Produk Kopi Bani Nusantara yang diproduksi oleh Pesantren Bani Rasul.ISTIMEWA

Bisnis kopi menjadi tren tersendiri di tengah kecintaan masyarakat pada kopi. Agaknya, potensi inipun tak hanya dilirik para pengusaha milenial Banyumas. Para santri di Banyumas pun turut terjun memasarkan kopi lokal.

Dua pesantren di wilayah Banyumas yakni Pondok Pesantren Nurul Huda Langgongsari Cilongok dan Pondok Pesantren Bani Rasul memasarkan kopi lokal Banyumas dengan mengusung semangat kemandirian.

Kopi lokal robusta khas Banyumas dinilai memiliki karakter tersendiri. Peminatnya pun tak hanya di wilayah karesidenan Banyumas saja. Pasarnya sangat luas melalui penjualan di media sosial dan marketplace. Pesantren dengan kemandirian ekonomi seperti ini memiliki potensi untuk menjadi holding pesantren yang bisa menggerakkan perekonomian di sekitarnya.

Sebagai informasi, Bank Indonesia bersama 110 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia mendeklarasikan inisiasi pembentukan usaha induk (holding bisnis) pesantren nasional guna mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia.

“Usaha induk pesantren yang didukung manajemen dan tata kelola yang baik diharapkan dapat mendukung aktivitas usaha dengan skala yang lebih besar dalam konteks pengembangan unit usaha pesantren,” kata Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo seperti dikutip dari situs resmi BI, Rabu (13/11/2019).

Dody menuturkan inisiasi usaha induk pesantren merupakan salah satu implementasi 4 (empat) langkah strategis yang disusun BI bersama dengan Kementerian Agama dalam mendorong kemandirian pesantren. Langkah strategis tersebut bertujuan untuk mendudukan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mandiri dan mendorong aktivitas unit usaha pesantren dalam skala yang lebih luas.

Adapun keempat langkah tersebut adalah, pertama, penyusunan standarisasi laporan keuangan unit usaha pesantren. Kedua, pemberdayaan unit usaha pesantren melalui pilot project kegiatan usaha potensial.

Ketiga, pengembangan virtual market untuk mendorong lini usaha pesantren. Keempat, pengembangan holding pesantren yang berfungsi sebagai perusahaan skala nasional yang menjaga kepentingan pesantren sebagai unit produksi nasional.

Ke depan, pengembangan kemandirian pesantren masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan daya saing. Tantangan pertama, jumlah penduduk muslim Indonesia yang terbesar di dunia dan memiliki preferensi yang tinggi terhadap produk-produk bersertifikat halal.

Tantangan kedua, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital seiring tingginya akseptansi kaum milenial terhadap layanan jasa dan keuangan melalui saluran digital. Untuk itu program pengembangan pesantren diperkuat dengan upaya memperkuat unit usaha guna menyediakan produk-produk bersertifikat halal serta menjadikan pesantren tidak hanya sebagai obyek dan pasar dalam era ekonomi digital yang berkembang pesat seperti sekarang ini, tetapi juga menjadi subyek atau penggerak utama dalam iklim ekonomi digital, terutama pada lingkup produk dan layanan berbasis syariah.

Sementara itu, Deputi Kepala BI Purwokerto Lukman Hakim mengatakan holding pesantren adalah potensi yang cukup besar di kabupaten Banyumas. “Tentu ada potensi untuk kemudian menjadi holding pesantren di Banyumas. Namun sebelum itu, perlu fokus pada lini usaha dan penguatan internal terlebih dahulu sebelum melangkah menuju holding,” ujarnya, Kamis (15/11/2019).

Menurut Lukman, pesantren yang sudah memulai langkah untuk mewujudkan kemandirian dengan beragam lini usaha perlu memperkuat jaringan dari hulu ke hilir. “Jangan sampai merengkuh banyak, nanti enggak tertangani. Jadi perlu fokus dulu kalau masih tahap pembelajaran. Setelah prosesnya mantap dan pemasaran berjalan, harus berkesinambungan juga karena ada tantangan lagi, yaitu regenerasi santri,” katanya.

Lukman menilai potensi usaha dalam pesantren di Banyumas bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi syariah yang  memberikan dampak positif dalam perekonomian lokal.  “Untuk itu, para santri yang sudah memiliki lini bisnis juga tangguh dalam menghadapi persaingan,” kata dia.

Secara umum, Indonesia memiliki lembaga pesantren yang merupakan sebuah keunikan dan keunggulan dibandingkan negara lain dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, yaitu tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan namun memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam mencapai kemandirian ekonomi.

Program kemandirian pesantren yang ditempuh didasari oleh kekuatan pesantren sebagai basis arus ekonomi Indonesia yaitu, SDM pesantren yang memiliki jumlah dan ikatan komunitas yang kuat sehingga memiliki potensi sebagai sumber permintaan dan produksi berbagai kegiatan ekonomi; daya juang pesantren yang tinggi berpotensi besar apabila dikombinasikan dengan kemampuan kewirausahaan, dan konsep pemberdayaan ekonomi pesantren sebagai bagian dari ibadah.

Dengan kekuatan tersebut, kunci kemandirian pesantren adalah pada pendirian unit usaha dan komunikasi bisnis antar pesantren untuk pemenuhan kebutuhan dan pembinaan khususnya dari pesantren yang maju kepada yang sedang berkembang, sebagaimana terwujud dalam program kemandirian yang dijalankan.

 

Harumnya Kopi Enha Sampai Keluar Kota

Kopi Enha. Foto Dok. Enha corp

Dedy (38) warga Purwokerto Barat belum lama ini mendapatkan sebuah paket dari saudaranya dari luar kota. Ia mengaku takjub dengan paket yang berisi kopi itu. “Kopinya adalah kopi lokal yang dijual oleh para santri pondok pesantren Nurul Huda Cilongok. Saya kagum, ternyata kopi Banyumas sudah dikenal  sampai luar kota,” ujar dia.

Dedy menambahkan, tak hanya dari segi kemasan yang menarik, rasa kopi pun khas. “Saya malah baru tahu kalau ada kopi lokal Banyumas yang dipasarkan oleh pesantren,” katanya.

Bagi beberapa warga Banyumas, nama kopi Enha mungkin belum terdengar  akrab. Kopi dari petani lokal Banyumas ini  dikemas begitu apik oleh para santri. Penjualannya pun tak hanya di wilayah Banyumas saja, namun hingga keluar kota dengan sistem penjualan online. Tidak mengherankan jika konsumen kopi Enha terus meluas.

Owner Enha Corp, Gus Ajir Ubaidillah mengatakan biji kopi varian robusta tersebut diambil langsung dari petani kopi Banyumas. Sementara pengolahan kopi bekerjasama dengan roastery di kota Purwokerto. Saat ini produksi Kopi Enha sekitar 400-800 pouch dengan bobot 200 gram per pouch.

Selain pemasaran lewat online, beberapa alumni pondok pesantren juga turut memasarkan dengan menjadi agen resmi di wilayah Pasuruan, Grobogan, Jogja, Banten, Cilacap maupun Kalimantan Timur. “Beberapa diantaranya juga sudah masuk kedai di area Purwokerto,” ujarnya.

Tak hanya penjualan langsung, Kopi Enha juga membuka peluang bagi yang ingin menjadi reseller. Syaratnya pun cukup mudah, yakni dengan mengirim data diri lengkap dan minimal pengambilan 10 pouch.

Keuntungan dari penjualan kopi ini kemudian menjadi bagian yang menopang operasional pesantren. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen kopi Enha.”Rata-rata omzet untuk kopi ini mencapai Rp 13-18 juta per bulannya,” kata dia.

Sebagai informasi, Pesantren Nurul Huda saat ini memiliki sekitar 1000 orang. Usaha pesantren yang dikembangkan dengan semangat kemandirian ini memberikan fasilitas gratis pendidikan untuk anak-anak yatim piatu dan dhuafa. “Dengan semangat ini, banyak orang-orang berkompeten yang membantu terwujudnya kopi Enha dan kami mencoba mengangkat robusta Banyumas,” katanya.

Selain kopi Enha, Pondok Pesantren Nurul Huda juga memiliki produk lainnya yakni Toya Enha. Berawal dari air isi ulang galon yang dikonsumsi untuk kebutuhan internal atau kalangan pesantren sendiri, kini berkembang menjadi air kemasan. “Sebagai kebutuhan dasar, secara kuantitas Toya Enha ini masih menjadi komoditas yang paling tinggi penjualannya dibanding lainnya,” ujar dia.

Gus Ajir menambahkan, ke depan pihaknya berencana untuk mengembangkan lini usahanya agar memiliki nilai jual. Sehingga selanjutnya, produk akan dijual ke masyarakat luas. “Kami mohon doanya, karena saat ini sedang kami persiapkan semua dari izin sampai pembangunan pabriknya,” ujar dia.

 

Mereguk Legitnya Paduan Kopi Lokal dan Gula Semut Banyumas

Santriwati menunjukkan stand Kopi Bani Nusantara di Pondok Pesantren Al Hidayah Karangsuci.

Secangkir kopi lokal Banyumas yang tersaji dengan gula semut sungguh menggoda. Kenikmatan ini bisa didapatkan dalam Kopi Bani Nusantara, kopi yang diolah dari tangan para santri Pesantren Bani Rasul Purwokerto. Tak perlu repot menambahkan gula tambahan, satu buah cup kopi yang dibanderol Rp 2500- Rp 3 ribu ini sudah lengkap dengan pemanis gula semut organik.

Awalnya Kopi Bani Nusantara (KBN) bernama Coffe Bani Rasul (CBR). CBR merupakan produk dari para santri Pesantren Bani Rosul Purwokerto. Para santri tersebut merupakan nasabah dari Bank Wakaf Mikro Amanah Berkah Nusantara yang dikelola Pondok Pesantren Al Hidayah. Modalnya berasal dari pinjaman Rp 1 juta yang didapatkan tiap orang, kemudian mereka membentuk kelompok usaha bersama. “Satu orang dapat pinjaman Rp 1 juta, kami gabungkan lima orang, jadi Rp 5 juta untuk modal usaha CBR,” ujar konseptor tim Kopi Bani Nusantara, Wildan Alfaries.

Dengan modal tersebut, kopi yang dikelola oleh para santri ini sudah mulai diproduksi. Dua bulan pertama, mereka memproduksi sekitar dua ribu saset kopi. “Alhamdulillah produksinya terus meningkat. Pemasarannya juga tidak hanya wilayah Purwokerto saja, tapi lewat media sosial kami sudah pasarkan ke luar kota seperti Jakarta,” ujar dia.

Wildan menambahkan, ide awal dari usaha penjualan kopi ini berawal untuk meningkatkan kualitas para santri. “Kyai ingin selain mengaji, kualitas santri juga dapat ditingkatkan lewat jalur berdagang seperti ini,” kata dia.

Kini agar kopi santri tersebut bisa diterima oleh masyarakat lebih luas lagi. Maka Wildan dan para santri mengganti brand menjadi Kopi Bani Nusantara. “Rasa dan kualitas tetap sama dan kami jaga,” ujar dia.

Wildan memilih kopi lokal Banyumas dan dipadukan dengan gula semut organik. Alasannya, agar kopi memberi banyak manfaat saat dinikmati, apalagi dengan gula semut organik yang sudah memiliki sertifikasi internasional. “Untuk gula semutnya sendiri sudah ekspor juga ke berbagai negara, jadi kualitasnya sudah tak perlu diragukan lagi,” kata dia.

Menurut Wildan, sangat disayangkan jika Banyumas sebagai penghasil gula semut organik namun warganya sendiri jarang sekali menikmati gula semut. Padahal, perpaduan kopi dan gula semut ini memberikan cita rasa yang sangat khas. “Kami ingin menghadirkan cita rasa yang khas dan mengangkat lokalitas Banyumas melalui KBN ini,” katanya.

Pemasaran KBN pun kini bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al Hidayah Karangsuci. “Kami bekerjasama dengan RMI NU Banyumas untuk memasarkan KBN. Sehingga KBN juga bisa dinikmati di Pondok Pesantren Al Hidayah,” ujar dia.

Keberadaan KBN, kata Wildan, adalah bagian dari upaya santri untuk belajar wirausaha dan mandiri. “Tugas utama santri adalah mengaji, namun KBN ini adalah bagian dari pelajaran para santri untuk mandiri di kemudian hari,” katanya saat dihubungi Satelitpost.

Wildan belum mematok target produksi secara signifikan, namun dalam sebulan sekitar 500 hingga seribu saset KBN siap seduh tersedia. KBN pun juga dipasarkan secara daring melalui media sosial. Alhasil, kopi robusta Banyumas ini sampai ke luar kota seperti Semarang hingga Jakarta.

Hasil dari penjualan KBN ini digunakan untuk beasiswa para santri yang ingin menimba ilmu di pondok pesantren. “Banyak yang ingin nyantri, namun terkendala biaya. Sehingga sebagian dari hasil penjualan KBN memang kami alokasikan untuk beasiswa para santri,” ujar Wildan.

Ke depan, Wildan mengaku siap jika ada pihak yang mengajaknya berkolaborasi dalam memasarkan KBN. “Tentunya kami juga berharap ada support dari pengusaha maupun pemerintah daerah untuk memajukan kopi lokal. Kami siap berkolaborasi,” ujar dia.

 

Bisnis Kekinian yang Menjanjikan

Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyumas, Titien Widiastuti mengatakan pertumbuhan hotel dan restoran sangat pesat dalam beberapa waktu terakhir.

“Karena Purwokerto ini kota yang sedang berkembang, maka hotel dan restoran pun bertambah setiap tahunnya. Tingkat huniannya pun sangat meningkat seiring dengan market wisatanya” ujar dia.

Satu hal yang tengah jadi tren baru adalah menjamurnya kedai kopi di kabupaten Banyumas. “Ada ratusan kedai kopi di Banyumas dan menyajikan kopi lokal maupun dari luar daerah. Ini jadi hal yang sangat unik, jika dikelola dengan baik bisa menjadi potensi wisata tersendiri,” kata dia.

Sementara itu General Manager Meotel Purwokerto by Dafam Andre H Binawan mengatakan saat ini pihaknya mendukung penuh perkembangan kopi lokal. Andre mengatakan, kopi di dunia perhotelan Indonesia itu sudah monopoli oleh illy, yakni perusahaan kopi brand dari Italia. “Padahal, biji kopinya itu dari Indonesia. Coba, kita ekspor biji kopi keluar, tapi diolah dan dijual kembali ke kita. Sangat disayangkan kalau kita punya potensi lokal bagus jika tidak terkelola,” katanya.

Ia menambahkan, sebagai dukungan nyata terhadap kemajuan UMKM, kini seluruh hotel Dafam sudah mulai menggunakan kopi lokal dari provinsi Jawa Tengah. “Sudah dua bulan ini kami menggunakan kopi dari hasil binaan UMKM Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. Banyak tamu kami yang suka, terutama dari luar Jawa. Ternyata kopi kita tidak kalah dengan kopi Gayo. Tidak kalah mantapnya,” ujar dia.

Menurut Andre, kualitas kopi Banyumas itu sangat bagus. Dengan banyaknya fenomena warung kopi, sangat disayangkan kalau tidak disertai pelatihan barista yang mumpuni dan packaging yang menarik. “Banyak teman-teman UMKM yang masih terkendala perihal izin edar dari BPOM. Karena kalau mau masuk ke hotel itu kan minimal harus ada izin dari BPOM dulu. Nah kami melihat masih banyak para pelaku UMKM yang belum mendaftarkan izin kopi ke BPOM dan packaging yang sesuai standar,” ujar dia.

Andre menyayangkan pasar kopi lokal Banyumas belum tergarap dengan maksimal. Padahal potensi itu cukup besar jika melihat pertumbuhan wisata di kota satria. “Kami sebagai pelaku wisata sangat mendukung pengembangan kopi lokal. Tapi tentunya untuk kopi lokal area Banyumas masih banyak support dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah setempat,” kata dia.

Menurutnya kabupaten Banyumas seolah seperti kota raksasa yang sedang tertidur. “Banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk memajukan UMKM dan pariwisata, tapi sayang sekali kabupaten ini seperti tertidur dan tidak mengelola potensi yang ada dengan maksima. Apalagi terkait kopi ini, kami sebetulnya sangat mendukung penuh UMKM yang ada di wilayah Banyumas khususnya,” kata dia.

Sebagai bagian dari dukungan Meotel Purwokerto by Dafam untuk UMKM, pihaknya akan menggelar festival kopi dan pencanangan Hari Kopi Nasional. “Kami berencana akan membuat rekor dunia dengan acara festival kopi. Ini adalah bagian dari upaya nyata kami dalam mendukung UMKM kopi lokal,” katanya.

Andre berharap, ke depan produktivitas kopi lokal bisa lebih ditingkatkan lagi, terutama di wilayah kabupaten Banyumas. “Semoga akan ada sinergi dari pemkab dan komunitas beserta dunia perhotelan untuk membangun kembali geliat UMKM kopi di Banyumas. Berhubung saat ini produktivitas kopi di Banyumas belum memenuhi, kami menggunakan kopi yang berasal dari daerah Temanggung hingga Wonosobo. Tapi saya yakin, kopi lereng gunung slamet juga layak untuk dijadikan komoditas lokal unggulan,” kata dia.

 

Produksi Belum Memenuhi Pasar

Kedai Kopi Kebon. SATELITPOST/DYAH SUGESTI

Meski demikian, sayangnya produksi kopi lokal belum bisa memenuhi pasar lokal. Owner Kopi Kebon, Benny Indrawan mengatakan kebutuhan kopi pada setiap kedai, rata-rata satu kilogram. Sementara jumlah kedai kopi di area Banyumas saja di kisaran 100 hingga 200 kedai kopi. Artinya,  kebutuhan kopi seluruh kedai di Banyumas dalam satu hari membutuhkan sekitar 200 kilogram kopi.

“Sementara, produksi kopi yang memenuhi standar belum sampai satu ton dalam setiap bulannya,” kata Benny.

Ia menambahkan, kendala banyak terjadi di bagian hulu. Pasalnya masih banyak petani yang belum teredukasi untuk melakukan penanaman dan panen yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. “Kualitasnya belum memenuhi kebutuhan pasar. Misalnya masih hijau sudah dipetik, jemurnya di tanah, penyimpanan yang kurang tepat,” ujar dia.

Benny dan komunitas pegiat kopi berharap, pemerintah kabupaten Banyumas memberikan support di bagian hulu dan edukasi ke semua lini masyarakat. “Kopi robusta Banyumas punya rasa yang khas. Kalau produksinya bisa memenuhi pasar lokal saja, tentunya ini adalah potensi yang sangat bagus. Karena permintaan pasar sendiri juga tinggi, nantinya serapan kopi petani jadi naik,” ujar dia.

Sejauh ini produksi kopi lokal dengan proses pengolahan yang belum memenuhi standar mencapai lima ton. Kopi bubuk ini yang sering dijual di pasar tradisional. “Kalau tidak sesuai standar, tentu sangat berpengaruh pada rasa. Ini sangat disayangkan, karena jika penanaman dan panen kopi sudah sesuai standar dan kualitasnya bagus, tentu akan berpengaruh juga pada harga jual kopi,” katanya.

Benny menambahkan, kabupaten lainnya seperti Purbalingga dan Banjarnegara kini tengah berbenah menyajikan kopi lokal dengan kualitas yang terjaga. “Untuk produktivitas dan kualitas saat ini kita masih kalah dengan Purbalingga dan Banjarnegara yang pemerintah daerahnya sangat support dan juga gencar,” ujar dia.

Namun sejauh ini ia menilai UMKM kopi memiliki perkembangan yang cukup siginifikan. Pasalnya Benny yang juga merupakan roastery ini seringkali mendapatkan pesanan roasting langsung dari UMKM kopi. “Kalau bicara tentang kopi, masa depannya masih cerah, permintaannya pasti tinggi. Karena kopi ini kan komoditas dunia terbesar setelah minyak. Jadi malah bukan beras, tapi kopi. Dan ini sudah sejak dari dulu banyak yang tahu kalau kopi kita kopi Indonesia adalah kopi terbaik,” katanya.

Menjamurnya kedai kopi di wilayah Purwokerto, menurut Benny tak bakal membuat pasar jadi jenuh. “Kopi itu kan sudah bagian dari gaya hidup. Kalau kedai kopi sendiri, itu lain cerita. Tinggal bagaimana karakter sebuah kedai kopi itu sendiri agar bertahan di tengah persaingan. Tentu tiap kedai kopi punya karakternya masing-masing,” kata dia.

Menyoal kopi lokal, Wakil Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono mengatakan pemkab Banyumas siap memfasilitasi. “Kalau soal anggaran, tentunya tidak bisa instan. Kita mesti belanja masalah dulu, kemudian bertemu untuk membicarakan potensi kopi lokal Banyumas ini dengan serius. Support apa yang sangat dibutuhkan untuk industri kopi lokal, kami siap memfasilitasi,” katanya saat dihubungi Satelitpost.

Pria yang akrab disapa Dewo ini menyebut, industri kopi lokal Banyumas adalah potensi yang sangat bagus untuk dikembangkan. “Kita perlu koordinasi lebih lanjut dengan berbagai instansi terkait seperti dinas pertanian untuk melakukan pendataan. Kalau soal fasilitasi tentu saja kami siap,” ujar dia.

Dewo mengatakan, sebelumnya pernah terlintas ide penyebutan secara menyeluruh untuk kopi Banyumas, yakni kopi lereng Gunung Slamet. “Ini sangat bagus dan tentunya bisa jadi produk unggulan yang khas. Langkah selanjutnya kami tunggu komunitas kopi untuk merapat agar kami jadi mengerti kira-kira support apa yang akan dibutuhkan,” ujar dia.

Geliat UMKM Kopi

Sementara itu, Konsultan PLUT KUMKM Provinsi Jateng di Banyumas, Kuswoyo mengatakan produktivitas kopi Banyumas untuk saat ini memang belum bisa memenuhi pasar lokal. “Kebutuhan kedai kopi itu kan berbeda dengan kopi lokal yang ada di pasar tradisional. Kalau kedai kopi menggunakan kopi petik merah dan kualitasnya rata-rata premium. Paling tidak minimal 100 kilogram setiap bulannya, itu masih kurang,” kata dia.

Meski demikian, UMKM kopi setiap tahunnya selalu bergeliat dan bertambah. “Tahun ini saja bertambah 10 UMKM yang sudah masuk database kami. Kalau ditotal ada sekitar 20 UMKM yang memasarkan kopi lokal Banyumas raya. Jadi tidak hanya terfokus di kabupaten Banyumas saja, namun banyak juga UMKM dari kabupaten lain seperti Purbalingga dan Banjarnegara yang juga mulai berkembang,” ujar dia.

Menurutnya potensi kabupaten Banyumas masih sangat bisa dikembangkan dengan potensi kopi robusta. “Sekarang ini orang-orang berlomba cari potensi lokal. Sehingga jika dikembangkan lagi tentu sangat bisa. Apalagi melihat perkembangan hotel dan restoran di kota Purwokerto yang terus bertambah setiap tahunnya. Ke depan potensi seperti inilah yang kemudian juga membuat UMKM kopi kian maju,” ujar dia.

Kuswoyo tak menampik jika peminat kopi Banyumas sendiri cukup banyak. Malahan rata-rata dari luar daerah. “Kopi Banyumas ini brandingnya sudah kuat, banyak yang mencari kopi gunung Slamet. Hanya saja sayangnya masih lemah di produktivitas. Malahan pasar lokalnya bisa dibilang sama sekali belum tersentuh,” katanya.

Menurut Kuswoyo, budidaya kopi di Banyumas perlu dikembangkan lagi. “Kopi Banyumas itu sudah punya karakter sendiri. Kalau dikembangkan dan produktivitasnya bagus, ini akan menjadi potensi yang luar biasa,” ujar dia. Tak hanya sadar akan pengembangan dan produktivitas saja, UMKM kopi di Banyumas juga memiliki kesadaran untuk mendaftarkan PIRT.

Bahkan jika UMKM ingin memperluas jangkauan pasarnya, pihaknya siap memfasilitasi UMKM untuk segera mendapatkan izin dari BPOM. “Ada yang sudah dan ada juga yang belum, tapi rata-rata sudah memiliki PIRT. Inisiatif dan kesadaran UMKM untuk keamanan pangan cukup tinggi, apalagi jika konsumen menanyakan izin edar produk mereka,” katanya.

Kuswoyo sendiri berharap dengan perkembangan dan pertumbuhan UMKM Banyumas, khususnya kopi, kesadaran para pelaku usaha kian meningkat dalam mendaftarkan izin edarnya. “Kami akan terus dorong melalui berbagai pelatihan yang pada akhirnya tiap pelatihan ini memberikan fasilitasi langsung pada pelaku UMKM untuk mendaftarkan izin edar. Minimal untuk kopi karena bentuknya adalah bubuk, ya PIRT,” kata dia. (Dyah Sugesti)