat bencana tanah longsor.

Masyarakat di sekitar memperoleh cerita mengenai kisah tragis hilangnya Dusun Lagetang secara turun-temurun dari kakek-nenek maupun orangtuanya. Diceritakan, Dusun Lagetang tersebut hilang akibat tertimbun longsor secara tiba-tiba yang terjadi pada 16 April 1955.

Cerita tersebut sampai sekarang masih terdengar di masyarakat sekitar. Bahkan, untuk mencari bekas Dusun Legetang yang hilang dalam waktu semalam sangat mudah. Masih terdapat satu tugu yang tingginya sekitar 10 meter dan menjadi tanda letak lokasi dukuh tersebut.

Cerita Misteri hilangnya Dukuh Legetang Di Desa Pekasiran Kecamatan Batur rupanya menarik perhatian Bupati Banjarneara Budhi Sarwono atau Wing Chin untuk untuk mengunjungi sisa dukuh tersebut.

“Wilayah ini menjadi sebuah kisah terkuburnya Dukuh Legetang, ini bisa menjadi peringatan bagi kita semua bahwa bencana serupa bisa saja terjadi kapan saja. Ini juga mengingatkan dan teguran bagi kita agar selalu menjauhkan diri dari kemaksiatan, karena jika kemaksiatan menjadi bagian dari kehidupan, maka tinggal menunggu azab yang bisa diwujudkan dalam bentuk apapun dari Allah,” kata bupati.

Sementara itu, pegiat wisata dataran Tinggi Dieng Sarwo Edi mengatakan, keberadaan tugu atau prasasti tersebut menjadi pengingat  bahwa bencana bisa saja terjadi kapan saja dan di mana saja.

“Tugu ini hanya sebagai pengingat sekaligus menjadi saksi terjadinya sebuah tragedi hilangnya Dukuh Legetang akibat bencana longsor pada 16 April tahun 1955,” ujarnya.

Menurutnya, Legetang adalah nama dari sebuah dukuh (dusun) yang merupakan bagaian dari Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani sayuran seperti, kubis, wortel, bawang, jagung, dan lain sebagainya, sama seperti penduduk-penduduk desa di sekitarnya.

Keberkahan yang didapatkan masyarakat dari hasil pertanian selalu dirasakan oleh semua penduduk Dukuh Legetang.  Menurut cerita, Dukuh Legetang selalu diberikan keberkahan panen yang berlimpah, meski tetangga desa tidak bisa panen.

Apa yang di dapat masyarakat Legetang waktu itu melebihi apa yang didapat para petani yang berada di sekitarnya. Tidak hanya itu jika kualitas hasil bumi di desa lain jelek, maka di Dukuh Legetang kualitas hasil buminya selalu bagus.

Namun meski dikaruniai berbagai kenikmatan, justru membuat lupa masyarakat di Dukuh Legetang. Mereka lupa untuk bersyukur, mereka justru larut dalam kesenangan.¬† Kemaksiatan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. “Kemaksiatan tumbuh subur di Dukuh Legetang, dan semakin hari semakin parah,” ujarnya, kemarin.

Akhirnya pada malam hari tanggal 16 April 1955, Allah memberikan azab kepada masyarakat dukuh Legetang. Saat itu di bawah guyuran hujan yang sangat lebat, Dukuh Legetang tertimbun longsor dari gunung pengamun amun yang meratakan seluruh dukuh tersebut.

“Dukuh Legetang menjadi rata dan tidak satu pun warga yang selamat dari bencana longsor tersebut. Tercatat dalam peristiwa itu 332 penduduk Dukuh Legetang tewas serta 19 orang tamu dari lain desa lain yang hadir di dukuh tersebut” katanya.

Untuk memperingati kejadian tersebut pemerintah Kecamatan Batur mendirikan sebuah tugu berukuran tinggi 10 meter, yang sampai hari ini masih bisa disaksikan persis di lokasi bekas Dukuh Legetang. (maula al faruq)