PETUGAS Museum Wayang Banyumas menunjukan wayang Kidang Kencana yang menjadi koleksi tertua di museum ini.

Berbeda dengan ukuran wayang kulit lainnya, Wayang Kidang Kencana didesain memiliki ukuran yang lebih kecil. Wayang Kidang Kencana diyakini lebih nyaman untuk dimainkan oleh sang dalang.

 

Dalam wujudnya, ‎wayang yang diciptakan oleh Sinuwun Tunggul Giri, yang tidak jelas dimana letak kerajaannya, pada tahun 1556 atau 1478 Caka ini sangatlah unik. Bahan wayang terbuat dari kulit kerbau dan tanduk kerbau. Rambut pada wayang perempuan dibiarkan terurai, memakai kalung, anting-anting, dan gelang di lengan atas yang disebut kelat bahu. Sedangkan untuk wayang laki-laki menggunakan pakaian seperti pangeran keraton. Para dewa, kera, dan raksasa menggunakan kain yang digulung di atas seperti arca-arca dari batu tempo dulu.

 

Pakaian yang dikenakan tokoh dalam pewayangan ini berwarna kuning selayaknya dari emas. Bahkan konon, zaman dahulu wayang ini memang dilapisi dengan emas. Karena kemewahannya inilah maka wayang ini disebut Wayang Kidang Kencana.

 

Wayang yang menjadi cikal bakal bentuk asli dari wayang kulit Gagrag Banyumas tempo dulu ini tersimpan rapi di Museum Wayang Banyumas yang berada di kompleks Pendapa Kota Lama Banyumas.

 

Dari cerita yang diperoleh pengelola museum, Wayang Kidang Kencana yang menjadi satu di antara koleksi museum ini sudah ada sejak museum tersebut  berdiri sekitar tahun 1983. Wayang Kidang Kencana merupakan sumbangan dari seorang bergelar haji yang memiliki wayang tersebut secara turun temurun.

 

“Wayang ini menjadi koleksi tertua museum. Konon, wayang kidang kencana termasuk kategori wayang langka,” kata Trijono Indra, petugas Museum Wayang Banyumas.

 

‎Keunikan dan ukuran yang pas (tidak terlalu besar maupun kecil) membuat wayang tersebut banyak dimainkan oleh pedalang wanita atau dalang anak. Sedangkan cerita dalam Wayang Kidang Kencana hampir sama dengan cerita pada wayang purwa lainnya yaitu cerita Mahabharata dan Ramayana yang tak terlepas dari pengaruh Hindu pada zamannya.

 

Selain Wayang Kidang Kencana, museum Wayang Banyumas juga memiliki koleksi wayang lainnya yang berjumlah sekitar 400- 500 wayang, di antaranya wayang punakawan pakeliran Banyumasan dan Cirebonan; wayang pandawa pakeliran Yogyakarta, Banyumasan, dan Bali; wayang golek purwa dan menak; wayang potehi dari Cina; wayang krucil serta wayang suluh yang menceritakan tentang perjuangan NKRI.

 

“Koleksi lainnya ada ‎seperangkat gamelan yang dibuat pada tahun 1930 sumbangan dari Bupati Djaring Bandajuda, koleksi berbagai pusaka mulai keris, tombak dan sebagainya juga foto-foto Banyumas tempo dulu,” kata Trijono.

 

Untuk melihat koleksi yang tersedia, pihak pengelola museum memberlakukan tiket kepada pengunjung hanya sebesar Rp 1000.  Meski lebih murah dari bea parkir di kawasan perkotaan, museum wayang ini terbilang cukup sepi pengunjung. Pada kesempatan weekend pun menurut pengelola hanya ada beberapa gelintir saja pengunjung yang datang. Padahal, museum ini dapat menjadi literasi yang bagus bagi generasi muda untuk melestarikan satu diantara budaya Jawa berupa wayang kulit. (triono yulianto)