KEPALA BPS Banyumas Edy Aprotuwiyono, saat memberikan keterangan resmi perkembangan inflasi Banyumas, Kamis (1/3).SATELITPOST/CR

PURWOKERTO, SATELITPOST-Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas mencatat, pada Februari terjadi inflasi sebesar 0,05 persen. Angka tersebut diakui Kepala BPS Banyumas, Edy Aprotuwiyono, jauh menurun dibandingkan Januari lalu yang tercatat 1,29 persen.

Turunnya harga beras karena memasuki musim panen pada Februari, memberikan pengaruh besar turunnya inflasi.

“Sesuai prediksi, kebutuhan beras sudah tercukupi dan harganya berangsur-angsur turun,” kata Edy Aprotuwiyono, dalam keterangan resminya di gedung BPS Banyumas, Kamis (1/3).

Menurut BPS, inflasi tertinggi tercatat di Kudus dengan 0,57 persen. Selain Purwokerto, Kota Tegal juga mencatatkan angka inflasi yang sama 0,05 persen.

“Kita tetap harus waspada, barangkali beras banyak didistribusikan untuk daerah-daerah yang terkena banjir. Ini juga akan mempengaruhi harga,” kata Edy.

Jika Januari lalu bahan makanan menjadi kelompok penyumbang inflasi terbesar, kali ini kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar yang sangat mempengaruhi dengan menyumbang 0,35 persen.

“Untuk bahan makanan, hanya andil dalam pembentukan deflasi sebesar 0,36 persen yang justru menekan laju inflasi bulan ini,” katanya.

Berdasarkan penghitungan, inflasi tahun kalender (point to point) tercatat mencapai 1,34 persen, dan inflasi year on year (yoy) sebesar 3,62 persen.

Bawang Putih Penyumbang Inflasi Terbesar

Di luar prediksi, jenis komoditi penyumbang inflasi terbesar, justru pada bawang putih. Padahal, bawang putih hanya mampu memenuhi 10 hingga 15 persen kebutuhan, dan selebihnya impor.

“Tingginya harga bawang putih, sebetulnya tak perlu dikhawatirkan karena sudah tercukupi dengan impor. Justru yang menjadi perhatian adalah bawang merah yang 90 persen lokal dan kalau sewaktu-waktu kebutuhan tak tercukupi, harga mudah sekali melonjak,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyumas, Widarso yang juga hadir dalam keterangan pers di Kantor BPS Banyumas.

Menurut Widarso, bawang putih merupakan kelompok makanan yang mirip kedelai di mana kebutuhannya tercukupi lewat impor.

Meski bawang putih berada di urutan pertama penyumbang inflasi, bulan ini harganya relatif turun.

Kasi Informasi dan Promosi Dagang Dinperindag Banyumas, Endang Puji Untari mengatakan, harga bawang putih yang semula Rp 44 ribu per kilogram, turun menjadi Rp 40 ribu per kilogram.

Kepala BPS Banyumas, Edy Aprotuwiyono menilai, kebutuhan bawang putih meningkat di luar kebutuhan rumah tangga. Sekarang kata dia, bawang putih banyak digunakan untuk bahan produksi lain seperti obat-obatan.

Tiga komiditi penyumbang inflasi terbesar, yakni bawang putih, nangka muda, dan batu bata. Sementara beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras, termasuk penyumbang deflasi. Untuk beras, pemerintah pun optimistis akan terjadi penurunan harga yang signifikan.

“Kalau melihat pola yang ada, biasanya Januari tinggi, Februari mulai menurun, dan bulan ke tiga ini bakal turun lagi karena masih ada panen-panen lain,”kata Edy. (cr)