Kolom Piala Dunia

Oleh: Nurfahmi Budiarto*

“SELURUH pegawai negeri sipil wajib mengenakan kostum timnas sampai akhir pekan ini. Kita sambut sejarah dan semangat baru. Kita bersama 11 pasukan berani yang tengah berjuang di Rusia,”

Kalimat titah bernada patriotik tersebut keluar kompak dari dua persona tertinggi di Republik Hrvatska, yakni Presiden Kolinda Grabar-Kitarovic dan Perdana Menteri Andrej Plenkovic. Hrvatska, nama asli Kroasia, sedang menuju hari bersejarah berikutnya, setelah kemerdekaan pada 25 Juni 1991.

Yup, warga Kroasia tengah merasakan euforia luar biasa. Bak tengah melihat dan menunggu cerita akhir Cinderella, seluruh masyarkaat Kroasia memicingkan mata ke Moskow, pada akhir pekan ini. Latarnya tak lain keberadaan timnas kesayangan mereka di panggung final Piala Dunia 2018.

 

Pada babak final, Sang Cinderella dari Eropa Timur tersebut akan bersua raksasa Eropa Barat, Prancis. Duel dua kutub sepak bola di Eropa, dengan gaya berbeda tersebut, menjadi titik kulminasi dari rangkaian 64 pertandingan sepanjang Piala Dunia 2018.

 

Bagi sebagian besar pecinta sepak bola, duel kali ini dirasa kurang ‘sreg’. Mereka beranggapan, final ideal adalah Prancis kontra Inggris. Sayang, Sang Cinderella sukses melanjutkan jejak manisnya dengan ‘menundukkan’ armada Tiga Singa.

 

Kolinda Grabar-Kitarovic, yang menyedot perhatian publik dunia setelah tampil cantik saat Kroasia menekuk Inggris, sampai harus membuat peraturan khusus. Demi membakar semangat, sekaligus menyambut hari istimewa, seluruh pegawai negeri sipil harus mengenakan kostum timnas Kroasia sampai akhir pekan ini. Himbauan juga diperuntukkan bagi seluruh masyarakat.

 

“Kami ingin cerita Cinderella ini berakhir manis. Tapi, meski pahit-pun kami tetap berbahagia. Berada di puncak pertandingan piala dunia adalah sebuah mimpi bagi sebuah negeri kecil. Kami seperti berada di cerita dongeng,” kata Kolinda Grabar-Kitarović.

 

Suasana bahagia, seperti pesta kemerdekaan pada 27 tahun lalu, juga dirasakan teman saya, Reza Khomaini. Teman saya yang tinggal di Zagreb merasakan perbedaan aura harian sejak Kroasia berhasil melaju ke babak semifinal.

 

Area publik, seperti mal, taman kota, perpustakaan umum sampai museum, dipadati masyarakat yang mengenakan baju atau pernak-pernak berornamen khas timnas Kroasia; papan catur berwarna merah-putih.

 

“Mereka benar-benar takjub dengan pencapaian ini. Seluruh masyarakat seolah memberi pesan kalau vatreni,yang berarti api, benar-benar bisa membara dari balik kostum papan catur,” kata teman saya, yang mengatakan harga jersey Kroasia melonjak drastis, naik sekitar 150 persen dari harga normal.

 

Ucapan teman saya mengandung makna besar. Vatreni alias api-api Kroasia harus bisa membakar ‘Sang Ayam Jantan’ jika ingin mengangkat trofi juara dunia. Walhasil, kombinasi cerita Cinderella dan Sang Api, menjadi kibasan diksi yang menawan.

 

Tentu, para fan Kroasia berharap titik kulminasi performa Luka Modric dkk terjadi di babak final. Kisah bak ‘Cinderella mengenakan api’ sudah terjadi sejak babak awal kala Kroasia memerlakukan Argentina dengan skor 3-0.

 

Setelah itu, perjalanan mereka penuh liku, termasuk menyingkirkan tuan rumah via adu penalti. Puncaknya, Inggris dikirim ke rumah. Satu yang menjadi ciri khas Kroasia adalah mental.

 

Bagaimana tidak, Kroasia melewati seluruh pertandingan sejak fase grup dengan fakta selalu kebobolan terlebih dulu. Argentina, Denmark, Rusia sampai Inggris berhasil merobek jala Kroasia. Namun, setelah itu Kroasia sukses membalas, bahkan membalikkan keadaan.

 

Bagi saya, faktor mental bakal berpengaruh besar kala berlaga di puncak selevel piala dunia. Beruntung, Kroasia punya sederet pemain yang mampu menyeimbangkan unsur itu, seperti Luka Modric, Ivan Rakitic, Ivan Perisic sampai Mario Mandzukic.

 

Prancis layak waspada, karena Kroasia memiliki banyak embel-embel khusus. Mereka menjadi negara pertama dari Eropa Timur yang berada di laga final Piala Dunia sejak Cekoslavakia pada 1962.

 

Secara individu, Luka Modric juga tengah merajut mimpi. Mantan gelandang Tottenham Hotspur tersebut bisa menjadi orang ke-9 yang mampu menjadi jawara piala dunia dan liga champions di tahun yang sama. Modric bisa bergabung dengan para legenda seperti eks Jerman di Piala Dunia 1974; Sepp Maier, Paul Breitner, Hans-Georg Schwarzenbeck, Franz Beckenbauer, Gerd Muller dan Uli Hoeness

 

Selain itu masih ada Christian Karembeu di Piala Dunia 1998 (Prancis dan Real Madrid) dan Roberto Carlos di Piala Dunia 2002 (Brasil dan Real Madrid). So, menarik untuk menunggu apakah kombinasi Cinderella dan Sang Api Papan Catur bisa membawa cerita manis ke Hrvatska. Salam. (*)

 

 

* Pengamat sepak bola, pernah meliput Piala Dunia 2010, tinggal di Jakarta