TELOR Puyuh asin hasil inovasi Afif Majid Abdullah.SATELITPOST/ALFIATIN

Menjadi seorang guru, kebanyakan sudah menjadi cita-cita sejak kecil. Mimpi dan keinginan seorang untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

Tapi, terkadang, mimpi yang terus diperjuangkan, demi memberikan pendidikan terbaik bagi generasi penerus tidak sebanding dengan tingkat kesejahteraan.‎ Seperti yang dialami seorang guru honorer di satu sekolah di Kroya, Cilacap, Afif Majid Abdullah (24).

Mengabdi sebagai guru honorer, setiap bulan Afif digaji dengan nominal yang sangat minim. Jauh dari standar Upah Minimum Kabupaten (UMK). Tapi meski demikian, tak membuatnya menyerah dan berhenti untuk mendidikan generasi penerus bangsa.

Afif justru mencari-cari peluang-peluang usaha yang bisa ia lakukan sembari menjalani profesinya sebagai seorang guru. Satu di antaranya dengan membuat pangan olahan dari telur.

Kebetulah Afif memang menggemari burung puyuh. Sehingga dirinya telah sejak lama berternak burung jenis tersebut. Ternak tersebut, biasanya ia ambil hasil telurnya dan dijual dalam keadaan mentah, tanpa pengolahan.

Semakin hari, beban hidup semakin banyak. Belum lagi, keperluan pembelajaran dan operasional yang masih belum bisa ditutupi dengan honor yang diterimanya. Rasa syukur tidak pernah bosan ia panjatkan. Keadaan tersebut justru membuatnya mendapat inspirasi untuk berbisnis lainnya.

Sekitar tahun 2016, ia mulai mera‎sa bosan menikmati telur puyuh dengan cara biasanya. Ia pun mulai mencari-cari inovasi cara memakan telur puyuh dengan cara yang lain. “Coba buka-buka sosial media, akhirnya dapat ispirasi buat telur puyuh asin. Pertama launching alhamdulillah dapat reapon positif, akhirnya terus dilanjut,” katanya.

Afif mengatakan, inovasi yang dilakukannya bermula sekadar mengantisipasi harga telur mentah yang naik turun. Harga yang tidak pasti terkadang membuatnya tidak mendapatkan untung.

Setelah melihat peluang pasar telur puyuh asin, selain menjual telur puyuh mentah, juga menjual telur puyuh asin. ‎”Karena bisnis tidak memakan banyak waktu, artinya tidak harus standby dan bisa sembari melakukan pekerjaan lainnya,” katanya.

Telur puyuh asinnya, bahkan saat ini sudah dipasarkan sampai Pekanbaru, Jambi, Tulungagung, dan Cikarang. ‎Bukan hal mudah mengenalkan sebuah cara menikmati makanan yang terbilang baru. Dan Afif mengaku ingin‎ menjadikannya sebagai oleh-oleh khas Kroya.

Sampai saat ini, bahkan di daerah Cilacap menurut dia, belum ada yang menjual telur puyuh asin sepertinya. Kebanyakan orang masih menikmati telur asin bebek atau ayam, atau telur puyuh seperti biasanya.

“Pinginnya jadi oleh-oleh khas, dan bisa dinikmati semua orang. Karena enak untuk camilan. Juga enak untuk teman makan,” kata dia.

Ia menjual dalam dua kemasan. Mulai kemasan isi 10 butir telur yang hanya dibanderol Rp 5 ribu, dan kemasan isi 20 yang dibanderol Rp 10 ribu saja. (alfiatin)