Mengapa pertumbuhan bank syariah tidak pernah sesuai terget yang dicanangkan oleh pemerintah?

Alia Nurani , mahasiswa IAIN Purwokerto

Jawaban :

Terima kasih atas perhatian mba Alia di IAIN Purwokerto. Pertanyaan itu juga menjadi PR besar bagi seluruh pelaku terutama praktisi bank syariah di Indonesia. Jika dengan hitungan parameter jumlah penduduk muslim terbesar di dunia adalah aneh bahwa pertumbuhan bank syariah di Indonesia masih di bawah angka 5%. Pertumbuhan agak terbantu dengan masuknya bank Aceh dikonversi menjadi bank syariah membuat pertumbuhan bank syariah sedikit naik dari angka 5%.

Berbagai penelitian sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengetahui hambatan yang membuat pertumbuhan bank syariah sangat lambat. Ada beberapa faktor yang menurut beberapa penelitian itu menjadi hambatan. Faktor-faktor itu diantaranya adalah :

  1. Keterbatasan sumber daya manusia.
  2. Jaringan kantor yang masih sedikit
  3. Masyarakat masih menganggap bank syariah bersifat ekslusif hanya untuk yang sudah memahami agama Islam dengan sangat baik.
  4. Bank syariah masih dianggap sama dengan bank konvensional
  5. Edukasi dan sosialisasi pada masyarakat yang masih kurang
  6. Bank syariah lebih mahal dari pada bank konvensional
  7. Bank syariah terkesan ribet dan membingungkan

Dari ketujuh faktor tersebut penulis lebih fokus kepada faktor ke enam yaitu mahalnya produk-produk bank syariah dibanding dengan produk sejenis di bank konvensional.

Faktor mahalnya produk bank syariah disebabkan karena size yang masih kecil membuat bank syariah masih memiliki sumber dana murah yang sangat terbatas. Padahal kunci mahal dan murahnya produk perbankam sangat dipengaruhi oleh sumber dana yang diolah pada industri tersebut.

Disamping sumber dana, evisiensi juga masih belum bisa dioptimalkan pada industri perbankan syariah mengingat banyaknya strategi baru yang harus digulirkan perbankan syariah untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat yang menuntut bank syariah tidak kalah dengan bank konvensional dari semua segi baik teknologi, layanan, jenis prodak dan lain-lain. Upaya ini tentu membutuhkan cost besar dan tidak mudah dihindari oleh industri perbankan syariah.

Dari ilustrasi di bawah  ini akan  ada gambaran konkrit tentang sulitnya masyarakat menerima “kemahalan produk perbankan syariah”. Seorang ibu Haji pengusaha toko besi merupakan tokoh agama yang cukup disegani karena kedermawanan dan pengetahuan beliau tentang ajaran agama Islam. Tapi dalam berbisnis tidak menjadi menarik bagi beliau ketika suatu ketika bu haji membutuhkan dana untuk pembelian besi baja sekian puluh ton. Dengan hitungan yang paling murah menurut hitungan perbankan syariah, seorang marketing bank syariah sudah detail menerangkan tentang produk bank syariah, karena beberapa hal yang memang dibedakan, di bank syariah untuk menghindari riba.

Tapi bu Haji tetap akan membandingkan harga bunga pertahun yang ditawarkan oleh bank konvensional, meskipun beliau sudah paham dengan konsekuensi bunga tapi karena hitungan angka manusia tetap “terlihat”  lebih murah, maka bu haji pun tetap memilih bank konvensional.

Jadi menurut hemat penulis, jika harga jual bank syariah bisa sejajar dengan bank konvensional saat itulah nasabah baru akan memilih bank syariah. Karena bagi nasabah, bunga adalah urusan akherat mereka, bukan urusan pegawai bank syariah. Bagaimana, menurut mba Alia yang masih mahasiswa, teruskan tulisan ini jadi skripsi rasanya hasilnya akan cukup menarik. Demikian meskipun tidak begitu serius semoga ulasan ini bisa sedikit membantu. Salam.(*)