Lima Tahun Lagi, Mesin ATM Bakal Punah?

SENIOR Vice President Digital Banking Bank Mandiri, Sunarto Xie memaparkan kesiapan Bank Mandiri dalam Mandiri Media Training 2018 di Mandiri University Semarang, Kamis (29/11/2018).SATELITPOST/ISTIMEWA

PURWOKERTO, SATELITPOST – Senior Vice President Digital Banking Bank Mandiri, Sunarto Xie mengatakan memasuki era revolusi industri 2.0 silam, nasabah yang mengunjungi kantor cabang mulai berkurang karena beberapa aktivitas seperti tarik tunai, transfer dapat dilakukan oleh sebuah mesin bernama Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Namun hal itu tak berlangsung lama. Sebab memasuki era industri 3.0, pengguna mesin ATM pun menurun karena banyak aktivitas perbankan saat ini dapat dilakukan hanya dengan sebuah aplikasi mobile banking.

“Padahal di tahun 2013 pengguna ATM mencapai 60 persen. Orang melakukan transaksi di ATM semakin sedikit, sudah shifting ke m-banking,” katanya.

Menurut Sunarto, dalam waktu lima tahun ke depan ada kemungkinan mesin ATM sudah tidak ada lagi. Karena, semua fungsinya sudah diambil alih oleh aplikasi dan bentuk digitalisasi lainnya yang lebih modern. “Dulu mau transaksi harus ke kantor cabang, orang mau melakukan transaksi perbankan datang ke cabang, kita harus visit ke bank untuk melakukan transaksi perbankan. Kita pikir bagaimana invest di kantor cabang. (Kemudian) kita perbanyak mesin ATM. Dan, 5 tahun lagi kita barangkali sudah tidak melihat aktivitas di mesin ATM,” ujarnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan jumlah kantor cabang akan berbanding terbalik dengan pertumbuhan digital. Karena, kata dia,  ketika digital tumbuh, fisik semakin kecil. Sementara itu, memasuki era revolusi industri 4.0 nasabah perbankan mulai memasuki pola baru, yaitu banking everywhere. Di mana aktivitas perbankan sudah bisa dilakukan di platdiv non bank atau yang tidak berkaitan dengan bank.

Baca Juga: Transaksi E-Channels Tumbuh 6 Kali Lipat, Bank Mandiri Siapkan Kerjasama Pembayaran dengan Platform Chatting

“Mulai visit ke yang bukan perbankan yaitu aplikasi. Aplikasi kita download dan kita pakai sendiri. Saat ini bank juga akan dituntut untuk dapat memfasilitasi nasabah dalam melakukan transaksi atau layanan perbankan di luar channel milik perbankan seperti media sosial, dan lain sebagainya,” katanya.

Satu contohnya, kata dia, saat ini top up atau isi ulang uang elektronik (e-money) mandiri sejak dua bulan lalu sudah dapat dilakukan di satu market place besar di Indonesia. Tidak lagi hanya dapat dilakukan di merchant, ATM atau aplikasi m-banking.

Menurut Sunarto ke depan, masyarakat tidak lagi membutuhkan bank, tapi membutuhkan banking activities (aktivitas perbankan). “Saya butuh perbankan? butuh. Tapi saya tidak butuh fisik bank nya,” kata dia.

Bank harus pintar memposisikan dirinya di era revolusi industri 4.0 ini. Bank harus sudah mulai memikirkan bagaimana caranya mendesain suatu aplikasi untuk memenuhi kebutuhan nasabah dengan pola pikir start up.

Selain itu, bank juga harus pintar menjalin kolaborasi dengan perusahaan fintech yang dapat ikut mendongkrak bisnis perusahaan. “Tak hanya bank Mandiri, saya rasa semua bank saat ini arahnya kesitu,” kata dia. (Alfiatin)