KIDANG hasil buruan di lereng gunung slamet, diperkirakan usianya belum menginjak 1 tahun.

Muntiacus muntjak, biasa dikenal dengan nama kijang, atau dalam bahasa lokal kidang, menjangan, sudah jarang ditemui pendaki Gunung Slamet. Celakanya, rusa jawa yang merupakan satwa dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 jadi favorit para pemburu.

 

Seorang pemburu asal Kecamatan Kutasari mengungkapkan, dalam satu bulan 2-5 kijang tertangkap. Pelakunya tidak lain pemburu yang tinggal di desa kaki Gunung Slamet, wilayah Purbalingga.

 

Pemuda yang enggan disebutkan namanya itu mengungkapkan, ada warga lokal yang ahli menjerat binatang bertanduk pendek tersebut. Dia pun kerap menemani tamu pemburu dari luar daerah. “Nggak rutin juga dia berburu, kadang sendiri, kadang ada tamu, atau rekan sesama pemburu di eks Karesidenan Banyumas,” katanya, Kamis (9/5).

 

Berburu rusa jawa, menurut pengakuannya susah dilakukan. Medan yang ditempuh sejauh dua jam perjalanan memasuki hutan heterogen lereng Slamet yang berada di Igir Utara Pancuran Pitu Baturaden.

 

Trik-trik khusus harus dilakukan agar mendapatkan hasil. Waktu perburuan pun cukup lama, hingga dua hari. Hari pertama, pemburu menggiring anjing dari atas igir agar kidang turun ke wilayah hutan Perhutani.

 

Besoknya, si pemburu tersebut sudah tahu tempat-tempat dimana kidang beristirahat. Atau jika tidak, dia mencari informasi dari warga di wilayah mana kidang turun melintas.

 

Lanjutnya, trik lain saat berburu, terutama waktu nyanggong, pemburu memutar perekam suara berisi suara kidang. Suara itu biasa disebut “pipit kidang” untuk memanggil kidang liar yang tengah birahi.

 

“Kalau sudah turun, tinggal diburu pakai Senapan Gejlug modifikasi ukuran peluru 4,5 mm. Bisa dengan nyanggong (menunggu di suatu tempat) atau mencari jejak tapak dan penciuman bau oleh anjing terlatih,” katanya.

 

Pemburu tersebut jarang membawa satu tubuh utuh, biasanya sudah dipotong-potong dari atas untuk nanti dijual. Satu ekor kidang biasanya dihargai Rp 700 ribu, sedangkan daging potongan seperti kaki dijual sekitar Rp 200 ribu. “Daging kidang dikenal sebagai daging abangan, kalau celeng daging ireng. Dikenalnya seperti itu kalau dijual,” ujarnya.

 

Dengan hasil buruan 2-5 ekor setiap bulan, dia mengakui laju penurunan populasi kidang dipastikan menurun drastis. Bersamaan dengan binatang liar lain yang juga tak luput dari buruan seperti trenggiling, musang, biawak, lutung, ayam alas, dan celeng. (Cr3)