ilustrasi bola
REUTER via ANTARA
Kolom Piala Dunia

Oleh: Nurfahmi Budiarto*

SEBELUM perhelatan Piala Dunia 2018, banyak pihak menilai pagelaran empat tahunan tersebut bakal terasa membosankan. Satu di antara latar belakang tersebut adalah absennya dua raksasa tradisional, Belanda dan Italia, plus dua negara yang dianggap lebih layak, Cile dan Amerika Serikat (AS).

 

Prediksi tersebut nyaris menjadi kenyataan. Bagaimana tidak, kejutan-demi kejutan pada fase grup menjadi tontonan yang tak mengenakkan. Bagaimana tidak, negara-negara yang memiliki pemain tak akrab di telinga kita, tampil bagus.

 

Di sisi lain, deretan negara yang biasanya lancar, justru mengempis. Endusan mereka sepertinya tak mempan untuk membaca strategi negara lain yang notabene masih berada di luar area unggulan.

 

Walhasil, hasil dari fase grup menjadikan skema knock-out di luar ‘rencana’. Sebelumnya, tak pernah terbayangkan jika Prancis, Uruguay, Portugal, Brasil, Belgia dan Argentina berada di ‘pool’ yang sama. Artinya, para raksasa tersebut bakal berjibaku, dan pasti bertemu untuk saling ‘membunuh’.

 

Situasi tersebut berbeda 180 derajat dengan apa yang ada di ‘pool’ lain. Hasil fase grup menempatkan Spanyol dan Inggris sebagai favorit bersua di babak semifinal. Namun, sekali lagi, skema hanya sebuah skema.

 

Nyatanya, kejutan memang menjadi bumbu teratur di pentas Rusia 2018. Hal pertama terjadi di fase grup. Petaka bak terkena halilintar dirasakan masyarakat dan para penggemar timnas Jerman. Der Panzer gagal lolos, dan sekaligus meneruskan status sang juara bertahan kembali terpuruk pada piala dunia berikutnya, sama dengan yang pernah dirasakan Spanyol, Italia dan Prancis.

 

Area perang bubat, yakni di pool atas juga menelurkan kejutan. Hal itu terjadi kala Argentina terjungkal di tim yang sebenarnya tampil biasa-biasa di fase grup, Prancis. Kondisi itu menjadi pukulan telak bagi Lionel Messi dkk di tengah ekspektasi tinggi publik Tim Tango agar bisa lebih baik dari empat tahun lalu, atau setidaknya bisa mengulangi status finalis di Brasil 2014.

 

Efek perang kelompok bintang juga terlihat ketika sang juara Eropa, Portugal tak berdaya di depan Uruguay. Skema ideal pertemuan Spanyol dan Inggris di babak semifinal hancur berantakan. Penyebabnya tak lain adalah kegagalan Spanyol menyingkirkan tuan rumah.

 

Kegagalan Spanyol membuka kesempatan bagi tim-tim yang dianggap semenjana merasakan fase terbaik mereka. Tim yang ‘beruntung’ adalah Kroasia. Luka Modric dkk berhasil memanfaatkan ‘jalan lapang’ guna mengulangi catatan prestasi mereka 20 tahun silam di Prancis.

 

Kini, empat tim sudah bersiap untuk bertemu di fase menentukan; semifinal. Aroma kejutan yang terjadi di Rusia belum berhenti. Saya pikir, menyaksikan Rusia 2018 bisa menjadi obat mujarab di tengah serentetan berita musibah di negeri ini, atau perang kata-kata para elit politik.

 

Yup, selamat menikmati perang istimewa Prancis kontra Belgia, dan Kroasia versus Inggris. Saya pikir, empat negara tersebut layak mendapat acungan jempol dan bintang lima. Setidaknya, dari sisi tontonan, mereka berhasil memberikan sesuatu yang berbeda, dan kita di Indonesia, layak berterima kasih kepada beraneka kejutan dari tanah Beruang Merah. (*)

 

* Pengamat sepak bola, pernah meliput Piala Dunia 2010, tinggal di Jakarta