PEDAGANG menata cabai rawit merah di Pasar Wage Purwokerto beberapa waktu lalu.SATELITPOST/ANANG FIRMANSAH

PURWOKERTO, SATELITPOST-Badan Pusat Statistik (BPS) Banyumas, mengeluarkan rilis inflasi Purwokerto selama tahun 2017, yakni 3,91 persen year on year (yoy). Sedangkan target inflasi sebesar 4,5 persen +/-1.

Demikian dikatakan Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Fadhil Nugroho, kemarin (3.1). Menurutnya, angka tersebut masih sesuai target.

Meski demikian diakuinya, Purwokerto merupakan kota penyumbang Inflasi terbesar ke empat di Jawa Tengah, dan terbesar ke tiga di wilayah eks-karisidenan Banyumas setelah Cilacap dan Tegal.

Inflasi Purwokerto pun meningkat dibanding tahun lalu yang hanya 2,42 persen. Dari data tersebut kata dia, tergambar juga bahwa selama 2017 inflasi Purwokerto lebih banyak disumbang oleh kelompok administered price (8,33%) diikuti kelompok inti (3,12%) dan volatile food (0,42%).

“Inflasi Purwokerto sepanjang tahun 2017 lebih banyak didorong oleh komoditas administered price seperti listrik, bensin, dan terlebih kenaikan biaya STNK di awal tahun 2017,” kata Fadhil.

Beras Masih Jadi Penyumbang Inflasi

Selain dari komoditas administered price, komoditas volatile food juga perlu diwaspadai untuk 2018 ini. Menurutnya, beras dan bumbu-bumbu kemungkinan kuat masih memberikan sumbangan terhadap inflasi.

“Walaupun komoditas volatile food tidak terlalu banyak menyumbang inflasi, sebaiknya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tetap waspada. Apalagi untuk tahun ini, sektor komoditas seperti beras dan bumbu-bumbuan kemungkinan akan cukup kuat dalam memberikan sumbangan terhadap inflasi,” kata Fadhil.

Dalam data bulan Desember 2017, komoditas penyumbang inflasi terbesar masih berasal dari kelompok volatile food  sebesar 1,92 persen meliputi beras 0,15 persen, diikuti telur ayam ras 0,13 persen, daging ayam ras 0,08 persen, cabai merah, kacang panjang, terong panjang, cabai rawit, dan cabai hijau.

Ia pun mengimbau supaya pemerintah daerah memantau ketat pergerakan harga komoditas dan juga mengupayakan ketersediaan suplai komoditas. “Awal tahun 2018 ini tetap memantau pergerakan harga komoditas, baik itu melalui melalui intensifikasi dan ekstensifikasi supaya suplai di lapangan tetap tersedia,” katanya. (cr)