Komunitas Gerakan Citanduy Lestari (GCL)

Sungai merupakan sumber daya air yang memiliki andil besar dalam kehidupan dengan keanekaragaman hayati. Masyarakat kita memanfaatkannya sebagai sumber nafkah dan aktivitas sehari-hari. Seperti mandi, cuci, kakus (MCK).

Namun apa yang terjadi jika sungai yang memiliki banyak manfaat rusak karena kuranganya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Isu-isu tersebut yang membuat beberapa penggerak lingkungan mulai berinisiatif menyelamatkan, menjaga, dan mengajak masyarakat untuk bersama sama mengelola lingkungan.

Gerakan Citanduy Lestari (GCL) merupakan sebuah gerakan lingkungan yang terdiri dari berbagai organisasi dan komunitas di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Citanduy dengan tujuan pelestarian DAS Citanduy. Dibentuk sejak 16 Januari 2016, gerakan ini bermula dari keprihatinan terhadap kondisi DAS Citanduy yang buruk (erosi, sedimentasi, banjir, tanah longsor, sampah dan lain lain).

Komunitas Gerakan Citanduy Lestari (GCL)

“Berawal dari belasan orang. Dari kawan-kawan Komunitas Gerakan Save Our Nusakambangan Island yang berfokus ke Nusakambangan dan Segara Anakan saja atau di hilir. Sedangkan supaya terintegrasi, kita harus bisa bersinergi dari yang di tengah maupun di hulu, sehingga dibentuklah sebuah wadah yang dinamai Gerakan Citanduy Lestari,” kata Penggerak Gerakan Citanduy Lestari, Agus Kusmawanto.

Perlu diketahui  DAS Citanduy sendiri membentang dari Tasikmalaya, Jawa Barat dan berhilir di Cilacap, Jawa Tengah. Dimana sedimentasi masih menjadi salah satu masalah utama di DAS Citanduy. Hal tersebut membuat Laguna Segara Anakan menjadi semakin dangkal dan menyempit sehingga produktivitas perairan menjadi turun yang berakibat pada kerugian yang dialami oleh para nelayan di Segara Anakan.

Komunitas Gerakan Citanduy Lestari (GCL)

“Ada juga yang dari Jerman memetakan penurunan bentang lahan di Segara Anakan yang dulunya didominasi perairan. Terutama setelah terjadi pendangkalan paska Gunung Galunggung meletus dan makin ke sini banyak hutan beralih ke lahan pertanian maupun permukiman. Sedimentasi semakin cepat hingga mencapai 1 juta kubik sedimen per tahun, material-material termasuk sampah yang ketumpuk dengan lumpur,” ujarnya.

Selain terus berupaya melakukan bersih sampah serta mengajak masyarakat yang tinggal di daerah aliran DAS Citanduy untuk peduli dengan lingkungan. Beberapa kegiatan yang pernah dilakukan Gerakan Citanduy Lestari meliputi kegiatan bersih sampah di kawasan hutan payau Segara Anakan (Juni 2017), bersih sampah di Klaces (Agustus 2017) yang merupakan bagian dari Segara Anakan, penanaman bibit pohon di Cimanggu dan di Pulau Nusakambangan (Desember 2017). Dan yang terbaru adalah ikut serta dalam kegiatan bersih pantai dan kampanye ecobrick bersama komunitas penggerak lingkungan lainya.

Menurut pria yang menempuh kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Fakultas Kehutanan tersebut berharap bisa semakin banyak pihak yang terlibat dalam GCL dan pihak pihak tersebut bisa bersinergi dengan baik. Kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang berkualitas semakin meningkat. Kegiatan restorasi lingkungan (restorasi hutan, pengelolaan sampah dan lain-lain)  bisa dilakukan dengan baik. (cr2)