FOTO-FOTO ISTIMEW

KERINDUAN akan kampung halaman dan tindak tanduk orang-orang di kampung halaman adalah kemewahan bagi perantau. Hal itu dirasakan oleh 12 orang perantau asal Purbalingga di Jakarta. Hasim, Toro, Sunar, Mistono dan delapan orang yang sudah menjalin komunikasi di Jakarta sepakat untuk bertemu di Monas, Jakarta. Mereka ingin membuat komunitas yang berisi orang-orang yang berasal dari Purbalingga.

 

Mereka sepakat menamai komunitas itu sebagai Paguyuban Perantau Purbalingga (Papeling). Berdirinya Papeling bersamaan dengan hari jadi kota Purbalingga, yaitu 18 Desember.

 

Sampai saat ini, Papeling sudah mengalami tiga kali kepengurusan. Ketua Umum Papeling saat ini, Wahyu Triono mengungkapkan bahwa anggota di dalam grup Facebook Papeling sejumlah 32.843 anggota. Sedangkan, anggota yang tercatat di dalam Papeling sebanyak 1.500-an anggota.

 

Wahyu menjelaskan bahwa Papeling dibentuk untuk menjalin silaturahmi dan berbagi kebermanfaatan perantau Purbalingga. “Prinsip kami adalah, sebaik-baiknya paguyuban adalah yang memberi manfaat positif untuk anggota dan masyarakat di sekitarnya,” katanya.

 

Untuk mewujudkan hal tersebut, Papeling memiliki banyak program. Untuk program sosial bagi anggotanya, Papeling membuat Shodaqoh Infaq Papeling (SIP) dan Gerakan Limangatus Perak Sedina Seporote (Gelissepor). Dana yang terkumpul dari program tersebut digunakan untuk membantu anggota yang membutuhkan bantuan yang sangat krusial.

 

“Alhamdulillah, program ini sudah berjalan satu tahun lebih. Dari program ini sudah terkumpul total dana sekitar Rp 100 juta. Puluhan anggota sudah menerima manfaatnya. Bagi anggota yang aktif dalam program ini, jika ia atau keluarganya sakit dan harus rawat inap, berhak mendapat santunan Rp 500 ribu,” katanya saat dihubungi SatelitPost melalui sambungan telepon.

 

Dalam usianya yang ke-6 tahun, Papeling menjalankan program Papeling Peduli Anak Yatim dan Dhuafa (P-PAYD) 2017 yang akan dilaksanakan di 40 desa di Purbalingga dengan jumlah santunan sekitar Rp 100 juta. “Kami juga rencananya akan berbagi dengan sedulur lainnya di Purbalingga yang kurang mampu. Dana P-PAYD 2017 sampai saat ini sudah terkumpul sekitar Rp 130 juta,” kata Wahyu.

Melihat seringnya terjadi bencana di Indonesia dan beberapa titik di sekitar Purbalingga, Papeling pun membuat program khusus jika sewaktu-waktu ada daerah di Purbalingga yang mengalami musibah atau bencana alam. Papeling Tanggap Bencana (Pegana) adalah program yang difokuskan untuk hal tersebut.

“Beberapa kali kami terjun seperti membantu proses evakuasi dan membantu pendistribusian sembako ketika terjadi bencana di Jakarta dan menyalurkan bantuan saat terjadi Bencana di Purbalingga, di Banjarnegara dan terakhir ketika terjadi banjir bandang di Garut,” kata pria asal Kecamatan Rembang itu.(cr)