Komunitas Camp Bebas Riba

Gaung serta gerakan bebas dari  riba semakin meluas di kalangan umat muslim secara menyeluruh. Di Purwokerto gerakan moral spiritual ini juga terus didengungkan mulai dari dakwah, pengajian, seminar, dan kegiatan lainnya.

Camp Bebas Riba ( CBR) adalah satu di antara komunitas yang sudah menasional yang terpusat di Kota Purwokerto. Komunitas ini sendiri baru dideklarasikan secara resmi dan berbadan hukum tetap sejak akhir tahun 2016 lalu.

Dipelopori oleh lima orang yang sudah sama-sama “hijrah” dari riba. Yani Hadiono, Nana Semba, Eric serta Toto dan Beny Saryanto, komunitas CBR ini akhirnya terbentuk. Tujuannya, untuk mengedukasi serta menyadarkan masyarakat dari ngerinya dosa riba.

“Dalam Islam sendiri definisi riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok maupun modal dalam akad tukar menukar atau pinjaman secara batil atau tidak sesuai dengan ajaran Islam. Di dalam Islam riba dalam bentuk apa pun dan dengan alasan apa pun dilarang oleh Allah Azza Wa Jalla sehingga hukum riba itu adalah haram,” kata Pembina Komunitas CBR, H Hadiono.

Menjadi komunitas yang konsen mendukung gerakan antiriba, komunitas CBR ini membawa misi dakwah menyebarluaskan pemahaman tentang riba dan membantu seseorang yang terjerat masalah dengan riba. Keberadaan komunitas ini juga sebagai tempat konsultasi sekaligus aduan bagi korban riba.

“Komunitas ini hadir berawal dari banyaknya keluhan terkait praktik riba, yang kemudian melalui semangat kepedulian umat muslim membantu saudaranya yang menjadi korban riba,” katanya.

Menurut Hadiono, riba yang tumbuh dari kapitalisme ini sangatlah jahat. Terbukti banyak kasus kriminal maupun bunuh diri yang permasalahan berawal dari utang riba.

“Diharapkan masyarakat terbuka hatinya terkait kerugian yang ditimbulkan jika melakukan praktik riba yang jelas dilarang agama,” ujarnya.

Kegiatan CBR

Selain dakwah yang dilakukan secara masif melalui media sosial. Komunitas CBR ini juga melakukan pendampingan dan advokasi kepada korban riba yang dilakukan dengan memberikan konseling. Melalui konsultasi hingga menjembatani penyelesaian masalah antara korban dan lembaga terkait.

“Syarat wajib mendapatkan bantuan dari komunitas CBR adalah, korban diwajibkan melakukan taubat nasyuha dan berjanji tidak akan mengulangi praktik riba dalam kehidupannya,” kata Ketua Umum CBR, Nana Semba.

Nana yang juga mantan pekerja di lembaga riba ini menyebut,‎ sejak komunitas CBR terbentuk sudah puluhan kasus yang berkaitan dengan riba dapat diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.

“Kasus yang paling banyak ditangani adalah pinjaman dengan rentenir, lembaga keuangan hingga leasing,” kata dia.

Selain pendampingan, kegiatan rutin lainnya dengan memperkuat tauhid atau keimanan masyarakat dengan menggelar camp selama dua hari satu malam di berbagai lokasi. Kegiatan camp ini rutin dilaksanakan setiap dua bulan sekali.

Camp ini biasanya diikuti masyarakat yang baru akan hijrah dengan bertobat dari praktik riba. Materinya lebih kepada pendalaman keimanan. Tujuannya agar masyarakat tercerahkan dan tidak kembali lagi melakukan praktik riba,” kata Nana.

Adapun kegiatan lainnya yakni solunar (solusi lunas utang riba) berbentuk seminar yang dilakukan rutin setiap seminggu sekali serta solusign (solusi signifikan lunas utang dan riba) yang dilakukan rutin 3 bulan sekali bagi para alumni yang telah mengikuti camp. Tujuannya, agar para alumni ini bisa menjadi kader untuk membantu masyarakat  di wilayahnya masing-masing yang bermasalah dengan utang riba. Semua kegiatan tersebut tanpa dipungut biaya alias gratis.

“Perlu diingat, di sini kami bukan mengajarkan masyarakat agar tak membayar utang, tapi justru kami mendorong korban riba untuk segera melunasi utang yang ditanggungnya dengan sejumlah cara. Misalnya dengan menjual aset yang dimiliki ataupun cara lainnya,” katanya.

Nana juga menegaskan, bantuan yang diberikan bukan dana untuk menalangi utang, namun fokus pada pendampingan penyelesaian masalah secara adil dan kekeluargaan antara kedua belah pihak. Tujuan hanya satu untuk membawa korban riba kembali ke jalan yang benar.

Sementara untuk kegiatan sosial, komunitas yang memiliki sekretariat di Jalan Pahlawan no 46X Tanjung Purwokerto ini secara rutin membantu kaum duafa. Melalui sumbangan anggota yang dikumpulkan melalui program One Day One Thausand (sehari seribu rupiah). Komunitas ini juga secara reguler menggelar pelatihan keterampilan rajut, hias mahar nikah untuk orang-orang yang masih terjerat riba agar bisa memanfaatkan keahlian tersebut untuk berwirausaha dengan tujuan membangun ekonomi umat demi kesejahteraan bersama.

Kini anggota komunitas CBR berjumlah lebih kurang 1.000 relawan yang terbagi di 27 korwil di Indonesia. Mereka berasal dari lintas usia dan profesi mulai dari mantan pekerja lembaga ribawi, pengusaha hingga rumah tangga. (rar)